Raja Isa: Bangladesh Bisa Jadi Batu Sandungan, Timnas Indonesia Wajib Waspada di Laga Penentuan
Baca dalam 60 detik
- Pengamat sepak bola Raja Isa memperingatkan Timnas Indonesia agar tidak meremehkan Bangladesh pada laga pamungkas Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK.
- Bangladesh menunjukkan tren positif dengan memperkecil kekalahan dari Malaysia (0-3) menjadi hanya 0-1 saat melawan Singapura.
- Indonesia dituntut menang dengan selisih minimal dua gol untuk mengamankan tiket final, sementara faktor Thomas Dooley disebut bisa menjadi ancaman tersendiri.

Jelang laga penutup Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia mendapat peringatan serius dari pengamat sepak bola Raja Isa Raja Akram Shah. Menurutnya, Bangladesh bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata, meski secara peringkat dan kekuatan di atas kertas jauh di bawah skuad Garuda. Duel yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (1/10/2026) malam, menjadi penentu nasib Indonesia untuk melaju ke final.
Raja Isa, yang pernah menangani klub Liga Super Bangladesh Muktijoddha Sangsad KC pada 2020-2023, menyoroti perkembangan performa Bangladesh dari pertandingan ke pertandingan. Setelah dihajar Malaysia 0-3, tim asuhan Thomas Dooley itu hanya kalah tipis 0-1 dari Singapura. Meski belum mencetak gol, grafik kebobolan yang terus menurun menunjukkan ada perbaikan signifikan dalam organisasi pertahanan mereka.
"Bangladesh datang dengan materi pemain muda. Mereka sedang membangun kekuatan baru di bawah asuhan Thomas Dooley. Progres mereka cukup bagus di turnamen ini," ujar Raja Isa.
Data menunjukkan Bangladesh merupakan skuad termuda di edisi perdana FIFA ASEAN Cup 2026 dengan rata-rata usia 25,7 tahun, disusul Pakistan (25,9). Menurut Raja Isa, hal itu wajar karena Bangladesh memang sedang menata fondasi jangka panjang. "Dengan pemain muda dan menghadapi Indonesia, Malaysia, serta Singapura, kekalahan mereka bisa dimaklumi. Ini konsekuensi dari proses pembangunan tim," tambahnya.
Meski mengakui kualitas Timnas Indonesia di atas Bangladesh, Raja Isa menilai motivasi pemain Bangladesh akan berlipat saat menghadapi tuan rumah. "Kekuatan kedua tim sangat timpang, tapi itu bukan jaminan Indonesia mudah menang. Jika tidak hati-hati, Bangladesh bisa menjadi batu sandungan," tegasnya.
Faktor Thomas Dooley juga menjadi sorotan. Pelatih asal Amerika Serikat itu pernah membesut Filipina dan mencatat kemenangan atas Indonesia di Piala AFF maupun laga uji coba. "Dengan rekam jejak itu, Dooley pasti termotivasi mengulang prestasi. Ini bisa menyulitkan Indonesia," ucap Raja Isa.
Beban berat kini ada di pundak pelatih Timnas Indonesia, John Herdman. Tidak cukup hanya meraih kemenangan, Indonesia juga dituntut menang dengan margin gol yang cukup untuk menyalip Malaysia di klasemen. "Agregat gol Indonesia masih di bawah Malaysia. Kalau tidak salah, harus menang di atas dua gol. Jadi pemain tidak boleh merasa mudah mencetak gol banyak," jelas Raja Isa.
Laga ini menjadi ujian mental dan taktik bagi Timnas Indonesia. Dukungan penuh dari suporter di SUGBK diharapkan menjadi energi tambahan, namun juga bisa menjadi beban jika pemain tidak mampu mengelola ekspektasi. Bangladesh, dengan status tanpa beban, berpotensi tampil lepas dan merepotkan.
Jika Indonesia gagal memenuhi target gol, bukan tidak mungkin langkah mereka terhenti. Sebaliknya, kemenangan meyakinkan akan menjadi modal berharga menuju partai puncak. Akankah Timnas Indonesia mampu mengatasi tekanan dan membuktikan kelasnya di hadapan publik sendiri?



