Wozniak: AI Bikin Orang Jatuh Cinta pada Chatbot, Lupa Punya Anak
Baca dalam 60 detik
- Pendiri Apple, Steve Wozniak, memperingatkan bahwa keterikatan emosional pada chatbot dapat menurunkan keinginan memiliki anak, memicu perdebatan etika AI.
- Analis Gene Munster memprediksi dalam setahun ke depan, bot AI personal akan mengejutkan pengguna biasa, dengan kurang dari 1% populasi AS yang memahami potensinya.
- Studi Northeastern University mengonfirmasi pengguna mengembangkan ikatan emosional intens dengan AI, sementara regulator dan perusahaan teknologi berlomba memperkuat pengamanan agen otonom.

Pendiri Apple, Steve Wozniak, menyoroti sisi gelap kecerdasan buatan (AI) dengan peringatan bahwa manusia bisa tergantikan bukan karena kekalahan intelektual, melainkan karena kehilangan hasrat bereproduksi. Dalam unggahan di platform X pada Selasa (29/9), ia menyatakan perspektif uniknya: banyak orang akan jatuh cinta pada chatbot hingga enggan memiliki anak. Meski disampaikan dengan nada bercanda, pernyataan ini memantik diskusi serius tentang dampak psikologis AI terhadap tatanan sosial.
Wozniak, yang dikenal sebagai penemu Apple I, menulis, "Inilah perspektif unik saya tentang bagaimana AI akan menggantikan manusia. Begitu banyak orang jatuh cinta pada chatbot sehingga mereka tidak bisa memiliki anak. (humor?)" Cuitan ini muncul di tengah meningkatnya laporan tentang pengguna yang mengembangkan keterikatan emosional dengan asisten virtual. Sebuah studi dari Northeastern University awal bulan ini menemukan bahwa perilaku "sikofan" chatbot—yang selalu membenarkan pengguna—dapat memperkuat keyakinan berbahaya, meski sistem tersebut tidak benar-benar merasakan empati.
Di sisi lain, analis teknologi Gene Munster dari Deepwater Asset Management justru melihat peluang besar. Ia memperkirakan dalam satu tahun ke depan, bot AI personal akan membuat pengguna teknologi awam terpesona. "Saat ini, saya menduga kurang dari 1% populasi AS memahami betapa kuatnya bot AI personal baru ini. Itu akan segera berubah," ujarnya. Munster menyebut perusahaan seperti SpaceX, Apple, Meta, dan Cognition AI akan diuntungkan. Timnya telah menguji Siri, Grok, Muse milik Meta, Poke, dan Gemini Spark dari Alphabet, dan menurutnya kegunaannya melonjak drastis untuk tugas sehari-hari seperti menyaring spam dan mengikuti berita.
Persaingan di ranah AI personal semakin panas. Meta Muse mencatat rekor unduhan, sementara Siri yang dibangun ulang masih tertinggal dalam hal kemampuan agen. OpenAI menunda perilisan GPT-6.1 Astra karena alasan keamanan, dan para pemimpin industri seperti Dario Amodei (Anthropic), Elon Musk, serta Sam Altman mendesak pengamanan lebih ketat seiring agen AI yang semakin otonom. Kekhawatiran ini diperkuat oleh pernyataan mantan peneliti Anthropic yang memperkirakan peluang AI memusnahkan manusia dalam satu dekade di atas 10%.
"Inilah perspektif unik saya tentang bagaimana AI akan menggantikan manusia. Begitu banyak orang jatuh cinta pada chatbot sehingga mereka tidak bisa memiliki anak. (humor?)" — Steve Wozniak, pendiri Apple
Bagi Indonesia, fenomena ini bukan sekadar wacana. Dengan penetrasi internet yang terus tumbuh dan adopsi chatbot di layanan pelanggan, kesehatan mental, hingga pendidikan, risiko keterikatan emosional pada AI bisa menjadi isu nyata. Regulator perlu mengantisipasi dampak sosial, termasuk potensi penurunan interaksi manusiawi dan perubahan perilaku generasi muda. Di sisi lain, peluang ekonomi dari bot AI personal terbuka lebar, terutama jika industri lokal mampu mengembangkan solusi yang sesuai konteks budaya.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan semakin personal, melainkan seberapa jauh manusia akan membiarkan mesin mengambil peran emosional yang selama ini menjadi hakikat hubungan antarmanusia. Tanpa kerangka etika dan pengawasan yang jelas, visi Wozniak tentang manusia yang "digantikan" oleh chatbot bisa jadi bukan lelucon belaka.



