Sylvester Stallone Ungkap Teror di Fasilitas Psikiatri: 'Mereka Coba Merobek Tubuhku'
Baca dalam 60 detik
- Stallone membuka pengalaman traumatis masa remaja di Devereux Manor High School, Pennsylvania, dalam memoar terbarunya.
- Ia mengaku diserang penghuni lain hingga nyaris tewas, namun peristiwa itu justru membentuk ketangguhan mentalnya.
- Kisah ini muncul saat Rocky merayakan 50 tahun dan film I Play Rocky tayang perdana di TIFF.

Aktor legendaris Sylvester Stallone mengungkap babak kelam masa remajanya saat dirawat di sebuah institusi kesehatan mental di Pennsylvania. Dalam memoar terbaru berjudul The Steps, pria 80 tahun itu menuturkan bagaimana ia pernah diserang oleh penghuni lain hingga alat kelaminnya nyaris robek. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi fondasi ketangguhan yang kemudian mengantarkannya menembus kerasnya industri Hollywood.
Stallone, yang tenar lewat peran Rocky Balboa dan John Rambo, mengatakan bahwa masa-masa di Devereux Manor High School bukan sekadar kisah kelam. Ia menyebut tempat itu memiliki ruang isolasi yang oleh para penghuni dijuluki "Snake Pit" atau Lubang Ular. Hukuman tersebut diberikan kepada remaja yang melanggar aturan, termasuk keluar diam-diam untuk bertemu kekasih. Stallone mengaku pernah mendekam di sana selama beberapa pekan.
Dalam wawancara dengan The New York Times, Stallone menggambarkan suasana "Snake Pit" sebagai tempat yang jauh dari kata manusiawi. "Baunya, kotorannya, orang-orang berlarian telanjang, mencakar, tangan terikat, mulut berbusa. Itulah yang mereka anggap bisa membuatmu jera," ujarnya. Ia juga mengklaim diserang oleh seorang penghuni yang dikenal sebagai Jay Bird, pria bertubuh besar, botak, dan selalu telanjang. "Dia mencengkeram leherku dan meraih ke dalam celanaku," kenang Stallone. Dua penjaga kemudian masuk dan menghajar penyerangnya dengan cambuk.
Pihak Devereux Advanced Behavioral Health, lembaga yang menaungi fasilitas tersebut, memberikan tanggapan hati-hati. Mereka menyatakan menghormati hak Stallone untuk menceritakan versinya sendiri dan menyampaikan penyesalan atas trauma yang ia ingat. Namun, mereka tidak mengomentari secara langsung tuduhan spesifik yang dilontarkan aktor tersebut.
Bagi Stallone, peristiwa itu bukan sekadar luka. Ia menyebutnya sebagai titik balik yang menempa mentalnya. "Saat saya keluar dan berdiri di hadapan kepala sekolah, dia bertanya apakah saya sudah kapok. Saya jawab, 'Saya belajar jauh lebih banyak. Pelajaran yang lebih berharga: Anda tidak bisa menghancurkan saya'," tuturnya. Ia menambahkan bahwa ketika tiba di New York City pada usia 20-an, ia selalu merasa tidak terkalahkan. "Hati saya bisa hancur, seperti manusia lain, tapi yang saya maksud adalah kemauan," tegasnya.
Kisah ini muncul di tengah gelombang nostalgia Rocky. Film yang dirilis 1976 itu genap berusia 50 tahun pada 2026. Paramount+ dan Pluto TV telah menyediakan seluruh seri Rocky dan Creed untuk merayakannya. Selain itu, film I Play Rocky garapan sutradara Peter Farrelly, yang mengisahkan perjuangan Stallone muda, baru saja tayang perdana di Toronto International Film Festival dan dijadwalkan rilis di bioskop November mendatang. Stallone juga bersiap kembali sebagai Dwight Manfredi dalam musim keempat serial Tulsa King yang tayang 16 Oktober.
Kisah Stallone ini bukan hanya tentang masa lalu seorang bintang action. Di Indonesia, diskusi tentang kesehatan mental dan standar perawatan di institusi masih menjadi isu sensitif. Pengalaman Stallone bisa menjadi cermin betapa pentingnya reformasi layanan kesehatan jiwa, terutama bagi remaja. Apakah industri hiburan dan masyarakat luas akan semakin terbuka membicarakan trauma masa kecil, atau justru mengabaikannya sebagai bagian dari "harga" menuju sukses? Waktu yang akan menjawab, tetapi keberanian Stallone membuka ruang dialog yang selama ini tertutup.



