Maresca di Manchester City: Warisan Guardiola yang Dikemas Ulang, dari Formasi 3-2-2-3 hingga Sayap Lebar
Baca dalam 60 detik
- Enzo Maresca mulai meninggalkan jejak taktisnya di Manchester City dengan mengadopsi formasi 3-2-2-3 dan sayap yang melebar, sebuah evolusi dari gaya Guardiola.
- Pendekatan Maresca menekankan penguasaan bola dan posisi yang jelas, namun dengan fleksibilitas yang berbeda dari era Guardiola, terutama dalam transisi menyerang.
- Perubahan terbesar terlihat saat bertahan, di mana City beralih dari pressing ketat ala Chelsea ke pendekatan zonal yang lebih terukur, menyiapkan tim untuk menghadapi evolusi taktik lawan.

Manchester City memulai babak baru pasca-Pep Guardiola dengan Enzo Maresca di kursi manajer, dan pramusim telah memberi sinyal awal tentang arah taktis yang akan diambil. Meski banyak yang menduga Maresca akan menjadi kloning Guardiola, pria Italia itu justru meracik gaya sendiri yang memadukan warisan sang mentor dengan sentuhan modern. Dalam beberapa laga uji coba, City sudah menunjukkan identitas yang berbeda: formasi 3-2-2-3 yang kaku namun efektif, sayap yang melebar, dan transisi yang lebih terstruktur.
Maresca, yang pernah menjadi asisten Guardiola di City, memang tidak bisa lepas dari pengaruh sang mantan atasan. Namun, ia tidak sekadar meniru. Prinsip dasar yang diwarisi tetap ada: penguasaan bola yang dominan, posisi yang jelas, dan 'rest defence' yang solid. Dalam laga pertama melawan Inter Milan, City mencatat 64% penguasaan bola, sebuah angka yang menegaskan bahwa filosofi penguasaan bola masih menjadi fondasi. Namun, Maresca menambahkan nuansa baru dengan meminta para pemainnya untuk lebih berani mengambil posisi di sepertiga akhir lapangan.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah penggunaan winger yang tinggi dan melebar. Ini kontras dengan musim terakhir Guardiola yang sering memakai winger dalam posisi sempit. Maresca tampaknya kembali ke pola lama yang pernah sukses dengan Raheem Sterling dan Leroy Sane pada 2017. Dalam pramusim, Antoine Semenyo menjadi sorotan utama di sisi kiri, sering kali menerima bola dalam ruang luas dan berlari mengejar bek lawan. Pola ini menghasilkan umpan-umpan silang yang berbahaya, seperti yang terlihat saat City mencetak gol dari skema cut-back.
Di lini tengah, Maresca memberikan kebebasan kepada satu gelandang untuk maju membantu serangan, seperti yang terlihat pada Tijjani Reijnders yang dikaitkan dengan kepindahan. Sementara itu, Matteo Kovacic bertahan sebagai jangkar. Formasi 3-2-2-3 yang digunakan Maresca sebenarnya bukan hal baru bagi City—formasi ini pernah mengantar mereka meraih treble—tetapi cara Maresca mengolahnya terasa lebih cair. Para bek sayap, seperti Josko Gvardiol, diminta untuk masuk ke dalam dan menjadi gelandang serang saat tim menguasai bola, menciptakan keunggulan jumlah di lini tengah.
Perubahan paling signifikan justru terjadi saat tim tidak menguasai bola. Di Chelsea, Maresca identik dengan pressing ketat satu lawan satu di area tinggi. Namun, di City, ia beralih ke pendekatan zonal yang lebih terukur, mirip dengan yang diterapkan Guardiola musim lalu. City terlihat memulai dengan formasi 4-2-4 sebelum kemudian menekan lawan secara selektif. Maresca mengakui bahwa tren sepak bola modern sedang berubah, dan ia ingin timnya siap menghadapi lawan yang semakin pintar menghadapi pressing ketat. Meski begitu, aspek ini masih menjadi titik lemah City di pramusim, dengan pemain sering kali harus menempuh jarak jauh dan meninggalkan celah di lini belakang.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perubahan ini menarik untuk diikuti karena Manchester City memiliki basis penggemar yang besar di tanah air. Gaya bermain yang atraktif dengan penguasaan bola tinggi dan sayap yang eksplosif bisa menjadi tontonan yang menghibur. Selain itu, adaptasi Maresca terhadap warisan Guardiola menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu harus dimulai dari nol, tetapi bisa dibangun di atas fondasi yang sudah ada. Ini pelajaran berharga bagi klub-klub Indonesia yang sering berganti pelatih dan kehilangan identitas.
Maresca sendiri sadar bahwa ia tidak akan pernah bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang Guardiola. Namun, ia perlahan membangun tim dengan ciri khasnya sendiri. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan konsistensi saat musim kompetisi dimulai? Tekanan di Premier League jauh berbeda dengan pramusim, dan lawan-lawan seperti Arsenal atau Liverpool akan menguji ketangguhan skema barunya. Satu hal yang pasti, City di bawah Maresca tidak akan menjadi salinan persis dari era Guardiola—ia sedang menulis babak baru dengan tinta yang sama, namun dengan gaya tulisan yang berbeda.



