Metaphor: ReFantazio Jadi Jembatan bagi Penggemar Fire Emblem: Fortune's Weave
Baca dalam 60 detik
- Fire Emblem: Fortune's Weave menghadirkan turnamen sebagai inti cerita, dan Metaphor: ReFantazio menawarkan pengalaman serupa dengan sistem kalender serta reputasi.
- Kedua game berbagi mekanisme hubungan karakter dan eksplorasi dunia, meski berbeda genre โ taktis versus dungeon crawler.
- Dengan durasi lebih singkat, Metaphor disebut sebagai pilihan tepat bagi pemain yang ingin menikmati RPG naratif tanpa komitmen ratusan jam.

Bagi penggemar berat Fire Emblem: Fortune's Weave yang terpesona dengan konsep turnamen heroik, ada satu judul RPG yang layak dipertimbangkan: Metaphor: ReFantazio. Dirilis pada 2024 oleh Atlus, game ini menawarkan struktur permainan yang secara mengejutkan memiliki banyak kesamaan dengan seri tactical RPG besutan Intelligent Systems tersebut, terutama dalam hal sistem kalender, reputasi, dan pengembangan hubungan antar karakter.
Fortune's Weave sendiri mengangkat kisah Dagsion's Heroic Games melalui perspektif empat kontestan yang saling bersaing. Sementara itu, Metaphor: ReFantazio membuka ceritanya dengan pembunuhan raja yang kemudian memicu turnamen kerajaan untuk menentukan penerus takhta berdasarkan kehendak rakyat. Pemain berperan sebagai Will, sosok misterius yang harus mengumpulkan pasukan, meningkatkan reputasi, dan menggagalkan ambisi Louis Guiabern โ antagonis yang disebut memiliki kemiripan dengan Dietrich di Fortune's Weave.
Meskipun Metaphor: ReFantazio adalah dungeon crawler dan bukan tactical RPG, elemen inti permainannya tetap mirip. Keduanya memberikan waktu luang yang cukup besar bagi pemain untuk menjelajahi peta dunia, menyelesaikan misi sampingan, dan membangun kedekatan dengan anggota tim. Di Fortune's Weave, pemain dapat menjelajahi dunia luas dan menghadapi pertempuran taktis di akhir bulan, sedangkan di Metaphor, pemain harus menyelesaikan dungeon crawl setiap bulan dengan kebebasan memilih strategi penyelesaian.
Salah satu daya tarik utama Metaphor: ReFantazio adalah sistem "follower bonds" yang memungkinkan pemain menjalin hubungan dengan puluhan karakter, termasuk rekan satu tim. Setiap karakter memiliki delapan percakapan yang memperdalam latar belakang dan dinamika hubungan. Sistem ini terasa seperti evolusi dari support system di Fire Emblem, memberikan kedalaman naratif yang lebih besar. Bagi penggemar yang menikmati aspek sosial dan pengembangan karakter, mekanisme ini menjadi nilai tambah yang signifikan.
"Jika Anda menyukai sistem dukungan di Fire Emblem, game Atlus ini menawarkannya lebih dalam, dengan delapan percakapan untuk setiap pengikut," tulis Polygon dalam ulasannya.
Dari sisi durasi, Fortune's Weave memang jauh lebih masif. Dibutuhkan sekitar 150 jam untuk menuntaskan satu rute, dan itu belum termasuk eksplorasi keempat perspektif yang ditawarkan. Sementara itu, Metaphor: ReFantazio dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 80 jam untuk cerita utama dan sebagian konten opsional. Bagi pemain yang memiliki waktu terbatas namun tetap ingin merasakan RPG naratif dengan dunia yang kaya, Metaphor menawarkan keseimbangan yang menarik antara kedalaman dan aksesibilitas.
Konteks Indonesia, pasar game konsol dan PC di Tanah Air terus tumbuh, terutama di kalangan gamer dewasa yang menyukai RPG Jepang. Kehadiran Metaphor: ReFantazio di platform yang luas โ dan segera di Nintendo Switch 2 โ membuka peluang lebih besar bagi pemain Indonesia untuk mengaksesnya. Harga game AAA di Indonesia memang relatif tinggi, tetapi diskon digital dan komunitas pre-owned menjadi jalur alternatif yang populer. Selain itu, komunitas Fire Emblem dan Atlus di Indonesia cukup aktif di media sosial, sering membahas mekanisme permainan dan teori cerita, sehingga diskusi tentang Metaphor berpotensi memperkaya wacana lokal.
Ke depan, apakah Metaphor: ReFantazio dapat menjadi gerbang bagi pemain Indonesia untuk lebih mengenal genre dungeon crawler sekaligus menikmati narasi turnamen yang mirip dengan Fortune's Weave? Dengan port Switch 2 yang akan datang, peluang itu semakin terbuka. Pertanyaannya, akankah Atlus dan Intelligent Systems saling belajar dari kesuksesan masing-masing untuk menghadirkan inovasi di RPG mendatang?



