Prabowo: Rakyat Miskin Indonesia Tetap Tersenyum, Bukti Ketahanan Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menyoroti ketahanan mental rakyat Indonesia yang tetap tersenyum di tengah kemiskinan, dalam acara peluncuran motor listrik nasional.
- Pemerintah menargetkan kemandirian energi dengan program B50, konversi LPG ke CNG, dan pembangkit surya 100 GW untuk mengurangi impor BBM senilai miliaran dolar.
- Langkah elektrifikasi dan energi terbarukan dinilai sebagai kunci untuk melindungi Indonesia dari gejolak global dan memperkuat kesejahteraan rakyat.

Presiden Prabowo Subianto menilai kemampuan rakyat Indonesia untuk tetap tersenyum di tengah keterbatasan ekonomi sebagai sebuah keistimewaan yang jarang dimiliki bangsa lain. Pernyataan itu disampaikannya saat meluncurkan Motor Listrik Nasional dan Ekosistem Pendukung di Jawa Barat, Kamis (13/8/2026), di tengah upaya pemerintah memperkuat kemandirian energi.
Dalam sambutannya, Prabowo menggarisbawahi bahwa Indonesia, dengan segala keberagamannyaโsuku, agama, bahasa, dan adatโmampu hidup rukun, sebuah fenomena yang sering membuat bangsa asing tercengang. Namun, ia juga mengakui bahwa tantangan besar masih membayangi, terutama tingginya angka kemiskinan. "Rakyat kita masih banyak yang miskin," ujarnya, mengutip data yang belum dirinci lebih lanjut.
Yang menarik perhatian, Prabowo menyoroti ketangguhan psikologis masyarakat miskin. Ia mencontohkan warga yang hanya memiliki sepasang pakaian dan tinggal di rumah berdinding anyaman bambu (gedek), namun tetap mampu tersenyum. "Yang luar biasa, rakyat kita yang paling miskin pun masih bisa tersenyum," tuturnya, seraya menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dan berkomitmen meningkatkan kesejahteraan melalui penguatan ekonomi dan energi nasional.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak seharusnya bergantung pada negara lain, khususnya dalam hal energi. "Kita terlalu besar untuk menggantungkan diri kepada pihak luar," tegasnya. Ketergantungan ini, menurutnya, membuat Indonesia rentan terhadap gejolak global seperti perang dan perang dagang. Oleh karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan sumber daya alam dalam negeri, termasuk energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Langkah ini sejalan dengan visi jangka panjang untuk mencapai kemandirian energi. Dengan beralih ke listrik sebagai sumber energi utama, Prabowo yakin Indonesia akan lebih aman dan sejahtera. "Dengan motor dan mobil listrik, dengan bus listrik, dengan traktor listrik... kita akan lebih aman, kita akan lebih sejahtera," paparnya. Ia juga menyebut target ambisius lainnya, seperti pembangkit listrik tenaga surya 100 gigawatt yang diharapkan selesai dalam empat tahun.
Bagi Indonesia, transisi energi ini bukan sekadar soal lingkungan, tetapi juga strategi ekonomi dan geopolitik. Dengan mengurangi impor BBM, negara dapat mengalihkan dana besar untuk pembangunan lain, termasuk program pengentasan kemiskinan. Namun, tantangan implementasi tetap ada, mulai dari infrastruktur hingga kesiapan industri dalam negeri.
"Saya kira tidak terlalu lama 3, 4, 5 tahun kita akan bangkit bener-bener. Sekarang, kita sudah mulai bangkit," pungkas Prabowo.
Ke depan, keberhasilan program ini akan diuji oleh konsistensi kebijakan dan kemampuan pemerintah mengatasi hambatan teknis. Apakah target 100 GW surya dan elektrifikasi massal dapat terwujud tepat waktu, dan akankah senyum rakyat miskin berubah menjadi kesejahteraan nyata? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun arah kebijakan sudah jelas: Indonesia ingin berdiri di atas kaki sendiri.



