Kelas Jurnalis Cilik Cilincing: Melawan Panas Ekstrem dengan Lensa dan Narasi
Baca dalam 60 detik
- Anak-anak pesisir Cilincing belajar jurnalistik untuk menyuarakan dampak perubahan iklim di tengah keterbatasan ruang dan panas ekstrem.
- Data BMKG menunjukkan peningkatan suhu minimum yang lebih cepat di Jakarta Utara, mengindikasikan fenomena pemanasan malam hari.
- Inisiatif ini menjadi contoh adaptasi akar rumput yang mendesak pemerintah untuk lebih serius menangani literasi iklim dan pelibatan anak.

Di bawah kolong jembatan Cilincing, Jakarta Utara, puluhan anak-anak tengah asyik memegang kamera, mengabadikan pemandangan sampah di pesisir dan permukiman padat. Mereka adalah peserta Kelas Jurnalis Cilik, sebuah program yang mengajarkan dasar-dasar jurnalistik untuk menyuarakan persoalan lingkungan di tengah cuaca yang kian menyengat.
Kegiatan yang digagas oleh Ilyas, jurnalis kelahiran Cilincing, sejak 2018 ini bertujuan membekali anak-anak pesisir dengan kemampuan menulis, reportase, dan fotografi. Selama lima bulan, mereka belajar di ruang terbuka yang kerap bising oleh deru truk, namun semangat mereka tak surut. Hafiz (11), salah satu peserta, mengaku ingin menjadi jurnalis foto untuk mengangkat isu sampah dan panas ekstrem yang ia rasakan sehari-hari.
Keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta Utara menjadi salah satu faktor yang mempersulit aktivitas anak-anak. Data Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta 2024 mencatat, Jakarta Utara hanya memiliki 353 RTH, paling sedikit dibandingkan wilayah lain. Kondisi ini diperparah dengan tren kenaikan suhu yang signifikan. Analisis BMKG menunjukkan suhu minimum di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok meningkat 0,026 derajat Celsius per tahun selama 1981-2025, lebih cepat daripada suhu maksimum yang hanya 0,014 derajat Celsius.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa peningkatan suhu minimum yang dominan mengindikasikan pemanasan malam hari, yang dipicu oleh urbanisasi dan perubahan iklim global. "Wilayah pesisir seperti Jakarta Utara memiliki kelembapan tinggi dan topografi rendah, sehingga panas dan polusi cenderung terakumulasi," ujarnya. Fenomena ini membuat anak-anak seperti Hazia (12) merasakan dampak langsung, seperti pohon yang mengering dan udara yang tidak nyaman untuk bermain di luar.
Kelas Jurnalis Cilik tidak hanya mengajarkan teknik jurnalistik, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan kegelisahan mereka. Kharisa (15), alumni angkatan 2021, kini bercita-cita menjadi jurnalis agar pemerintah mendengar keluhan warga tentang jalan berlubang dan isu lingkungan. "Lewat berita, saya ingin lingkungan saya dikenal dan pemerintah mau mendengar," katanya. Program ini juga telah melahirkan fotografer freelance yang mampu membiayai sekolahnya, seperti yang diungkapkan Ilyas.
UNICEF dalam laporan 2026 menekankan pentingnya melibatkan anak dalam kebijakan iklim. Negara harus berinvestasi pada pendidikan iklim dan memastikan suara anak didengar. Namun, Project Officer Laporiklim, Fajar Sani, menilai pelibatan anak dalam perencanaan adaptasi masih minim. "Selama pemerintah menganggap panas ekstrem sebagai hal biasa, literasi warga menjadi lini pertahanan pertama," tegasnya. Ia mendorong pemerintah untuk meningkatkan literasi kesehatan panas di sekolah dan Puskesmas.
Kelas Jurnalis Cilik menjadi contoh nyata adaptasi akar rumput yang patut direplikasi. Di tengah keterbatasan, anak-anak belajar mengamati, merekam, dan menceritakan kondisi kampung mereka. Pertanyaannya, akankah pemerintah menjadikan inisiatif ini sebagai model kebijakan untuk melibatkan anak dalam menghadapi krisis iklim? Atau justru membiarkan mereka berjuang sendiri dengan kamera di tangan?



