Setelah 13 Tahun Tanpa Gelar, MU Kaji Datangkan Harry Kane: Akhir dari Kutukan Penerus Rooney?
Baca dalam 60 detik
- Manchester United dikabarkan mempertimbangkan merekrut Harry Kane dari Bayern Munich pada bursa musim panas ini, menyusul kebuntuan negosiasi kontrak sang pemain.
- Sejak ditinggal Wayne Rooney, MU telah menghabiskan lebih dari 300 juta poundsterling untuk enam penyerang utama, tetapi tak satu pun mampu tampil konsisten seperti legenda Inggris tersebut.
- Keputusan ini menjadi ujian besar bagi strategi transfer INEOS di bawah Sir Jim Ratcliffe, yang harus menyeimbangkan ambisi jangka pendek dengan pembangunan skuad berkelanjutan.

Manchester United kembali dikaitkan dengan langkah mengejutkan di bursa transfer: memboyong Harry Kane dari Bayern Munich. Kabar ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi kontrak pemain berusia 33 tahun itu dengan klub Jerman, sekaligus menjadi sinyal bahwa setan merah belum menemukan sosok yang mampu menggantikan peran Wayne Rooney sejak kepergiannya sembilan tahun lalu.
Sejak ditinggal Rooney pada 2017, United telah menghabiskan lebih dari 300 juta poundsterling untuk merekrut penyerang anyar. Nama-nama seperti Romelu Lukaku, Anthony Martial, Edinson Cavani, hingga Rasmus Hojlund silih berganti datang, tetapi tak satu pun mampu memberikan konsistensi seperti yang ditunjukkan Rooney. Hojlund, yang diboyong dengan nilai 64 juta poundsterling, hanya mencetak 14 gol dalam 62 penampilan liga, sementara Joshua Zirkzee yang direkrut seharga 36 juta poundsterling baru mengoleksi lima gol dalam dua musim. Kini, Benjamin Sesko yang didatangkan dengan banderol 66 juta poundsterling juga belum mampu memenuhi ekspektasi, dengan catatan 11 gol musim lalu.
Kabar ketertarikan pada Kane pertama kali dilaporkan oleh TEAMtalk, yang menyebut bahwa pemilik United, Sir Jim Ratcliffe, adalah pengagum berat pemain Inggris tersebut. Ketertarikan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi kontrak Kane di Bayern, yang kontraknya akan berakhir pada 2027. Jika terealisasi, ini akan menjadi perekrutan termahal United dalam beberapa musim terakhir, namun juga menjadi pertaruhan besar bagi manajer Michael Carrick yang tengah membangun skuadnya.
Kane sendiri telah membuktikan ketajamannya di Jerman. Selama tiga musim bersama Bayern, ia mencetak 146 gol dari 147 pertandingan, termasuk 64 gol dalam 56 laga pada musim 2025/26—catatan terbaik sepanjang kariernya. Sebelum pindah ke Bayern, ia juga menjadi top skor sepanjang masa Tottenham Hotspur di Premier League dengan 213 gol, dan pernah digambarkan oleh rekan setimnya di timnas Inggris, Luke Shaw, sebagai "penyerang terbaik di dunia".
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub sebesar Manchester United masih bergulat dengan masalah yang sama seperti klub-klub di Liga 1: mencari penyerang yang mampu menjadi ikon dan mesin gol. Namun, ada perbedaan mendasar: MU beroperasi dengan skala finansial yang jauh lebih besar, dan kegagalan mereka justru menjadi pelajaran tentang pentingnya perencanaan jangka panjang, bukan sekadar membeli nama besar.
Di sisi lain, langkah ini juga menjadi ujian bagi strategi INEOS di bawah Ratcliffe. Setelah 13 tahun tanpa gelar liga, tekanan untuk segera meraih trofi sangat besar. Namun, merekrut pemain berusia 33 tahun dengan nilai transfer tinggi berisiko mengorbankan pembangunan skuad muda. Keputusan ini akan menentukan apakah MU belajar dari kesalahan masa lalu atau justru mengulang pola yang sama.
Jika transfer ini terwujud, Kane akan datang dengan beban ekspektasi yang sangat tinggi—menggantikan warisan Rooney yang begitu besar. Namun, dengan rekam jejaknya yang konsisten, ia bisa menjadi sosok yang tepat untuk membawa MU kembali ke jalur juara. Pertanyaannya, apakah Ratcliffe dan Carrick berani mengambil risiko ini, atau justru akan mencari alternatif yang lebih muda dan murah? Hanya waktu yang akan menjawab.



