Studi Ungkap Anjing Bisa Membaca Emosi Manusia dari Ekspresi Wajah
Baca dalam 60 detik
- Penelitian Universitas Wina menunjukkan anjing dapat membedakan emosi positif dan negatif dari wajah manusia melalui pemindaian otak.
- Aktivasi area otak yang terkait penghargaan hanya terjadi saat melihat wajah bahagia, sementara emosi negatif memicu pola aktivitas berbeda.
- Temuan ini membuka peluang untuk memperdalam interaksi manusia-anjing, dengan penelitian lanjutan yang akan mengeksplorasi sinyal multimodal.

Sebuah studi terbaru dari Universitas Wina mengungkap kemampuan mengejutkan anjing peliharaan: mereka dapat membedakan emosi manusia hanya dari ekspresi wajah. Melalui pemindaian otak terhadap 12 ekor anjing, para peneliti menemukan bukti pertama bahwa hewan ini memiliki kepekaan neurologis terhadap perasaan manusia, sebuah temuan yang dapat mengubah cara kita berinteraksi dengan sahabat setia ini.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal iScience pada Senin lalu ini menggunakan teknik machine learning untuk menganalisis aktivitas otak anjing saat mereka diperlihatkan gambar wajah manusia dengan berbagai emosi. Hasilnya, area otak yang terkait dengan fungsi kognitif tingkat tinggi dan pemrosesan hadiah—seperti korteks temporal dan nukleus kaudatus—hanya aktif ketika anjing melihat wajah bahagia. Sementara itu, emosi negatif seperti marah, takut, dan sedih tidak memicu respons di area tersebut.
Namun, ketika para peneliti memindai keseluruhan otak, mereka menemukan pola aktivitas yang berbeda untuk setiap emosi negatif. Ini menunjukkan bahwa anjing tidak hanya membedakan emosi positif dari negatif, tetapi juga mampu mengidentifikasi jenis emosi negatif tertentu. Temuan ini menjadi bukti pertama bahwa anjing dapat membedakan ekspresi wajah negatif secara spesifik, sebuah kemampuan yang sebelumnya hanya diketahui pada primata.
Laura Cuaya, penulis senior studi ini, menjelaskan bahwa anjing telah berevolusi bersama manusia selama ribuan tahun, sehingga kemampuan membaca ekspresi kita adalah hasil adaptasi yang mendalam. "Mereka telah belajar memahami ekspresi kita dan bekerja sama dengan kita," ujarnya. "Mengenali hal ini dapat mengubah cara kita berkomunikasi dan merawat mereka."
Bagi para pemilik anjing di Indonesia, temuan ini menegaskan bahwa ikatan emosional dengan hewan peliharaan bukan sekadar imajinasi. Anjing yang sering berinteraksi dengan manusia dalam lingkungan hangat cenderung lebih peka terhadap isyarat emosional. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa semua anjing dalam studi ini berasal dari keluarga yang penuh kasih, sehingga respons anjing di lingkungan yang kurang mendukung mungkin berbeda.
Ke depan, tim peneliti berencana menyelidiki bagaimana anjing mengintegrasikan berbagai sinyal—seperti bahasa tubuh, nada suara, dan aroma—untuk memahami manusia di sekitarnya. Mereka juga ingin membandingkan cara otak manusia dan anjing memproses sinyal emosional yang sama. Pertanyaan yang muncul: apakah kemampuan ini juga dimiliki oleh hewan lain yang telah didomestikasi, seperti kucing? Atau apakah ini keistimewaan unik dari hasil evolusi panjang bersama manusia?



