Kiper 18 Tahun Keliling Eropa dengan Van untuk Cari Klub Baru
Baca dalam 60 detik
- Milo Beimers, kiper muda asal Irlandia Utara, menempuh perjalanan darat 3.200 km keliling Eropa bersama ayahnya untuk mencari klub baru.
- Strategi nekat ini membuka peluang trial di Spanyol dan Portugal, sekaligus memangkas biaya klub karena ia membawa 'rumah' sendiri.
- Kisah Beimers menjadi contoh bagaimana pemain muda berani mengambil risiko demi karier, menginspirasi pesepak bola Indonesia untuk lebih proaktif.

Milo Beimers, kiper berusia 18 tahun, memilih jalan tak biasa dalam meniti karier sepak bola: berkeliling Eropa dengan van bersama ayahnya, menempuh ribuan kilometer demi mendapatkan kontrak dari klub baru. Keputusan ini diambil setelah ia meninggalkan Glentoran, klub yang membesarkannya sejak usia 13 tahun, untuk mencoba peruntungan di benua biru.
Perjalanan yang dimulai dari Belfast menuju Dublin, lalu menyeberang ke Prancis, dan kini berlanjut ke Spanyol serta Portugal, bukan sekadar liburan. Beimers telah menjadwalkan sejumlah trial bersama klub-klub di berbagai divisi, mulai dari tim muda hingga senior. Sang ayah, Kevin, yang berprofesi sebagai desainer video game, menjadi sopir sekaligus pendamping setia dalam petualangan ini.
Van yang mereka tumpangi bukan kendaraan mewah. Milik kakak perempuan Beimers, Charlie, van ini sempat dalam kondisi memprihatinkan dan bahkan gagal uji emisi tiga kali sebelum akhirnya layak jalan. Namun, setelah dimodifikasi dengan kasur, dapur, dan ruang penyimpanan, van ini menjadi 'rumah berjalan' yang membawa mereka menyusuri pantai Spanyol dan menembus perbatasan Portugal.
Beimers mengaku pendekatan ini sengaja dipilih untuk menciptakan peluang sendiri. "Saya suka melakukan hal yang berbeda. Saya suka menciptakan kesempatan sendiri," ujarnya kepada BBC Sport NI. Ia menambahkan, "Tidak ada yang memberatkan saya. Jika ada waktu yang tepat untuk melakukan ini, ya sekarang."
Strategi ini ternyata efektif. Klub-klub yang ingin mencoba Beimers tidak perlu menanggung biaya perjalanan dan akomodasi, karena ia dan ayahnya bisa tidur di van yang diparkir di dekat lokasi trial. Ini menjadi nilai jual tersendiri yang membuat klub lebih tertarik. Selain itu, Beimers juga memiliki keuntungan administratif: lahir di Irlandia Utara dari orang tua Kanada, ia pernah membela Kanada di Piala Dunia U-17 2025, dan juga memegang paspor Belanda melalui kakeknya, yang memudahkan registrasi sebagai pemain di klub Eropa.
Meski terdengar penuh petualangan, Beimers sadar ada risiko. Namun, ia memilih untuk tidak menunggu peluang datang. "Sangat mudah untuk duduk diam dan berharap sesuatu datang kepada saya. Mungkin akan ada tawaran, tapi saya pikir lebih baik pergi dan mencarinya sendiri," katanya. Sikap ini menunjukkan mentalitas yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Beimers menjadi cermin bagaimana pemain muda di negara berkembang seringkali harus lebih kreatif untuk menembus pasar sepak bola Eropa. Jika pemain lokal Indonesia ingin berkarier di luar negeri, mereka mungkin perlu mengambil langkah serupa: berani keluar dari zona nyaman, memanfaatkan jaringan, dan menunjukkan inisiatif. Regulasi dan dukungan dari federasi juga penting, namun pada akhirnya, keputusan untuk 'menjual diri' ada di tangan pemain.
Beimers menargetkan bermain di level tertinggi, bahkan bercanda ingin bertemu Barcelona atau Real Madrid. "Saya akan terus bermain sampai saya bosan, mungkin sampai usia 40 atau 50. Saya ingin membuat nama saya dikenal," ujarnya. Pertanyaannya, akankah keberaniannya ini berbuah kontrak profesional, atau hanya menjadi kenangan manis perjalanan ayah dan anak? Waktu yang akan menjawab.



