GM Lepas Separuh Saham Pabrik Baterai EV di Indiana ke Samsung SDI
Baca dalam 60 detik
- Raksasa otomotif AS melepas 50% kepemilikan di proyek patungan baterai senilai US$3,5 miliar kepada mitra asal Korea Selatan.
- Langkah ini terjadi di tengah perlambatan permintaan EV dan hilangnya insentif pajak federal US$7.500 yang memaksa produsen menyesuaikan kapasitas produksi.
- Akuisisi lahan seluas 680 hektare oleh Samsung SDI menandai pergeseran strategi GM dari kepemilikan langsung menuju kemitraan yang lebih fleksibel.

General Motors (GM) dikabarkan tengah bersiap melepas seluruh kepemilikan sahamnya pada usaha patungan baterai kendaraan listrik (EV) senilai US$3,5 miliar di Indiana, Amerika Serikat, kepada mitranya, Samsung SDI. Langkah ini diungkap oleh Bloomberg News pada Senin (11/8) dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Keputusan ini muncul di tengah gejolak industri otomotif global yang berusaha menyeimbangkan ambisi elektrifikasi dengan realitas permintaan yang melambat. Sebelumnya, Reuters pada awal tahun ini melaporkan bahwa pembangunan pabrik tersebut mengalami perlambatan akibat lemahnya permintaan EV. Kini, GM tampaknya mengambil langkah lebih tegas dengan menyerahkan kendali penuh atas fasilitas produksi di New Carlisle, Indiana, kepada Samsung SDI.
Usaha patungan yang diumumkan dua tahun lalu ini awalnya ditargetkan memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 27 gigawatt jam (GWh) dengan rencana memulai produksi massal pada 2027. Namun, perubahan kebijakan insentif menjadi pemicu utama. Sejak pencabutan kredit pajak federal sebesar US$7.500 pada September tahun lalu, GM dan sejumlah produsen otomotif lain terpaksa menurunkan output pabrik agar selaras dengan permintaan pasar yang lesu.
Menurut laporan Bloomberg, Samsung SDI akan membeli lahan seluas 680 hektare, mengambil alih usaha patungan, dan memiliki penuh fasilitas pembuatan baterai tersebut. Langkah ini menandai perubahan strategi GM yang mulai mengurangi keterlibatan langsung dalam produksi sel baterai, sejalan dengan upaya efisiensi biaya di tengah tekanan margin.
Keputusan ini juga memperkuat tren konsolidasi di industri baterai global. Sebelumnya, pada Maret lalu, GM bersama LG Energy Solution mengumumkan rencana mengubah pabrik baterai EV di Tennessee menjadi fasilitas produksi sistem penyimpanan energi (energy storage systems). Langkah serupa menunjukkan bahwa produsen otomotif semakin selektif dalam mengalokasikan sumber daya, dengan fokus pada segmen yang lebih menjanjikan secara komersial.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia tengah gencar membangun ekosistem baterai EV, termasuk melalui investasi dari LG Energy Solution dan Hyundai. Perubahan strategi raksasa global seperti GM dapat memengaruhi dinamika pasar dan keputusan investasi di Tanah Air. Jika permintaan EV global terus melemah, Indonesia perlu mengantisipasi potensi penundaan atau realokasi investasi di sektor hilirisasi nikel.
Hingga berita ini diturunkan, GM dan Samsung SDI belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut. Reuters pun belum dapat memverifikasi kebenaran kabar ini secara independen. Namun, jika terealisasi, akuisisi ini akan menjadi salah satu transaksi terbesar di sektor baterai tahun ini.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana GM akan mempertahankan daya saingnya dalam rantai pasok baterai tanpa kepemilikan langsung atas fasilitas produksi. Apakah langkah ini akan diikuti produsen lain, dan bagaimana dampaknya terhadap harga kendaraan listrik di pasar global? Jawabannya akan menentukan arah industri otomotif dalam beberapa tahun ke depan.



