Pasar Prediksi Cuaca dan Iklim Meledak, Ilmuwan: Jangan Jadikan Bencana Sebagai Ajang Taruhan
Baca dalam 60 detik
- Platform seperti Kalshi dan Polymarket mencatat lonjakan taruhan terkait cuaca dan iklim hingga 500% dalam setahun terakhir, dengan nilai pasar menembus US$1,1 miliar.
- Sejumlah ilmuwan iklim menilai praktik ini mengubah penderitaan manusia menjadi komoditas spekulatif dan mengalihkan perhatian dari aksi nyata mitigasi krisis iklim.
- Ketidakpastian proyeksi iklim—termasuk gugurnya target 1,5C dan potensi umpan balik karbon—membuat taruhan semacam ini secara ilmiah rapuh dan berisiko menyesatkan publik.

Pasar prediksi daring di Amerika Serikat mulai melirik cuaca dan krisis iklim sebagai komoditas baru. Kalshi dan Polymarket—dua platform terbesar di sektor ini—melaporkan lonjakan taruhan terkait cuaca dan iklim hingga 500% dalam setahun terakhir, dengan nilai pasar mencapai US$1,1 miliar. Kalshi bahkan menggandeng The Weather Company, pemilik kanal The Weather Channel, untuk memperkuat kredibilitasnya di ranah yang sebelumnya didominasi taruhan olahraga dan kripto.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: seberapa etis memperdagangkan ketidakpastian iklim yang berdampak langsung pada nyawa dan penghidupan miliaran orang? Sejumlah ilmuwan iklim menyuarakan kegelisahan. Mereka menilai taruhan semacam itu mengubah penderitaan manusia menjadi permainan, dan berpotensi menjauhkan publik dari tindakan nyata menghadapi krisis iklim.
Kekhawatiran paling tajam muncul setelah taruhan besar dipasang pada kebakaran hutan Los Angeles tahun lalu. Kalshi dan Polymarket menegaskan telah melarang taruhan jenis ini karena menciptakan insentif tak diinginkan bagi calon pelaku pembakaran. Namun, bagi sebagian pihak, larangan itu terlambat. Kaitlyn Trudeau, ilmuwan di lembaga nirlaba Climate Central, mengaku terpukul karena kakeknya kehilangan rumah dalam peristiwa tersebut. "Saya merasa tertekan karena ini mengalihkan perhatian dari hal yang seharusnya menjadi fokus kita," ujarnya. "Saya tidak menentang pasar prediksi secara umum, tetapi kita perlu jujur soal sisi buruknya. Ini tidak akan mengurangi risiko perubahan iklim atau menyelesaikannya."
Di sisi lain, platform seperti Kalshi memandang diri mereka sebagai bagian dari penyedia data peramalan yang terkalibrasi baik. Juru bicara Kalshi menyatakan perusahaan menggunakan kebijaksanaan pasar untuk membantu memprediksi suhu, banjir, dan luaran lingkungan lainnya. Pendekatan ini sejalan dengan tren pemanfaatan data besar dan kecerdasan buatan dalam ilmu iklim. Namun, sejumlah peneliti meragukan apakah pasar prediksi benar-benar mampu menambah akurasi proyeksi iklim jangka panjang.
Ketidakpastian memang menjadi inti persoalan. PBB baru-baru ini mengakui bahwa target internasional untuk membatasi kenaikan suhu di 1,5C dari masa pra-industri—janji yang dibuat sepuluh tahun lalu—kini efektif gagal. Pemanasan global berlangsung terlalu cepat dan tak terkendali. Sebaliknya, skenario terburuk sebelumnya, RCP8.5 yang dibayangi pembakaran batu bara masif, justru dinilai semakin tidak mungkin seiring kemajuan energi bersih. Dalam beberapa tahun saja, skenario paling ekstrem dan paling optimistis sama-sama tersingkir dari meja perundingan.
"Saya tidak menentang pasar prediksi secara umum, tetapi kita perlu jelas soal sisi buruknya. Ini tidak akan mengurangi risiko perubahan iklim atau menyelesaikannya." — Kaitlyn Trudeau, ilmuwan Climate Central
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar fenomena pasar keuangan di negeri jauh. Sebagai negara kepulauan yang sangat rentan terhadap cuaca ekstrem, kenaikan muka laut, dan gagal panen, Indonesia berkepentingan langsung pada bagaimana dunia memprediksi dan merespons iklim. Jika pasar prediksi iklim tumbuh tanpa kerangka etis dan ilmiah yang ketat, risiko disinformasi dan normalisasi bencana bisa merembes ke kebijakan domestik. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti perlu mencermati apakah instrumen serupa akan masuk ke pasar Indonesia, dan bagaimana melindungi konsumen dari spekulasi yang tidak berdasar.
Yang lebih mendesak, perdebatan ini menyoroti kesenjangan antara kemampuan prediksi dan kebutuhan aksi. Umpan balik dari sistem alam—permafrost yang mencair, kebakaran hutan raksasa, lahan basah yang memanas—dapat mempercepat pemanasan global hingga 30%, menurut studi terbaru. Itu berarti tambahan hingga 0,4C pada suhu global, di atas kenaikan yang sudah dipastikan berbahaya. Namun, para peneliti sendiri mengingatkan bahwa ketidakpastian tetap besar. Planet ini bisa saja lebih sensitif, atau justru lebih toleran, dari perkiraan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah pasar prediksi bisa meramalkan iklim, melainkan apakah kita sebagai masyarakat ingin memperlakukan kerentanan planet sebagai ajang taruhan. Ketika suhu terus naik dan cuaca semakin kacau, taruhan pada bencana mungkin hanya menjadi cermin dari kegagalan kolektif untuk bertindak. Apakah kita akan terus menonton, atau mulai mengubah arah?



