Kontroversi 'White Privilege' DiJonai Carrington: Kritik Tajam dan Respons Pedas Pemain WNBA
Baca dalam 60 detik
- Pemain Chicago Sky, DiJonai Carrington, diusir wasit setelah pelanggaran keras terhadap Sophie Cunningham, lalu memicu perdebatan rasial dengan unggahan 'white privilege' di media sosial.
- Analis olahraga Amerika, termasuk mantan bintang NFL Emmanuel Acho, mengecam tindakan Carrington sebagai 'tidak tahu aturan' dan 'melecehkan makna white privilege'.
- Carrington membalas dengan pernyataan yang menantang kritikus untuk melakukan riset, sementara Cunningham menegaskan insiden itu murni pelanggaran di lapangan, bukan soal ras.

Kontroversi di Liga Bola Basket Wanita Amerika Serikat (WNBA) kembali memanas setelah guard Chicago Sky, DiJonai Carrington, mengeluarkan pernyataan keras kepada para pengkritiknya. Semua bermula dari pelanggaran keras yang dilakukannya terhadap Sophie Cunningham dari Indiana Fever, yang berujung pada eject-nya dari pertandingan. Namun, yang membuat kasus ini meluas adalah unggahan Carrington di media sosial dengan kata-kata 'white privilege' yang menyinggung banyak pihak.
Insiden terjadi dalam laga yang berakhir dengan kekalahan Chicago Sky. Carrington dianggap melakukan pelanggaran berbahaya yang mengenai kepala Cunningham hingga mengeluarkan darah. Setelah pertandingan, ia menulis 'white privilege' di akun media sosialnya sambil menandai akun Indiana Fever. Tindakan ini langsung memicu reaksi beruntun dari analis olahraga Amerika Serikat, termasuk mantan pemain NFL Emmanuel Acho yang tampil dalam podcast Speakeasy.
Acho dengan tegas menyatakan bahwa keputusan wasit tidak ada kaitannya dengan isu ras. Menurutnya, menyebut pelanggaran tersebut sebagai bentuk 'white privilege' justru merendahkan makna istilah itu dan mengabaikan aturan dasar basket. "Kamu memukul kepalanya, mengeluarkan darah, dan sama sekali tidak menyentuh bola. Itu jelas pelanggaran. Mengaitkannya dengan white privilege adalah tindakan yang tidak berdasar dan bodoh," ujarnya.
Carrington, yang berusia 28 tahun, tidak tinggal diam. Melalui akun X-nya, ia membalas kritik tersebut dengan nada sinis. Ia menantang para pengkritiknya untuk menggunakan kemampuan berpikir kritis dan melakukan riset lebih dalam. "Saya tidak pernah mengklaim bahwa penilaian pelanggaran itu didasarkan pada white privilege, itu asumsi Anda sendiri," tulisnya. Ia juga menegaskan bahwa dirinya bukan orang yang ignorant, karena pernah menempuh pendidikan di universitas terkemuka untuk mendalami isu tersebut.
Di sisi lain, Sophie Cunningham yang menjadi korban pelanggaran justru mencoba meredam polemik. Setelah timnya menang 90-86, ia mengatakan bahwa liga sedang menangani masalah ini. "Ini tidak ada hubungannya dengan ras. Tahun lalu saya melakukan hal yang sama dan diusir, dan saya pantas menerimanya. Tidak ada alasan untuk memainkan kartu itu," ujarnya. Pernyataan Cunningham menegaskan bahwa persaingan di lapangan seharusnya tidak dicampuradukkan dengan isu sensitif seperti ras.
Kontroversi ini juga menyoroti dinamika yang lebih luas dalam olahraga profesional Amerika, di mana isu ras dan identitas sering kali menjadi perdebatan publik. Bagi pengamat olahraga di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa atlet profesional tidak hanya dinilai dari performa di lapangan, tetapi juga dari cara mereka mengelola emosi dan komunikasi di ruang publik. Di era media sosial, setiap pernyataan dapat menjadi konsumsi publik dan memicu perdebatan yang meluas.
Hingga kini, Carrington belum memberikan penjelasan utuh mengenai maksud unggahannya. Ia hanya menegaskan bahwa dirinya tidak akan menggunakan istilah 'white privilege' sebagai senjata retorika tanpa dasar yang kuat. Pertanyaannya, apakah pernyataan tersebut cukup untuk meredakan kritik yang datang? Atau justru akan memperpanjang polemik yang bisa berdampak pada kariernya di WNBA? Yang jelas, insiden ini menambah daftar panjang kontroversi yang mewarnai musim WNBA tahun ini.



