Komponen China di Drone Angkatan Laut Inggris: Kementerian Pertahanan Bantah Kebocoran Data
Baca dalam 60 detik
- Kamera drone K3 Scout buatan China mengirim sinyal ke alamat IP di China, memicu penyelidikan keamanan.
- Investigasi Kementerian Pertahanan Inggris menyimpulkan tidak ada akses atau kebocoran data, namun memunculkan pertanyaan tentang rantai pasok militer.
- Temuan ini menjadi pengingat bagi negara-negara yang bergantung pada komponen China, termasuk Indonesia, untuk memperketat audit keamanan siber.

Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) memastikan tidak ada bukti kebocoran data atau sistem setelah ditemukan komponen buatan China pada drone laut terbaru Angkatan Laut Kerajaan. Temuan ini muncul dari audit kerentanan siber rutin yang mengungkap kamera drone mengirim sinyal 'detak jantung' ke alamat IP di China.
Sinyal tersebut, yang dikenal sebagai 'squark', biasanya menandakan perangkat aktif dan berfungsi normal, tetapi juga dapat membawa informasi lokasi. Meski demikian, juru bicara MoD menegaskan investigasi menyeluruh tidak menemukan indikasi akses tidak sah atau transmisi data ke pihak eksternal. "Proses jaminan dan pengujian kami dirancang untuk mengidentifikasi potensi kerentanan sejak dini," ujarnya, menekankan komitmen keamanan berkelanjutan.
Kejadian ini memalukan bagi MoD, yang bersama sekutu NATO telah melarang komponen China dalam peralatan militer karena kekhawatiran spionase. Drone K3 Scout, yang dipasok oleh perusahaan Kraken, digunakan untuk misi pengawasan jarak jauh, termasuk kesadaran maritim, perlindungan pasukan, dan logistik. Meskipun Kraken mengaku telah mendapat jaminan keamanan, komponen kamera dari pemasok pihak ketiga ternyata masih mengandung elemen buatan China.
Kasus ini menjadi sorotan atas dominasi China dalam rantai pasok global, bahkan di sektor pertahanan yang paling ketat sekalipun. Meskipun telah dilakukan tindakan pencegahan, negara-negara masih kesulitan mencari alternatif yang sepenuhnya bebas China dengan harga kompetitif. Bagi Indonesia, yang juga aktif memodernisasi alutsista, insiden ini menjadi pelajaran penting tentang perlunya audit menyeluruh terhadap rantai pasok, termasuk komponen kecil yang mungkin terlewat.
Menurut analis keamanan siber, temuan ini menggarisbawahi tantangan dalam memastikan keamanan rantai pasok di era globalisasi. "Bahkan dengan sertifikasi dan audit, komponen pihak ketiga bisa menjadi celah," kata seorang pakar yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa negara-negara berkembang seperti Indonesia perlu membangun kapasitas pengujian mandiri untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok asing.
Kraken, pemasok drone, menyatakan yakin tidak ada informasi sensitif yang bocor. Namun, insiden ini telah memicu pertanyaan tentang seberapa ketat pengawasan yang dilakukan terhadap pemasok di tingkat bawah. MoD sendiri telah mengatasi celah keamanan tersebut, tetapi kasus ini menjadi pengingat bahwa upaya menghindari teknologi China tidak selalu mudah.
Ke depan, apakah negara-negara seperti Indonesia akan memperketat regulasi impor komponen militer? Atau justru mencari alternatif produksi domestik? Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran akan spionase industri. Bagi Indonesia, yang tengah menggenjot modernisasi pertahanan, insiden ini bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi ulang kebijakan pengadaan dan keamanan siber.



