Bank Sentral Brasil Perluas Jaringan Pix ke Mancanegara di Tengah Tekanan Tarif AS
Baca dalam 60 detik
- Bank Sentral Brasil mengkaji konektivitas Pix dengan sistem pembayaran instan global untuk mempercepat transaksi lintas batas.
- Langkah ini muncul setelah AS menyoroti praktik yang dianggap tidak adil dan memberlakukan tarif 25% pada produk Brasil.
- Ekspansi ini berpotensi mengubah lanskap pembayaran digital di kawasan, termasuk menjadi referensi bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Bank Sentral Brasil tengah menjajaki keterhubungan antara sistem pembayaran instan andalannya, Pix, dengan platform serupa di luar negeri. Langkah ini merupakan dorongan nyata menuju integrasi lintas batas, di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat yang menuding praktik tersebut tidak adil dan menjadi dasar pengenaan tarif baru atas barang-barang Brasil.
Dalam laporan terbaru mengenai Pix, otoritas moneter Brasil menegaskan bahwa menghubungkan sistem pembayaran instan antarnegara dapat menekan biaya, mempercepat transaksi, memperluas akses, serta meningkatkan transparansi dalam pembayaran internasional. Pernyataan ini jauh lebih tegas dibandingkan laporan manajemen Pix sebelumnya pada 2023 yang hanya menyebutkan bahwa platform tersebut "mungkin di masa depan" akan diintegrasikan dengan sistem pembayaran instan global.
Laporan itu juga mengungkapkan bahwa otoritas Brasil sedang membahas koneksi bilateral dan partisipasi dalam hub pembayaran multilateral. Sebelumnya, pada Juli lalu, bank sentral mengonfirmasi telah menandatangani perjanjian berbagi informasi tentang Pix dengan 65 mitra asing, mulai dari Jerman, Kanada, hingga Afrika Selatan dan Turki.
Sejak diluncurkan pada akhir 2020, Pix telah mengubah lanskap pembayaran Brasil secara fundamental. Sistem ini memungkinkan transfer real-time melalui aplikasi perbankan, menawarkan layanan gratis untuk transaksi antarindividu, serta biaya yang jauh lebih murah bagi pedagang dibandingkan jalur kartu kredit tradisional. Dampaknya, pangsa kartu debit dan kredit tergerus, mempengaruhi jaringan pembayaran global seperti Mastercard dan Visa.
Keberhasilan Pix juga membawa jutaan warga Brasil yang sebelumnya belum tersentuh layanan keuangan formal masuk ke dalam sistem. Namun, di sisi lain, sistem ini menjadi sorotan dalam investigasi dagang yang dilakukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Investigasi yang rampung pada Juli lalu itu menyoroti peran ganda bank sentral Brasil sebagai operator sekaligus regulator Pix, yang dinilai menciptakan ketidakadilan. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pengenaan tarif 25 persen untuk impor Brasil.
Menanggapi tekanan tersebut, bank sentral Brasil kembali menegaskan bahwa Pix adalah infrastruktur digital publik yang krusial. Mereka tampaknya tidak bergeming, justru mempercepat rencana ekspansi internasional. Langkah ini bisa menjadi sinyal bagi negara-negara berkembang lain, termasuk Indonesia, yang tengah mengembangkan sistem pembayaran cepat serupa.
Di Indonesia, Bank Indonesia tengah membangun BI-FAST yang memiliki semangat serupa: inklusi keuangan dan efisiensi transaksi. Jika Brasil berhasil mengintegrasikan Pix dengan sistem global, hal itu bisa menjadi peta jalan bagi interoperabilitas pembayaran di kawasan Asia Tenggara. Namun, tantangan regulasi dan geopolitik juga mengintai, terutama jika sistem tersebut dianggap mengganggu dominasi pemain besar seperti Visa dan Mastercard.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah integrasi Pix akan berjalan mulus di tengah resistensi AS, dan apakah negara-negara lain akan mengikuti jejak Brasil dalam membangun infrastruktur pembayaran yang lebih mandiri. Bagi Indonesia, perkembangan ini layak dicermati sebagai bahan pembelajaran dalam merancang kebijakan pembayaran digital yang tidak hanya efisien, tetapi juga tahan terhadap tekanan eksternal.



