Format Piala Dunia 2027 Berubah Mendadak, Skotlandia dan Belanda Protes Keras ke ICC
Baca dalam 60 detik
- Dewan Kriket Skotlandia dan Asosiasi Kriket Belanda mengecam perubahan format Piala Dunia ODI 2027 yang diumumkan mendadak oleh ICC.
- Format baru dinilai memangkas peluang negara berkembang (Associate Member) untuk tampil di turnamen, hanya menyisakan satu dari tiga tim yang lolos dari babak Super Series.
- Kritik ini muncul di tengah upaya kriket global memperluas pasar, termasuk di Asia dan Afrika, dan berpotensi mempengaruhi strategi pengembangan olahraga ini.

Keputusan Dewan Kriket Internasional (ICC) mengubah format Piala Dunia ODI 2027 menuai protes keras dari dua anggota asosiasi, Skotlandia dan Belanda. Kedua federasi menilai perubahan yang diumumkan kurang dari 18 bulan sebelum turnamen itu sebagai bentuk pengabaian terhadap nasib negara-negara berkembang dalam pentas kriket dunia.
Dalam format baru yang diperkenalkan ICC, tim peringkat 12 hingga 14 pada babak kualifikasi akan bersaing dalam babak Super Series berbentuk tri-series. Hanya satu tim yang berhak melaju ke babak kedua, di mana 12 tim akan dibagi ke dalam dua grup. Skotlandia dan Belanda, yang selama ini kerap menjadi wakil Associate Member di turnamen global, menilai aturan ini mempersempit ruang bagi negara non-Full Member untuk tampil di kompetisi paling prestisius.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Senin (10/8), kedua federasi menyebut kurangnya komunikasi dari ICC sebagai tindakan yang “mengecewakan dan tidak menghormati”. Mereka menegaskan bahwa perubahan ini merupakan kemunduran bagi kriket Associate Member dan berisiko menggerus progres yang telah dibangun selama bertahun-tahun untuk mengembangkan olahraga ini secara global.
“Di saat kriket berusaha memperluas jangkauan, menarik audiens baru, dan memperkuat posisinya di panggung olahraga internasional, mengurangi kesempatan bermakna bagi negara-negara berkembang justru mengirim pesan yang keliru,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut. Associate Member adalah negara yang tergabung dalam ICC tetapi tidak memiliki status Full Member, yang hanya dimiliki oleh negara-negara dengan tradisi kriket kuat seperti India, Australia, dan Inggris.
Perubahan format ini juga berpotensi berdampak pada peta persaingan kriket global. Dengan hanya satu dari tiga tim yang lolos, persaingan di babak Super Series akan semakin ketat dan tidak memberi ruang bagi kejutan. Padahal, dalam beberapa edisi terakhir, tim-tim seperti Belanda dan Skotlandia kerap menjadi lawan tangguh bagi tim-tim besar, bahkan mampu mencatat kemenangan bersejarah.
Bagi Indonesia, meski kriket belum menjadi olahraga populer, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Indonesia sendiri merupakan anggota Associate Member ICC dan tengah berupaya mengembangkan kriket di tingkat Asia Tenggara. Jika ICC terus mengurangi porsi kompetisi bagi negara berkembang, maka peluang Indonesia untuk tampil di ajang global semakin kecil. Padahal, kriket mulai mendapat perhatian di Indonesia, terutama setelah timnas kriket putri meraih hasil positif di beberapa turnamen regional.
Para pengamat menilai keputusan ICC ini bisa menjadi bumerang bagi upaya globalisasi kriket. Dengan fokus pada komersialisasi dan melindungi kepentingan negara-negara besar, ICC justru berisiko kehilangan daya tarik di pasar-pasar baru. Apalagi, kriket tengah berusaha menembus pasar Amerika Serikat dan Eropa, di mana kompetisi yang inklusif menjadi kunci untuk menarik minat penonton baru.
Pertanyaan besarnya, apakah ICC akan bersedia meninjau kembali keputusan ini setelah mendengar protes dari Skotlandia dan Belanda? Atau justru akan ada lebih banyak negara Associate Member yang bersuara? Yang jelas, tekanan terhadap ICC semakin besar untuk lebih transparan dan melibatkan semua pemangku kepentingan dalam setiap perubahan regulasi. Jika tidak, kriket bisa kehilangan esensi kompetitifnya yang selama ini menjadi daya tarik utama.



