Wasit Somalia Cetak Sejarah di UEFA Super Cup: Bukti Mimpi Tak Kenal Batas
Baca dalam 60 detik
- Omar Artan menjadi wasit non-Eropa pertama yang memimpin UEFA Super Cup, sebuah tonggak sejarah bagi sepak bola Afrika.
- Pencapaian ini menegaskan meningkatnya kepercayaan UEFA terhadap wasit Afrika, sejalan dengan kerja sama resmi UEFA-CAF.
- Kisah Artan, yang sempat gagal bertugas di Piala Dunia karena larangan masuk AS, mengirim pesan inspiratif bagi wasit muda di Indonesia.

Wasit asal Somalia, Omar Artan, akan menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola Eropa. Rabu (13/8) malam WIB, ia dipercaya memimpin laga puncak UEFA Super Cup yang mempertemukan Paris Saint-Germain (PSG) melawan Aston Villa di Salzburg, Austria. Penunjukan ini menjadikannya wasit non-Eropa pertama yang memimpin partai sebesar itu, sebuah sinyal kuat bahwa talenta wasit Afrika kini diperhitungkan di panggung tertinggi.
Pria berusia 34 tahun itu bukan nama asing di kancah persepak bolaan Afrika. Sebelumnya, ia telah menjadi wasit Somalia pertama yang memimpin final Liga Champions CAF dan dinobatkan sebagai Wasit Pria Terbaik CAF tahun lalu. Prestasi itu membuat UEFA, di bawah perjanjian kerja sama dengan CAF yang ditandatangani tahun ini, menunjuknya untuk laga akbar tersebut. "Ini kehormatan besar bagi Omar Artan dan seluruh wasit Afrika," ujar Presiden CAF, Patrice Motsepe, dalam pernyataan resmi yang dirilis UEFA, Senin (11/8).
Namun, perjalanan Artan menuju puncak tidaklah mulus. Ia sebenarnya telah terpilih untuk bertugas di Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, mimpi itu pupus ketika otoritas imigrasi AS menolak masuknya ia di bandara, meski telah memegang visa yang sah. Penolakan itu diduga kuat terkait kebijakan imigrasi ketat pemerintahan Donald Trump, yang memberlakukan larangan perjalanan bagi warga dari sejumlah negara, termasuk Somalia.
Artan mengaku masa itu menjadi ujian terberat dalam kariernya. "Sangat sulit. Banyak orang bersimpati, karena ketika seseorang telah bekerja keras bertahun-tahun dan seharusnya tampil, lalu tiba-tiba tidak bisa, itu sungguh menantang," kenangnya. Meski demikian, ia menolak larut dalam kekecewaan. Baginya, kegagalan adalah batu loncatan. "Saya percaya jika saya bisa sukses, semua orang juga bisa. Jangan pernah berhenti bermimpi," tegasnya.
Kisah Artan menjadi cermin bagi perkembangan wasit di Indonesia. Di tengah sorotan tajam terhadap kualitas kepemimpinan wasit Liga 1, karier Artan menunjukkan bahwa jam terbang dan prestasi di kompetisi regional adalah kunci untuk menembus level tertinggi. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memang telah berupaya meningkatkan kualitas wasit lokal melalui program pelatihan dan sertifikasi. Namun, jalan masih panjang. Apakah Indonesia mampu melahirkan wasit sekelas Artan yang bisa memimpin laga final Eropa? Jawabannya bergantung pada komitmen kita untuk tidak berhenti bermimpi.
Laga nanti malam tidak hanya menentukan juara antara jawara Liga Champions dan Liga Europa, tetapi juga menjadi panggung pembuktian bagi Artan. Ia akan memimpin pertandingan dengan pengawasan ketat dari puluhan juta pasang mata di seluruh dunia. Jika ia mampu tampil tenang dan tegas, bukan tidak mungkin ia akan dipercaya memimpin laga-laga besar lainnya, termasuk final Piala Dunia. Pertanyaannya, apakah ini awal dari era baru di mana wasit dari luar Eropa mendapat tempat yang setara di kompetisi elit? Ataukah ini hanya seremonial belaka? Waktu yang akan menjawab.