Geng Penculik Berkedok Lowongan Kerja: Dua Tewas Baku Tembak, Empat Korban Diselamatkan
Baca dalam 60 detik
- Operasi kepolisian di Alor Setar menewaskan dua tersangka penculikan dan menyelamatkan dua warga asing, mengungkap jaringan yang menargetkan korban melalui aplikasi kencan.
- Dua korban lain ditemukan di Kuala Lumpur pada Juli, salah satunya melarikan diri dan melapor, menunjukkan pola sindikat yang beroperasi di beberapa kota.
- Polisi Malaysia tengah berkoordinasi dengan mitra internasional untuk menelusuri jejak kriminal tersangka, membuka peluang pengungkapan jaringan yang lebih luas.

KUALA LUMPUR โ Baku tembak antara polisi dan dua tersangka penculikan di Alor Setar pada Jumat malam (7/8) mengungkap jaringan kejahatan yang lebih luas dari perkiraan awal. Direktur Departemen Investigasi Kriminal Bukit Aman, Komisaris Datuk M. Kumar, mengonfirmasi bahwa sindikat ini telah menargetkan sedikitnya empat korban, dua di antaranya berhasil diselamatkan dalam operasi dramatis di Taman Amira, Telaga Bata, sekitar pukul 20.40 waktu setempat.
Kedua tersangka yang tewas diduga warga negara asing, sementara enam individu lain, termasuk seorang pria lokal berusia 34 tahun, telah ditangkap untuk membantu penyelidikan. Namun, pengungkapan yang lebih mencemaskan adalah modus operandi sindikat yang memanfaatkan platform digital untuk menjaring korban, mulai dari aplikasi kencan hingga media sosial seperti Telegram, WeChat, dan Badoo.
Menurut Kumar, dua korban yang diselamatkan di Alor Setar adalah seorang pria asal Singapura berusia 72 tahun dan seorang perempuan warga China berusia 33 tahun. Keduanya diiming-imingi peluang kerja di Malaysia. Pria Singapura itu dilaporkan meninggalkan rumahnya pada 26 Juli untuk pergi ke Penang, lalu hilang kontak. Pada 4 Agustus, ia mengirim pesan suara melalui WhatsApp kepada keluarganya, mengaku ditawan dan hanya akan dibebaskan jika tebusan sebesar SG$1 juta (sekitar RM3,19 juta) dibayarkan.
Sementara itu, korban perempuan mengaku diculik sekelompok orang tak dikenal pada 5 Agustus, setelah sebelumnya berkenalan dengan seorang wanita asing melalui WeChat yang mengajaknya ke Penang untuk bertemu seorang pria. Para penculik kemudian menuntut tebusan sebesar USDt20.000 (sekitar RM82.000 dalam mata uang kripto Tether) dan mengancam akan mengirimnya ke Myanmar. Korban terpaksa menghubungi keluarganya di China untuk meminjam uang.
Yang menarik, polisi mengungkap bahwa korban-korban ini tidak saling mengenal dan tidak memiliki hubungan sebelumnya dengan para tersangka. Mereka dijaring melalui pendekatan online yang menawarkan liburan, pekerjaan, atau kegiatan sosial. Setelah bertemu langsung, korban langsung diculik dan dipaksa membuka informasi perbankan. Mereka juga diinstruksikan untuk menghubungi keluarga atau teman untuk meminta uang sebagai tebusan. Kedua korban di Alor Setar menunjukkan tanda-tanda penyiksaan, termasuk luka akibat benda tajam.
Kumar menambahkan bahwa jumlah tebusan bersifat fleksibel karena para penculik menginginkan uang cepat. Uang tebusan biasanya ditransfer ke rekening korban yang kemudian diambil alih oleh penculik. Polisi telah mengidentifikasi satu transaksi di mana sejumlah uang tebusan ditarik dari rekening salah satu korban. Sindikat ini juga diduga memiliki kaitan dengan kasus penculikan di Kuala Lumpur pada Juli, di mana seorang korban berhasil melarikan diri dan melapor, sehingga polisi dapat menyelamatkan korban keempat.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi peringatan akan maraknya penculikan bermodus online yang menyasar warga asing di kawasan Asia Tenggara. Modus yang sama pernah terjadi di Indonesia, di mana korban diiming-imingi pekerjaan atau pertemuan bisnis, lalu diculik dan dimintai tebusan. Polisi Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah perbatasan dan kota-kota besar, serta memperkuat kerja sama dengan kepolisian Malaysia dan negara lain untuk membongkar jaringan ini.
โKami berkomitmen memberantas aktivitas kriminal untuk memastikan Malaysia tetap menjadi negara yang aman untuk ditinggali dan dikunjungi,โ ujar Komisaris Datuk M. Kumar.
Polisi Malaysia kini bekerja sama dengan mitra internasional untuk menelusuri catatan kriminal tersangka asing yang ditangkap. Pertanyaannya, apakah jaringan ini hanya bagian dari sindikat yang lebih besar yang beroperasi di beberapa negara? Atau adakah korban lain yang belum teridentifikasi? Pengungkapan lebih lanjut akan menentukan sejauh mana ancaman ini dan bagaimana negara-negara di kawasan dapat bersinergi untuk melindungi warganya.



