Ekosistem Mobil Listrik Subang Dikebut, Prabowo Targetkan Produksi Massal 2028
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo mengumumkan pembangunan ekosistem kendaraan listrik di Purwakarta-Subang dengan target produksi massal pada 2028.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi mengurangi ketergantungan impor BBM yang mencapai 28-30 miliar dolar AS per tahun.
- Pemerintah menyiapkan insentif seperti tukar tambah untuk mendorong adopsi kendaraan listrik di masyarakat.

Presiden Prabowo Subianto memastikan pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional di kawasan Purwakarta-Subang, Jawa Barat, akan memasuki tahap produksi massal paling lambat tahun 2028. Pernyataan ini disampaikan di sela peluncuran motor listrik nasional di Bekasi, Kamis, sekaligus menegaskan arah kebijakan energi pemerintah yang ingin memutus ketergantungan pada bahan bakar impor.
Lokasi yang disebutkan berada di kilometer 84 jalur Purwakarta-Subang itu akan menjadi pusat perakitan mobil listrik, melengkapi ekosistem yang sudah mulai terbentuk dari hulu ke hilir. Prabowo menekankan bahwa penguasaan teknologi menjadi kunci keberhasilan suatu bangsa di era modern, dan Indonesia dengan kekayaan sumber daya alamnya harus mampu mengelola potensi tersebut melalui inovasi dan riset.
Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari beban fiskal yang ditanggung negara akibat impor minyak mentah dan BBM. Setiap tahun, Indonesia mengeluarkan devisa sekitar 28-30 miliar dolar AS untuk kebutuhan energi fosil. Dengan beralih ke listrik, pemerintah berharap dapat menekan angka tersebut sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Pengembangan kendaraan listrik tidak hanya terbatas pada mobil dan motor. Prabowo menyebut akan memperluas penggunaan listrik ke bus umum hingga traktor pertanian. Menurutnya, elektrifikasi di berbagai sektor akan membuat masyarakat lebih aman dan sejahtera karena biaya operasional yang jauh lebih rendah.
Dari sisi konsumen, pemerintah mengklaim penghematan yang bisa diperoleh pengguna motor listrik mencapai 50-70 persen dibandingkan motor bensin. Untuk mempercepat adopsi, tengah disiapkan skema tukar tambah kendaraan lama dengan kendaraan listrik baru. Insentif ini diharapkan mampu mengatasi salah satu hambatan utama, yaitu harga awal yang masih relatif tinggi.
Pemerintah juga menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt dalam empat tahun ke depan. Langkah ini sejalan dengan upaya mengurangi penggunaan pembangkit diesel yang dinilai tidak efisien dan kurang ramah lingkungan. Kombinasi antara kendaraan listrik dan energi terbarukan diharapkan menciptakan siklus yang saling menguatkan.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo mengapresiasi produsen motor listrik lokal yang telah memproduksi 20 ribu unit. Ia mendorong agar angka tersebut ditingkatkan menjadi 200 ribu unit, dan selanjutnya menembus dua juta unit. Apresiasi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah serius mendukung industri dalam negeri di tengah persaingan ketat dengan pemain global seperti Jepang, Korea Selatan, dan China.
Bagi Indonesia, keberhasilan proyek ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan daya saing industri nasional. Namun, tantangan besar masih membentang, mulai dari kesiapan infrastruktur pengisian daya, ketersediaan baterai, hingga daya beli masyarakat.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu membangun ekosistem kendaraan listrik, melainkan seberapa cepat dan konsisten kebijakan ini dijalankan. Akankah target 2028 tercapai tepat waktu, atau justru menjadi babak baru dalam perjalanan panjang industrialisasi otomotif nasional?



