Mantan Anggota Parlemen Thailand Tembak Pejabat Lokal, Lalu Mengaku di Siaran Langsung YouTube
Baca dalam 60 detik
- Chalong Reawraeng, mantan anggota parlemen Thailand, menembak mati seorang pejabat setempat di Nonthaburi dan kemudian mengakui perbuatannya melalui panggilan ke siaran langsung YouTube.
- Insiden ini memicu kembali perdebatan tentang kepemilikan senjata di Thailand, yang memiliki tingkat kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara.
- Pemerintah Thailand berjanji memperketat undang-undang senjata setelah dua insiden penembakan dalam sepekan, termasuk penembakan di sekolah yang menewaskan delapan orang.

Seorang mantan anggota parlemen Thailand, Chalong Reawraeng, diduga menembak mati seorang pejabat lokal di provinsi Nonthaburi, kemudian menelepon seorang komentator politik yang sedang melakukan siaran langsung di YouTube untuk mengakui perbuatannya. Insiden ini terjadi pada Senin (6/10) dan menambah daftar panjang kekerasan bersenjata di Thailand, yang kini menjadi sorotan publik.
Korban, Thongchai Yenprasert, adalah pensiunan kolonel polisi yang menjabat sebagai presiden Organisasi Administratif Provinsi Nonthaburi (PAO). Ia terkena tembakan di leher dan meninggal dunia di rumah sakit, sementara sopirnya mengalami luka tembak di lengan dan tangan. Chalong, yang sebelumnya mewakili Nonthaburi di parlemen, ditangkap tak lama setelah kejadian, namun ia sempat menggelar konferensi pers di kantor polisi sambil merokok untuk menjelaskan aksinya.
Dalam konferensi pers tersebut, Chalong mengaku bahwa Thongchai adalah "teman baik"-nya dan ia tidak berniat menembaknya. Ia mengklaim bahwa Thongchai menolak berbicara dengannya dan justru mendorongnya, lalu sopir Thongchai mengeluarkan senjata dan mengarahkan ke arahnya, sehingga ia terpaksa melepaskan tembakan. Namun, laporan media lokal menyebutkan bahwa keduanya terlibat dalam perselisihan pribadi yang belum jelas akar masalahnya.
Kejadian ini menjadi semakin dramatis karena Chalong memilih untuk mengakui perbuatannya melalui panggilan telepon ke Anchalee Paireerak, seorang komentator politik yang sedang melakukan siaran langsung di YouTube. Dalam video yang beredar, Anchalee terlihat kaget dan bertanya, "Apakah dia mati? Apakah dia mati? Kau menembak kepalanya? Kau harus menunggu polisi di sana. Jangan ke mana-mana." Meskipun suara Chalong tidak terdengar jelas, reaksi Anchalee menunjukkan betapa seriusnya pengakuan tersebut.
Penembakan ini terjadi hanya tiga hari setelah seorang remaja berusia 14 tahun menembak mati delapan orang di rumah dan sekolahnya, kemudian bunuh diri. Peristiwa tersebut merupakan penembakan massal terburuk di Thailand sejak 2022. Meskipun kedua insiden ini tidak saling terkait, keduanya memicu kembali perdebatan tentang pengendalian senjata di Thailand, yang memiliki tingkat kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara dengan selisih yang cukup jauh.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, telah memerintahkan penegakan hukum yang lebih ketat terhadap kepemilikan senjata dan mendirikan pos pemeriksaan sebagai bagian dari upaya penindakan. Langkah lain termasuk memperketat kontrol atas kepemilikan, membawa, dan penggunaan senjata api. Namun, kebijakan ini dipertanyakan efektivitasnya mengingat tingginya angka kepemilikan senjata di masyarakat.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya regulasi senjata yang ketat. Meskipun Indonesia memiliki aturan yang relatif ketat, kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa kepemilikan senjata ilegal masih menjadi ancaman. Pemerintah Indonesia perlu terus memperkuat pengawasan dan penegakan hukum untuk mencegah terulangnya insiden serupa di dalam negeri.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah Thailand akan mampu menekan angka kepemilikan senjata di tengah kuatnya budaya senjata dan politik lokal yang sering kali melibatkan kekerasan. Akankah langkah-langkah yang diambil pemerintah cukup efektif untuk mencegah tragedi berikutnya? Masyarakat Thailand, dan juga kawasan, akan mengawasi dengan saksama.



