Gelombang Serangga Migran Serbu Inggris, Sinyal Krisis Iklim di Belahan Utara
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah spesies serangga dari Eropa selatan dan Afrika utara tercatat pertama kali di Inggris sepanjang musim panas 2026.
- Pemanasan global disebut sebagai pemicu utama pergeseran populasi serangga ke arah utara, meski faktor lain seperti pemulihan habitat turut berperan.
- Fenomena ini berpotensi mengubah keseimbangan ekosistem pertanian dan kesehatan masyarakat, termasuk di Indonesia yang menghadapi dinamika serupa.

Gelombang migrasi serangga dari wilayah selatan Eropa dan Afrika Utara dilaporkan membanjiri Inggris sepanjang musim panas 2026, memicu serangkaian penemuan spesies baru di daratan utama negara itu. Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa perubahan iklim tengah mengubah peta distribusi fauna global, dengan konsekuensi yang bisa meluas hingga ke kawasan tropis seperti Indonesia.
Laporan dari berbagai penjuru Inggris menunjukkan lonjakan signifikan spesies yang biasanya menghuni wilayah beriklim lebih hangat. Seorang ekolog di Knepp Estate, Sussex Barat, Matt Phelps, tanpa sengaja mendengar suara nyaring mirip jangkrik dari dalam tanah pada suatu malam Juli. Setelah tiga jam pencarian, ia dan rekannya menemukan jangkrik Verge (Eumodicogryllus bordigalensis) โ spesies yang belum pernah tercatat di Kepulauan Inggris. Menurut Phelps, kemunculan itu bertepatan dengan kebakaran hutan besar di Bordeaux, Prancis, sehingga memunculkan dugaan bahwa sebagian serangga tersebut mengungsi dari kobaran api di Eropa selatan.
Penemuan itu bukan kasus tunggal. Seorang pensiunan sekretaris di Cheshire Utara, Jackie Harmer, menemukan ngengat Odice pergrata yang berasal dari Semenanjung Iberia saat baru sepekan menekuni hobi perangkap ngengat. Di Essex Utara, seorang pedagang kota, David Cousins, mendapati ngengat putih dengan tanda kebiruan yang ternyata merupakan genus yang sama sekali belum pernah teridentifikasi di Inggris โ dikenal sebagai spotted seal moth (Enolmis acanthella) di Afrika Utara dan Eropa selatan. Sementara itu, seorang remaja 18 tahun di Truro, Olly McKeown, bahkan tidak perlu keluar kamar untuk menemukan belalang sembah yang berkembang biak pertama kali di daratan Inggris; ia melihatnya merayap di atas keyboard dan sekitar perabot kamarnya.
Liam Crowley, entomolog dari Universitas Oxford dan fellow Royal Entomological Society, menilai penjelasan paling sederhana dari pergeseran ini adalah pemanasan global yang mendorong serangga bergerak ke utara. Namun ia menggarisbawahi bahwa dinamika yang terjadi sangat kompleks. "Ada banyak faktor berbeda yang bekerja dan sulit mengetahui penyebab pastinya," ujarnya. Ia mencontohkan serangga yang dulu menghuni Inggris seabad lalu mungkin punah lokal akibat perusakan habitat, lalu kembali ketika alam dipulihkan atau ketika krisis iklim menjadikannya pilihan terakhir. Crowley juga mengingatkan bahwa sebagian kedatangan bisa jadi bagian dari proses yang berlangsung sejak zaman es berakhir 11.700 tahun lalu. "Sebagai manusia, kita cenderung terobsesi pada skala waktu kita sendiri," katanya.
Yang lebih mencolok, menurut Crowley, adalah ledakan migrasi musim panas ini. "Setiap tahun ada triliunan serangga yang tiba di Inggris, bermigrasi dari benua dan bahkan Afrika utara. Mereka terbang tinggi ke aliran udara dan memanfaatkannya sebagai pengangkat," jelasnya. Dengan suhu yang memecahkan rekor, tahun ini menjadi musim yang sangat subur bagi serangga migran, terutama spesies yang mencolok seperti ngengat hummingbird hawk dan hoverfly. Beberapa spesies mulai berkembang biak dan berpotensi bertahan melewati musim dingin di wilayah selatan Inggris.
Harry Witts, yang menemukan dua spesies baru pada Juli, mengaku memiliki perasaan campur aduk. Kegembiraan atas penemuan diimbangi kesadaran bahwa "itu hanya terjadi karena perubahan iklim โ gejala dari kekuatan yang sangat merusak di dunia kita." Witts, yang bekerja di Essex Wildlife Trust, menemukan belalang bersayap biru (Sphingonotus caerulans) di Colne Point, Essex, yang ia yakini sebagai kedatangan alami pertama di daratan utama, bukan sekadar penumpang terowongan Channel. Beberapa hari kemudian, ia dan rekannya menemukan spesies kepik bermata besar (Geocoris megacephalus) di lokasi yang sama.
"Kadang-kadang Anda akan menemukan sesuatu yang menjadi lebih bermasalah karena mengalahkan spesies lain. Tapi umumnya banyak yang datang sendiri tidak cenderung seperti itu," kata Phelps.
Menurut Crowley, sebagian besar pendatang ini, jika bertahan hidup dan menetap, akan menemukan relung ekologisnya dan bahkan dapat memperkaya ekosistem. Namun, ia tidak menampik potensi gangguan terhadap keseimbangan yang ada. Phelps menambahkan bahwa spesies yang datang secara alami jarang menimbulkan masalah besar, meski tetap ada kemungkinan kompetisi dengan spesies lokal.
Konteks Indonesia
Fenomena pergeseran serangga ke utara akibat pemanasan global bukan hanya cerita Inggris. Indonesia, sebagai negara tropis dengan keanekaragaman hayati tertinggi, menghadapi risiko serupa: perubahan iklim dapat mengubah pola migrasi hama pertanian, vektor penyakit, dan keseimbangan ekosistem. Kenaikan suhu permukaan laut dan daratan telah memicu pergeseran wilayah tangkap ikan dan distribusi nyamuk Aedes aegypti pembawa demam berdarah ke daerah yang sebelumnya tidak endemis. Jika tren pemanasan berlanjut, spesies invasif dari wilayah lain bisa masuk dan mengancam produksi pangan serta kesehatan masyarakat. Pemerintah dan peneliti perlu memperkuat sistem pemantauan biodiversitas serta kesiapsiagaan menghadapi lonjakan populasi serangga yang tidak terduga.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah serangga akan terus bergerak ke utara, melainkan seberapa cepat dan sejauh mana dampaknya terhadap ekosistem dan manusia. Bagi Indonesia, kewaspadaan dini terhadap perubahan distribusi serangga menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi adaptasi iklim dan ketahanan pangan.



