Nairobi Resmi Lamar Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Atletik 2029, Incar Sejarah Baru untuk Afrika
Baca dalam 60 detik
- Kenya secara resmi mengajukan diri sebagai tuan rumah Kejuaraan Dunia Atletik 2029, berpotensi menjadi negara Afrika pertama yang menyelenggarakan ajang tersebut.
- Bersaing dengan London, Roma, dan Munich, Nairobi mengandalkan dukungan penuh pemerintah serta rekam jejak sukses menyelenggarakan berbagai event atletik internasional.
- Keputusan final akan diumumkan World Athletics pada September mendatang, yang dapat mengubah peta penyelenggaraan olahraga global.

Nairobi secara resmi telah menyerahkan proposal pencalonannya untuk menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Atletik 2029, sebuah langkah yang dapat mengukir sejarah sebagai kota Afrika pertama yang menyelenggarakan ajang olahraga paling prestisius di cabang atletik tersebut. Pengajuan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah pernyataan ambisi dari negara yang selama ini dikenal sebagai kiblat pelari jarak jauh dunia.
Dalam persaingan memperebutkan hak tuan rumah, ibu kota Kenya ini harus bersaing ketat dengan tiga kota Eropa: London, Roma, dan Munich. Ketiganya memiliki infrastruktur olahraga kelas dunia dan pengalaman panjang dalam menyelenggarakan event internasional. Namun, Nairobi datang dengan modal yang tidak dimiliki kota lain: dukungan penuh dari pemerintah Kenya, yang telah berkomitmen untuk menyediakan infrastruktur, keamanan, dan dukungan organisasi yang diperlukan.
Komitmen ini bukan tanpa dasar. Kenya telah membuktikan kemampuannya dalam menyelenggarakan berbagai kejuaraan atletik bergengsi, mulai dari Kejuaraan Dunia Cross Country 2007 di Mombasa, Kejuaraan Dunia U-18 di Nairobi pada 2017, hingga Kejuaraan Dunia U-20 pada 2021. Selain itu, Nairobi juga pernah menjadi tuan rumah Kejuaraan Atletik Afrika pada 2010. Rekam jejak ini menjadi bukti bahwa Kenya memiliki kapasitas untuk menggelar event sekelas Kejuaraan Dunia.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meski bukan pesaing langsung, keberhasilan Nairobi dapat menjadi inspirasi bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk berani bermimpi menjadi tuan rumah event olahraga dunia. Indonesia sendiri memiliki pengalaman menyelenggarakan Asian Games 2018 dan berbagai event internasional lainnya, namun belum pernah mengajukan diri untuk ajang sebesar Kejuaraan Dunia Atletik. Jika Nairobi berhasil, hal ini dapat membuka peluang bagi negara-negara Asia Tenggara untuk lebih percaya diri dalam mencalonkan diri di masa depan.
Para analis olahraga menilai bahwa pencalonan Nairobi membawa angin segar bagi upaya mendekolonisasi peta olahraga global. Selama ini, Kejuaraan Dunia Atletik hampir selalu digelar di Eropa atau Amerika Utara. Kehadiran Afrika sebagai tuan rumah tidak hanya akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Kenya, tetapi juga mengirimkan pesan kuat tentang kesetaraan dan inklusivitas dalam dunia olahraga. Namun, tantangan besar tetap membayangi, terutama terkait kesiapan infrastruktur dan logistik yang harus dikejar dalam waktu singkat.
Dengan pengumuman yang dijadwalkan pada September mendatang, dunia olahraga akan menyaksikan apakah Nairobi mampu mewujudkan ambisinya. Apakah ini akan menjadi titik balik bagi Afrika untuk lebih diperhitungkan dalam panggung olahraga global, atau justru menjadi pelajaran berharga tentang kesenjangan yang masih ada? Pertanyaan ini hanya akan terjawab seiring berjalannya waktu.



