Legenda Milan Roberto Donadoni: 'Saya Akan Menjambak Rambut Leao'
Baca dalam 60 detik
- Legenda AC Milan, Roberto Donadoni, mengkritik inkonsistensi Rafael Leao dan menyebut akan menegurnya secara fisik di ruang ganti.
- Leao dikabarkan ingin hengkang, namun hanya klub Turki yang serius dan tak ada yang berani membayar mahar โฌ50 juta.
- Donadoni menilai Milan tak seharusnya mengubah formasi demi menyesuaikan gaya main Leao, melainkan pemain yang harus beradaptasi.

Legenda AC Milan, Roberto Donadoni, melontarkan kritik pedas terhadap performa Rafael Leao yang dinilai inkonsisten. Dalam wawancara dengan MilanNews, Donadoni mengaku tak segan menjambak rambut gimbal Leao sebagai bentuk teguran di ruang ganti. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi kepergian pemain sayap asal Portugal itu dari San Siro pada bursa transfer musim panas ini.
Leao memang santer diberitakan ingin meninggalkan Rossoneri, dengan alasan siap mencari tantangan baru. Namun, sikap tersebut justru memicu kekecewaan suporter yang geram dengan penampilannya yang naik turun. Alhasil, tawaran besar yang diharapkan tak kunjung datang. Hingga saat ini, hanya klub-klub asal Turki seperti Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas yang menunjukkan minat serius, namun tak satu pun bersedia memenuhi banderol โฌ50 juta plus bonus yang dipatok manajemen Milan.
Menanggapi situasi tersebut, Donadoni, yang merupakan bagian dari generasi emas Milan era 1980-1990-an, memberikan pandangannya. Menurutnya, Leao adalah pemain dengan bakat di atas rata-rata, tetapi konsistensi menjadi kelemahan utamanya. "Dia sering dibicarakan karena apa yang tidak dia lakukan, bukan apa yang dia lakukan," ujar Donadoni. Ia berharap berbagai kritik yang menerpa Leao bisa menjadi cambuk untuk menyadarkan pemain berusia 25 tahun itu agar bisa menjadi juara sejati, bukan sekadar kilatan-kilatan brilliance sesaat.
Lebih lanjut, Donadoni juga menyoroti perdebatan mengenai formasi anyar Milan di bawah pelatih anyar Ruben Amorim. Banyak yang menilai skema 3-4-2-1 kurang cocok dengan karakteristik Leao yang lebih leluasa bergerak di sisi sayap. Namun, Donadoni justru menilai sebaliknya. Sebagai mantan pemain yang kerap beradaptasi dengan berbagai posisi, ia menegaskan bahwa pemainlah yang harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan tim, bukan sebaliknya. "Jika kita masih membahas apakah Milan perlu mengubah sistem untuk mengakomodasi Leao, maka kita sudah kalah," tegasnya.
Kritik Donadoni ini menjadi pengingat bahwa di klub sebesar AC Milan, standar performa sangat tinggi. Bagi para penggemar sepak bola di Indonesia, kisah ini juga relevan mengingat banyak pemain muda berbakat yang kerap menghadapi masalah serupa: bakat besar namun inkonsisten. Fenomena ini juga terjadi di Liga 1, di mana beberapa pemain muda bersinar di satu musim namun meredup di musim berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa mentalitas dan etos kerja sama pentingnya dengan bakat alami.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Leao bertahan dan membuktikan diri di bawah Amorim, atau memilih hengkang ke liga yang lebih rendah persaingannya? Keputusan ini akan menentukan arah kariernya, sekaligus menjadi ujian bagi manajemen Milan dalam mempertahankan aset berharganya. Jika Leao mampu menjawab kritik dengan performa konsisten, ia bisa menjadi pilar utama tim. Namun, jika tidak, bukan tidak mungkin ia akan menjadi catatan kaki dalam sejarah panjang klub.



