Megawati dan Lintas Generasi Hadir di Peluncuran Otobiografi Erros Djarot: Kebenaran yang Tak Pernah Usai
Baca dalam 60 detik
- Megawati Soekarnoputri bersama keluarga besar Soekarno dan tokoh politik hadir dalam peluncuran buku otobiografi Erros Djarot jilid 2 dan 3 di Gedung Kesenian Jakarta.
- Acara ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi terhadap kontribusi Erros di seni dan politik, tetapi juga ruang refleksi atas pesan moral tentang keberanian menyampaikan kebenaran.
- Kehadiran lintas generasi, dari seniman hingga politisi seperti Anies Baswedan, menandai pengaruh Erros yang melampaui batas zaman dan ideologi.

Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menjadi pusat perhatian dalam peluncuran buku otobiografi Erros Djarot jilid kedua dan ketiga di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Minggu (9/2). Kehadirannya bukan sekadar seremoni, melainkan simbol eratnya persahabatan dua tokoh yang sama-sama vokal dalam menyuarakan kebenaran.
Mengenakan batik merah-hitam, Megawati tiba didampingi Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, serta Ketua DPP PDIP Bintang Puspayoga. Duduk di deretan depan, ia tampak larut dalam diskusi yang dipandu wartawan senior Bambang Harymurti. Di sisi kanannya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno turut hadir, menambah daftar panjang tokoh yang memberi penghormatan terakhir kepada Erros, yang dikenal sebagai budayawan, politikus, dan mantan aktivis 1974.
Acara yang mengusung tema "Sampaikan kebenaran itu walau menyakitkan" ini bukanlah sekadar bedah buku. Ia menjadi ruang refleksi atas perjalanan hidup Erros yang penuh dinamika—dari aktivis mahasiswa, anggota DPR, hingga pengamat politik yang kerap melontarkan kritik tajam. Pesan moral yang disampaikan Erros dalam keterangan tertulisnya, "Sebelum kebenaran yang kau sembunyikan menggerogoti pikiran dan batinmu selamanya," seakan menjadi pengingat bagi generasi muda untuk berani bersikap jujur.
Di luar diskusi, panggung hiburan menampilkan deretan musisi papan atas seperti Once Mekel, Fryda Lucyana, gitaris Balawan, Dira Sugandi, dan Sastrani. Komposer Anwar Fauzi mengawal alunan musik, sementara Adi KLA dari KLA Project memberi penampilan spesial. Perpaduan diskusi serius dan hiburan ini berhasil menciptakan suasana yang hangat namun tetap reflektif.
Kehadiran Anies Baswedan di antara ratusan undangan menegaskan bahwa pengaruh Erros menembus sekat politik. Para seniman, budayawan, dan wartawan senior yang hadir menunjukkan bahwa Erros adalah jembatan antara dunia seni dan politik. Bagi publik Indonesia, acara ini menjadi pengingat bahwa sejarah dan perjuangan seseorang tidak pernah usai ditulis—ia terus hidup dalam setiap generasi.
Bagi pembaca di Indonesia, momen ini bukan hanya tentang nostalgia. Ia adalah cermin bahwa tokoh seperti Erros Djarot—yang pernah dipenjara karena kritiknya—tetap relevan di tengah hiruk-pikuk politik kekinian. Pertanyaannya, apakah generasi sekarang memiliki keberanian yang sama untuk menyuarakan kebenaran, sekalipun harus berhadapan dengan kekuasaan? Jawabannya mungkin tersirat dalam setiap halaman buku yang baru diluncurkan ini.



