Maldini Bongkar Drama 17 Hari di FIGC: Guardiola Hampir Gabung, Pirlo Gagal karena 'Aturan Main'
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini mengundurkan diri dari jabatan direktur teknis FIGC setelah 17 hari karena merasa kewenangannya dicabut, terutama dalam pemilihan pelatih timnas Italia.
- Maldini mengungkapkan Pep Guardiola hampir menerima tawaran melatih Italia, tetapi mundur karena kelelahan, sementara Andrea Pirlo gagal karena kontroversi judi online.
- Ia memperingatkan FIGC agar tidak hanya fokus pada timnas, tetapi juga membangun ulang sepak bola Italia secara menyeluruh yang membutuhkan waktu 8-10 tahun.

Paolo Maldini, legenda AC Milan, akhirnya buka suara tentang pengalamannya yang singkat sebagai direktur teknis Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Dalam wawancara eksklusif dengan Corriere della Sera, ia mengungkapkan bahwa ia mengundurkan diri setelah hanya 17 hari menjabat karena merasa dikhianati oleh Presiden FIGC, Giovanni Malagò, yang mengubah kesepakatan awal terkait pemilihan pelatih timnas. Maldini juga mengungkapkan bahwa Pep Guardiola hampir saja menerima tawaran untuk melatih Italia, tetapi urung karena kelelahan, sementara Andrea Pirlo gagal dilantik karena kontroversi hubungannya dengan situs judi asal Rusia.
Kisah ini bermula ketika Malagò menghubungi Maldini pada Paskah lalu, menawarkan posisi presiden Club Italia, sebuah badan yang mengawasi semua tim nasional Italia, dari kelompok umur hingga sepak bola pantai. Maldini, yang mengaku hanya memiliki dua prioritas dalam sepak bola—AC Milan dan timnas—langsung menyatakan kesediaannya. Namun, ia segera menyadari bahwa ada banyak pihak yang bermain di belakang layar, terutama Liga Serie A yang memiliki agenda sendiri.
Maldini mengungkapkan bahwa ia dan rekannya, Leonardo, merancang sebuah proyek besar untuk membangun ulang sepak bola Italia dari akar rumput. Mereka menargetkan perubahan radikal, termasuk pendekatan yang lebih ofensif dan pengembangan pemain muda. Untuk itu, mereka ingin menunjuk pelatih muda yang sejalan dengan visi tersebut. Tiga nama muncul: Andrea Pirlo, Daniele De Rossi, dan Fabio Grosso. Namun, Malagò menolak karena kesepakatan politik dengan klub-klub Serie A yang melarang perekrutan pelatih yang masih terikat kontrak dengan klub.
Maldini juga menceritakan upayanya mendekati Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola. Ancelotti menolak dengan halus karena ingin bertahan di Brasil, sementara Guardiola hampir saja menerima. “Kami bertemu di Barcelona, berbincang seharian, dan dia bahkan mulai menuliskan formasi di atas kertas,” ungkap Maldini. Namun, Guardiola mundur karena kelelahan setelah 10 tahun melatih di Premier League dan baru menjalani operasi punggung. Maldini membantah isu gaji €20 juta per musim yang disebut-sebut menjadi penghalang. “Pep bilang, beri saya satu euro lebih sedikit dari pelatih sebelumnya, saya oke,” tegasnya.
Kegagalan menunjuk Pirlo menjadi puncak kekesalan Maldini. Ia mengaku tidak mengetahui hubungan Pirlo dengan situs judi Rusia, dan menilai kontroversi tersebut dibesar-besarkan. “Pirlo bersedia mengakhiri kerja samanya dengan perusahaan judi itu. Dia orang baik, tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu,” kata Maldini. Namun, Malagò akhirnya memutuskan untuk membatalkan pencalonan Pirlo dan mengambil alih keputusan pemilihan pelatih. “Dia bilang, mulai hari ini, aturan berubah, saya yang memilih pelatih,” kenang Maldini. Merasa tidak lagi memiliki kewenangan yang dijanjikan, Maldini dan Leonardo memilih mundur.
Maldini juga menyoroti pentingnya membangun fondasi sepak bola Italia, bukan hanya fokus pada timnas senior. Ia mencontohkan bagaimana Johan Cruijff mengubah sepak bola Spanyol meskipun awalnya ditentang. “Spanyol bisa menghasilkan talenta hari ini berkat kerja keras Cruijff. Itulah yang ingin kami lakukan, tetapi sayangnya harus terhenti,” sesalnya. Ia juga mengkritik kecenderungan FIGC yang terlalu fokus pada hasil jangka pendek, seperti kualifikasi Piala Dunia, tanpa memikirkan regenerasi pemain.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya konsistensi visi dan keberanian mengambil keputusan jangka panjang. PSSI dan stakeholder sepak bola nasional sering kali terjebak dalam target jangka pendek, seperti lolos ke Piala Dunia, tanpa membangun infrastruktur dan pembinaan usia muda yang berkelanjutan. Kegagalan Maldini mengingatkan bahwa perubahan besar membutuhkan dukungan semua pihak, bukan hanya sekadar ganti pelatih atau manajemen.
Kini, Claudio Ranieri ditunjuk menggantikan peran yang semula ditawarkan kepada Maldini. Maldini mengakui kapasitas Ranieri, tetapi ia khawatir FIGC akan kembali mengulang kesalahan yang sama. “Saya takut mereka akan terlalu fokus pada timnas dan melupakan pembangunan sepak bola Italia secara keseluruhan,” ujarnya. Pertanyaannya, apakah FIGC dan sepak bola Italia mampu belajar dari kegagalan ini, atau akan terus terombang-ambing dalam politik dan kepentingan sesaat?



