Aaron McKenna Juara Dunia IBF di Dublin: Mimpi 21 Tahun Terwujud di Depan Publik Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Petinju Irlandia Aaron McKenna merebut gelar kelas menengah IBF setelah menang angka mutlak atas Etinosa Oliha di 3Arena, Dublin, dalam laga perdananya di tanah kelahiran.
- Kemenangan ini memperpanjang rekor profesionalnya menjadi 21-0 dan menandai kembalinya McKenna ke ring Irlandia setelah sembilan tahun berkarier di luar negeri.
- McKenna kini membidik laga penyatuan gelar dan siap naik ke kelas menengah super, menjanjikan era baru bagi tinju Irlandia.

Aaron McKenna akhirnya mewujudkan ambisi masa kecilnya. Pada Sabtu malam di 3Arena, Dublin, petinju asal Monaghan itu menaklukkan Etinosa Oliha yang sebelumnya tak terkalahkan untuk merebut gelar juara dunia kelas menengah versi IBF. Kemenangan angka mutlak ini menjadi debut profesional McKenna di tanah kelahirannya setelah sembilan tahun berkarier di luar Irlandia.
McKenna, yang dijuluki 'The Silencer', tampil dominan sepanjang dua belas ronde. Tiga juri kompak memberikan kemenangan untuknya dengan skor 118-110, 117-111, dan 116-112. Hasil ini sekaligus menjadi kekalahan pertama bagi Oliha, yang kini memiliki rekor 22-1. Bagi McKenna, kemenangan ini menambah catatan sempurnanya menjadi 21-0 dan mengukuhkan posisinya sebagai salah satu petinju kelas menengah terbaik dunia.
Pertarungan tidak berjalan mudah. Oliha memulai dengan agresif dan memberikan tekanan berarti pada ronde-ronde awal, terutama di ronde kedua. Namun, McKenna perlahan menemukan ritme. Kombinasi pukulan jab dan uppercut yang akurat, ditambah pergerakan kaki yang lincah, membuatnya mampu mengontrol jarak dan meredam serangan Oliha. Meski sempat mengalami luka akibat benturan kepala di ronde sebelas, McKenna tetap tenang dan bahkan melancarkan serangan balik yang bersih.
Kemenangan ini terasa istimewa bagi McKenna. Sejak usia enam tahun, ia bermimpi menjadi juara dunia. Setelah bertahun-tahun berjuang di luar negeri, akhirnya ia melakukannya di hadapan publik sendiri. "Saya sudah mengatakannya selama bertahun-tahun. Sejak usia enam tahun, saya memikirkan momen ini sepanjang hidup saya. Terwujud di usia 27, ini menunjukkan bahwa jangan pernah menyerah dan selalu percaya pada diri sendiri," ujarnya kepada Sky Sports.
McKenna juga mengakui bahwa Oliha memberikan perlawanan yang lebih sengit dari perkiraannya. "Oliha jelas kuat. Saya membuatnya lebih sulit dari yang seharusnya, tapi saya menyelesaikan pekerjaan ini," katanya. Dengan sabuk juara kini di pinggangnya, McKenna siap menghadapi siapa pun. "Tidak masalah siapa lawan berikutnya. Saya mudah ditemukan sekarang. Saya ingin mengumpulkan semua sabuk di tinju. Saya petinju kelas menengah terbaik di dunia, dan juga kelas menengah super; saya tidak keberatan naik kelas," tegasnya.
Kemenangan McKenna melengkapi sukses besar petinju tuan rumah di ajang Zuffa Boxing 10. Sebelumnya, Callum Walsh mempertahankan rekor tak terkalahkannya (17-0) setelah menang angka atas mantan juara Eropa Tyler Denny dalam laga sepuluh ronde yang melelahkan. Joe Ward juga kembali ke ring setelah absen dua tahun dan meraih kemenangan angka atas Artjom Kasparian. Sementara itu, Stevie McKenna, adik Aaron, tampil impresif dengan knockout ronde pertama atas Owen O'Neill. Derry's Connor Coyle dan Patrick O'Connor juga menyumbang kemenangan, menjadikan malam itu milik petinju Irlandia.
Bagi penggemar tinju Indonesia, keberhasilan McKenna menjadi pengingat bahwa kerja keras dan konsistensi dapat membawa seorang petinju ke puncak dunia, meski harus menempuh jalan panjang di luar negeri. Fenomena ini juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur dan promosi tinju di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang memiliki banyak bakat namun sering terkendala akses ke panggung internasional. Pertanyaan besarnya: akankah ada petinju Indonesia yang mampu meniru jejak McKenna dan mengharumkan nama bangsa di kancah dunia?



