Kelly Slater Kalahkan Medina di Tahiti Pro: Bukti Usia Hanyalah Angka
Baca dalam 60 detik
- Slater, 54 tahun, melaju ke ronde ketiga Tahiti Pro setelah mengalahkan Gabriel Medina dengan total 19.06 dari 20.
- Kemenangan ini datang setelah kritik terhadap wildcard-nya dan cedera pinggul yang baru dioperasi.
- Slater akan menghadapi Jack Robinson, sementara Griffin Colapinto mencatat skor sempurna 10.

Kelly Slater, legenda selancar dunia asal Amerika Serikat, kembali membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Pada ajang Tahiti Pro yang digelar di Teahupo'o, Senin (10/8), Slater yang kini berusia 54 tahun sukses menaklukkan ombak ganas dan mengalahkan Gabriel Medina, juara dunia tiga kali asal Brasil, untuk melaju ke babak ketiga.
Pertarungan ini bukan sekadar pertandingan biasa. Teahupo'o, yang juga menjadi venue Olimpiade Paris 2024, dikenal dengan ombaknya yang berbahaya dan menuntut keberanian ekstra. Slater, yang baru saja menjalani operasi pinggul dan pensiun dari kompetisi penuh waktu pada 2024, menunjukkan bahwa daya juangnya tidak pernah luntur. Ia bahkan sempat terjatuh keras pada percobaan pertama dan kedua, hingga papan selancarnya patah menjadi dua bagian.
Namun, ketangguhan mentalnya menjadi pembeda. Slater bangkit dan berhasil melesat di dalam gulungan ombak panjang yang dalam, meraih skor 9,73 dari 10. Skor tersebut mengantarnya memimpin, dan ia menambah keunggulan dengan skor impresif lainnya. Total dua ombak terbaiknya mencapai 19,06 dari 20, cukup untuk menyingkirkan Medina yang pernah mengalahkannya di final epik di venue yang sama pada 2014.
Kemenangan ini terasa manis bagi Slater, yang belakangan mendapat kritik karena menerima wildcard untuk berlaga. Banyak yang meragukan kapasitasnya, bahkan ada yang menyarankan agar kesempatan itu diberikan kepada peselancar lokal. "Anda melihat komentar-komentar itu, banyak orang meragukan saya atau mengatakan (kesempatan ini) seharusnya diberikan kepada wildcard lokal," ujar Slater. "Bahkan setelah sekian lama, ya, saya masih punya sesuatu untuk dibuktikan."
Performa Slater di hari pertama kompetisi memang dominan. Ia mengaku termotivasi oleh keraguan tersebut. Kini, ia bersiap menghadapi Jack Robinson dari Australia, juara bertahan, di babak ketiga. Robinson sendiri nyaris tersingkir oleh rekan senegaranya, Callum Robson, di ronde kedua.
Sementara itu, Griffin Colapinto dari California, yang lahir enam tahun setelah Slater merebut gelar dunia pertamanya dari total 11 gelar, menjadi satu-satunya peselancar yang mengungguli performa Slater di ronde kedua. Colapinto mencatatkan skor sempurna 10 dan total heat 19,6, yang merupakan rekor musim ini. Ini menunjukkan bahwa generasi baru tetap menjadi ancaman serius bagi para veteran.
Bagi Indonesia, ajang ini menarik karena Teahupo'o menjadi barometer bagi para peselancar dunia yang juga berkompetisi di ajang internasional. Dengan banyaknya talenta selancar Indonesia yang mulai menembus kancah global, seperti dalam ajang WSL, performa para atlet di Teahupo'o bisa menjadi inspirasi sekaligus tolok ukur. Ombak besar dan tantangan di Teahupo'o sering dianggap mirip dengan beberapa spot selancar di Indonesia, seperti di Mentawai atau Banyuwangi, sehingga pelajaran dari sini bisa relevan bagi pengembangan selancar nasional.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Slater mempertahankan performa ini hingga akhir dan menambah gelar di usia yang tak lagi muda? Atau akankah generasi baru seperti Colapinto atau Robinson menghentikan laju sang legenda? Jawabannya akan terungkap dalam babak-babak berikutnya di Tahiti Pro.



