Dom Joly dan 'Trigger Happy TV': Menakar Ulang Humor Prank di Era Media Sosial
Baca dalam 60 detik
- Komika Inggris Dom Joly meninjau ulang episode lama 'Trigger Happy TV' untuk memastikan tak ada konten yang memicu kontroversi sebelum tur keliling Inggris.
- Ia menilai perubahan lanskap media sosial menuntut format prank yang berbeda, meski optimistis publik Inggris masih reseptif terhadap humor semacam itu.
- Tur 'Trigger Happy TV' menjadi uji relevansi komedi prank era 2000-an di tengah budaya digital yang serba cepat dan mudah terekam.

Komika asal Inggris, Dom Joly, memutuskan untuk menonton ulang seluruh episode acara prank legendarisnya, Trigger Happy TV, sebelum membawanya dalam tur keliling Inggris. Langkah ini diambilnya untuk memastikan tidak ada materi yang dianggap bermasalah atau berpotensi memicu gelombang kecaman publik di tengah iklim sosial yang semakin sensitif.
Pria berusia 58 tahun itu mengaku bersama juru kamera Sam Cadman menelusuri setiap klip lama untuk mencari konten yang mungkin dianggap rasis, seksis, atau menyinggung kelompok tertentu. "Tiba-tiba saya berpikir, bagaimana jika saya ternyata rasis atau seksis? Kami pun memeriksa semua klip lama, dan ternyata tidak ada momen seperti di Come Fly With Me," ujarnya kepada New Magazine. Satu-satunya hal yang ia nilai sedikit mengganggu adalah saat ia memakai kostum gemuk, namun ia berkelakar bahwa hal itu bisa diatasi dengan obat penurun berat badan modern.
Keputusan Joly untuk mengaudit ulang karyanya sendiri mencerminkan kekhawatiran yang meluas di kalangan komedian era 2000-an. Banyak bintang komedi yang dulu dianggap jenaka kini harus berhadapan dengan standar moral yang berubah. Fenomena "cancel culture" membuat para kreator konten lama berlomba-lomba memeriksa ulang materi mereka, baik untuk melindungi reputasi maupun untuk menjaga nilai komersial karya tersebut. Bagi Joly, tur ini bukan sekadar nostalgia, melainkan juga uji nyali apakah humor prank yang mengandalkan interaksi langsung dengan publik masih relevan di masa kini.
Joly juga merefleksikan bagaimana proses kreatif di balik Trigger Happy TV yang tayang di Channel 4 pada 2000-2003. Adegan pertamanya, misalnya, melibatkan dirinya yang mengenakan kostum ala karakter Womble, lengkap dengan tingkah aneh di Wimbledon Common. "Untuk 45 detik yang tayang, ada lima jam rekaman di mana saya mondar-mandir sambil bertanya-tanya, 'Ini lucu nggak, Sam?' Semua keraguan diri ada di sana," kenangnya. Momen-momen seperti ini menunjukkan bahwa di balik kekonyolan yang tampil di layar, ada proses panjang penuh ketidakpastian yang jarang diketahui penonton.
Perubahan terbesar yang disorot Joly adalah peran media sosial. Jika dulu aksi prank hanya bisa disaksikan oleh orang-orang di lokasi, kini setiap kejadian aneh bisa langsung direkam dan diunggah ke platform seperti TikTok dalam hitungan detik. "Kalau saya melakukan aksi siput menyeberang jalan sekarang, 25 tahun kemudian, begitu siput itu sampai di seberang, 40 orang sudah merekam dan mempostingnya. Saat saya merilisnya, orang akan bilang, 'Itu mah nyuri dari Kevin 106256'," kelakarnya. Kondisi ini memaksanya untuk berpikir ulang tentang format penyajian agar tetap orisinal dan mengejutkan.
Meski demikian, Joly tetap optimistis bahwa Trigger Happy TV masih bisa diterima publik Inggris. Ia menepis anggapan bahwa masyarakat kini terlalu mudah tersinggung atau bahkan agresif. "Banyak yang bilang, 'Oh, sekarang nggak mungkin bikin acara kayak gitu, terlalu sensitif, nanti kamu ditusuk.' Narasi yang beredar memang menyebut London sebagai tempat paling berbahaya di dunia, tapi kenyataannya orang-orang masih baik dan mudah tertipu seperti tahun 2000. Mungkin mereka sedikit lebih sadar bahwa kejadian aneh bisa jadi konten TikTok, tapi kami bisa menyembunyikannya lebih baik," paparnya.
- Trigger Happy TV tayang perdana di Channel 4 pada 2000-2003.
- Dom Joly berusia 58 tahun dan pernah menjadi kontestan I'm A Celebrity... Get Me Out of Here!
- Tur keliling Inggris akan menampilkan ulang aksi prank klasik dengan penyesuaian era digital.
Bagi penonton Indonesia, fenomena ini menarik karena mengingatkan pada bagaimana konten komedi di tanah air juga bertransformasi. Banyak kreator lokal yang dulu mengandalkan prank di jalanan kini harus beradaptasi dengan aturan platform dan sensitivitas warganet. Pertanyaan besarnya: apakah humor prank yang mengandalkan kejutan dan interaksi langsung masih punya tempat di tengah masyarakat yang semakin terhubung secara digital? Tur Dom Joly mungkin bisa menjadi salah satu jawabannya, setidaknya untuk pasar Inggris.



