The Fugees Siap Rilis Album Baru Setelah 30 Tahun: 'Kami Mengalami Penyembuhan Luar Biasa'
Baca dalam 60 detik
- Grup hip-hop legendaris The Fugees mengonfirmasi rencana rekaman bersama untuk pertama kalinya sejak album 'The Score' pada 1996.
- Rekonsiliasi Lauryn Hill dan Wyclef Jean setelah konflik hukum dengan Pras Michel disebut memicu proses penyembuhan dan kreativitas baru.
- Kepastian ini muncul menjelang penampilan mereka di festival Diaspora Calling! 2026, yang juga menjadi satu-satunya konser Hill di Inggris tahun itu.

The Fugees, grup hip-hop legendaris yang dikenal lewat tembang 'Ready or Not' dan 'Killing Me Softly', akhirnya mengonfirmasi bahwa mereka akan kembali merekam musik baru bersama untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir. Kabar ini disampaikan langsung oleh Lauryn Hill dan Wyclef Jean dalam wawancara dengan BBC, menjelang penampilan mereka di festival Diaspora Calling! yang digelar di Milton Keynes National Bowl, Inggris, pada 7 Agustus 2026.
Kepastian ini menjadi babak baru bagi grup yang terakhir merilis album studio pada 1996 lewat 'The Score'—sebuah karya yang hingga kini dianggap sebagai salah satu album hip-hop terbaik sepanjang masa. Meski sempat beredar berbagai bocoran materi, tidak ada rilisan resmi yang muncul sejak saat itu. Kini, Hill dan Jean mengaku bahwa reuni mereka telah memicu keinginan kuat untuk kembali ke studio rekaman.
“Saya kembali bersama rekan satu band saya! Kami berada di tempat yang luar biasa. Energi ini sangat penting,” ujar Wyclef Jean. Sementara itu, Lauryn Hill menambahkan bahwa perjalanan rekonsiliasi mereka adalah proses penyembuhan yang luar biasa. “Ada proses penyembuhan yang luar biasa yang terjadi pada kami sebagai band dan rekan satu band, dan kami ingin menunjukkan itu serta memberikan energi itu kepada dunia,” katanya.
Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi penggemar setia The Fugees di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Musik hip-hop era 90-an memiliki basis penggemar yang kuat di Tanah Air, dan kehadiran The Fugees kerap dianggap sebagai jembatan antara musik kulit hitam Amerika dan isu-isu sosial yang relevan secara global. Bagi penggemar Indonesia, kabar ini juga membuka peluang bahwa tur Asia, termasuk Indonesia, bisa menjadi bagian dari agenda promosi album baru mereka—meski belum ada konfirmasi resmi.
Perjalanan The Fugees menuju reuni ini tidaklah mulus. Grup yang sempat bubar pada akhir 90-an ini kembali bersatu untuk tur peringatan 25 tahun 'The Score' pada 2021. Namun, konflik internal kembali memanas pada 2024 ketika Pras Michel, anggota ketiga, menggugat Lauryn Hill atas tuduhan penipuan, mismanajemen, dan pelanggaran kontrak terkait tur yang dipersingkat pada 2023 serta pembatalan konser peringatan album 'The Miseducation of Lauryn Hill' pada 2024. Gugatan tersebut akhirnya dicabut secara sukarela pada Maret 2026, hanya beberapa minggu sebelum Michel dijadwalkan menjalani hukuman penjara 14 tahun atas kasus konspirasi politik senilai 100 juta dolar AS.
Dengan dicabutnya gugatan tersebut, jalan menuju rekaman baru pun terbuka lebar. Wyclef Jean menegaskan bahwa energi positif sedang mengalir di antara mereka. “Saya pikir energi itu sangat penting,” katanya. Sementara itu, festival Diaspora Calling! yang digagas Hill sejak 2016 akan menjadi ajang pembuktian bahwa The Fugees siap kembali ke panggung dunia. Festival yang merayakan musik dan budaya diaspora Afrika ini sebelumnya pernah menampilkan nama-nama besar seperti Nas, Kehlani, Noname, dan Little Simz.
Pertanyaannya kini: apakah album baru The Fugees akan mampu menyamai kejayaan 'The Score'? Atau justru menjadi karya yang relevan dengan isu-isu sosial politik masa kini? Yang jelas, penggemar musik di Indonesia dan dunia patut menantikan babak baru dari salah satu grup hip-hop paling berpengaruh sepanjang sejarah.



