Googlebook: Laptop Premium Google Mulai USD899, Tantang Dominasi Chromebook
Baca dalam 60 detik
- Google resmi meluncurkan Googlebook, laptop kelas atas dengan harga mulai USD899, hadir dari Acer, Asus, Dell, HP, dan Lenovo.
- Perangkat ini menjalankan sistem operasi baru berbasis Android native, menawarkan integrasi mulus dengan smartphone dan fitur AI canggih.
- Peluncuran Googlebook berpotensi mengubah lanskap pasar laptop global, dengan implikasi bagi konsumen dan produsen di Indonesia.

Google akhirnya mengumumkan kehadiran Googlebook, kategori laptop premium yang mengusung spesifikasi tinggi dan sistem operasi anyar. Langkah ini menandai babak baru persaingan di pasar komputer pribadi, sekaligus mempertegas ambisi Google untuk menyasar segmen atas yang selama ini dikuasai Windows dan macOS.
Googlebook diposisikan sebagai penerus Chromebook, namun dengan pendekatan berbeda. Jika Chromebook identik dengan perangkat berharga murah dan spesifikasi pas-pasan, Googlebook menawarkan material bodi aluminium, magnesium, atau carbon fiber, layar OLED sentuh, serta memori minimal 16GB. Lima produsen besar—Acer, Asus, Dell, HP, dan Lenovo—akan merilis model mereka pada musim gugur ini, dengan banderol mulai USD899 hingga USD1.299.
Perbedaan utama terletak pada sistem operasinya. Google mengklaim Googlebook OS dibangun dari nol, bukan sekadar ChromeOS yang dimodifikasi. Sistem ini mendukung aplikasi Android secara native, bukan melalui lapisan virtualisasi, sehingga performa aplikasi disebut lebih responsif. Fitur anyar seperti Continue On memungkinkan pengguna melanjutkan tugas dari ponsel Android ke laptop, sementara Magic Pointer menghadirkan asisten Gemini yang dapat dipanggil dengan menggerakkan kursor.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran Googlebook membuka opsi perangkat premium dengan ekosistem Android yang sudah akrab. Namun, harga yang setara dengan laptop Windows kelas atas—seperti Dell XPS atau HP Spectre—membuat daya tariknya bergantung pada seberapa besar pengguna menghargai integrasi lintas perangkat dan fitur AI. Selain itu, ketersediaan resmi di pasar Indonesia masih menjadi pertanyaan, mengingat Google sering kali merilis produk perangkat keras secara terbatas di negara tertentu.
Analis industri menilai langkah Google ini sebagai upaya menantang dominasi Windows di segmen profesional dan kreator. "Googlebook bukan sekadar Chromebook yang dipermahal, tetapi upaya Google menciptakan ekosistem tertutup yang mulus antara ponsel, laptop, dan layanan cloud," ujar seorang pengamat teknologi. Tantangan terbesarnya adalah meyakinkan pengguna bahwa Googlebook OS mampu menjalankan aplikasi produktivitas berat seperti Adobe Premiere atau Microsoft Office secara penuh, tanpa kendala kompatibilitas.
Google juga berjanji memberikan pembaruan sistem operasi hingga sepuluh tahun, sinyal bahwa perangkat ini dirancang untuk jangka panjang. Dengan bonus langganan yang melimpah, Google berusaha menarik minat early adopter. Namun, keberhasilan jangka panjang akan ditentukan oleh adopsi pengembang aplikasi yang mau memanfaatkan fitur khas Googlebook, seperti Create My Widget yang memungkinkan pembuatan widget desktop melalui perintah suara.
Jika Googlebook diterima baik di pasar global, bukan tidak mungkin produsen lain akan mengikuti jejak serupa, memperkuat tren laptop berbasis Android. Pertanyaannya, apakah pengguna di Indonesia siap beralih dari Windows ke ekosistem Google yang sepenuhnya? Waktu yang akan menjawab, tetapi peluncuran ini jelas menandai era baru persaingan laptop.



