Sylvester Stallone: AI Akan Kuasai Manusia, Generasi Muda Terancam Kesepian
Baca dalam 60 detik
- Aktor legendaris Sylvester Stallone memprediksi dominasi AI atas manusia karena kemudahan teknologi membuat manusia lemah.
- Ia menyoroti kesepian sebagai penyakit terburuk dan munculnya 'hubungan cinta mekanis' yang akan memperparah isolasi sosial.
- Stallone menilai pekerjaan tradisional yang membangun ikatan tim kini tergerus otomatisasi, memicu krisis identitas pria.

Aktor senior Hollywood Sylvester Stallone, 80 tahun, memproyeksikan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan mengambil alih kendali atas manusia sepenuhnya di masa depan. Dalam wawancara dengan majalah Sunday Times, bintang film Rocky dan Tulsa King itu mengungkapkan kekhawatiran mendalam tentang generasi mendatang yang dinilainya terlalu bergantung pada teknologi.
Stallone tidak ragu menyebut skenario distopia itu sebagai keniscayaan. "Ya, kita akan diambil alih sepenuhnya. Karena ketika segala sesuatu dibuat terlalu mudah, orang menjadi lemah," ujarnya. Ia memberi contoh konkret: taksi tanpa pengemudi dan trotoar bergerak yang akan membuat tubuh manusia mengalami atrofi. "Sebentar lagi kita tidak akan punya kaki. Kita hanya akan digotong oleh mesin," tambahnya.
Lebih jauh, ia menyoroti dampak sosial dari kemajuan teknologi, terutama meningkatnya kesepian. Menurutnya, kesepian adalah "penyakit terburuk" karena melumpuhkan segalanya. Ia memprediksi munculnya "hubungan cinta mekanis" dengan pasangan fantasi yang diciptakan AI, yang akan membuat manusia semakin terisolasi. "Ini menuju ke tempat yang bahkan tidak berani kita pikirkan. Dulu kita dipaksa membaca 1984. Sekarang tidak perlu, karena itu sudah terjadi," katanya merujuk pada novel distopia George Orwell.
Stallone juga menyoroti perubahan lanskap pekerjaan yang berdampak pada identitas pria. Ia mengenang masa ketika pekerjaan seperti buruh baja atau tentara menciptakan rasa kebersamaan dan ikatan tim. Kini, dengan masuknya korporasi dan otomatisasi, banyak pria beralih ke pekerjaan menyendiri seperti mengemudi truk. "Di mana timnya? Kau sendirian sekarang," keluhnya. Ia menilai teknologi membuat pria lebih memilih bermain video game di ruang bawah tanah daripada berolahraga untuk membuktikan maskulinitas, dan situasi ini akan memburuk sepuluh ribu kali lipat dengan AI.
"Setiap pria harus melakukan sesuatu untuk membuktikan maskulinitasnya. Dulu olahraga, tapi karena teknologi mereka sendirian di ruang bawah tanah bermain video game. Dan itu akan menjadi 10.000 kali lebih buruk dengan AI," ujar Stallone.
Pandangan Stallone ini bukan sekadar renungan seorang selebritas. Di Indonesia, gelombang otomatisasi dan AI sudah mulai mengubah lanskap kerja. Sektor manufaktur, transportasi, dan jasa mulai mengadopsi teknologi yang mengurangi interaksi manusia. Misalnya, kehadiran kendaraan otonom dan sistem layanan pelanggan berbasis AI di beberapa perusahaan rintisan dalam negeri. Dampaknya, pekerjaan yang dulu menjadi ajang kebersamaan dan solidaritas perlahan terkikis.
Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Mulyani, menilai kekhawatiran Stallone relevan dengan fenomena yang terjadi di kota-kota besar Indonesia. "Kesepian memang meningkat di kalangan pekerja muda, terutama setelah pandemi dan adopsi kerja jarak jauh. AI bisa memperparah karena menggantikan interaksi tatap muka dengan interaksi virtual yang dangkal," jelasnya. Ia menambahkan bahwa pria sering kali kurang memiliki jaringan sosial yang kuat di luar pekerjaan, sehingga kehilangan pekerjaan atau perubahan pola kerja bisa memicu krisis identitas.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Fauzi, memperkirakan bahwa dalam lima tahun ke depan, sekitar 20% pekerjaan di Indonesia berisiko tergantikan oleh otomatisasi. "Sektor yang paling terdampak adalah manufaktur, transportasi, dan ritel. Pemerintah perlu menyiapkan program pelatihan ulang dan jaring pengaman sosial agar transisi tidak menimbulkan gejolak sosial," ujarnya. Ia menekankan bahwa tanpa intervensi, kesenjangan dan isolasi sosial bisa melebar.
Meski begitu, tidak semua pihak pesimistis. Sebagian teknolog melihat AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan pekerjaan baru. Namun, Stallone mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada teknologi dapat mengikis kemampuan manusia untuk berinteraksi dan merawat tubuh. "Ketika segalanya mudah, kita kehilangan ketangguhan," tegasnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah AI akan mengambil alih, melainkan sejauh mana manusia mampu menjaga kendali atas teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Akankah kita menjadi tuan atas mesin, atau justru sebaliknya? Waktu yang akan menjawab, tetapi persiapan harus dimulai sekarang.



