Lufia I & II Kini Hadir di PS5: JRPG Klasik Era 90-an Akhirnya Lepas dari Eksklusivitas Nintendo
Baca dalam 60 detik
- Taito dan Clear River Games mengumumkan kompilasi Lufia I & II: The Sinistrals Saga untuk PS5, Switch, Switch 2, dan PC, menandai debut waralaba JRPG legendaris ini di platform non-Nintendo.
- Keputusan ini mencerminkan pergeseran strategi penerbit Jepang yang kian agresif merambah ekosistem PlayStation dan PC demi menjangkau basis pemain global yang lebih luas.
- Bagi gamer Indonesia, kabar ini membuka peluang menikmati dua RPG klasik secara legal tanpa emulator, meski harga dan detail peningkatan teknis masih misterius.

Dua judul JRPG ikonik yang selama ini identik dengan konsol Super Nintendo akhirnya menyambangi PlayStation 5. Taito bersama Clear River Games resmi mengumumkan kompilasi Lufia I & II: The Sinistrals Saga, yang akan meluncur pada 2027 untuk PS5, Nintendo Switch, Switch 2, dan PC via Steam. Ini menjadi kali pertama waralaba Lufia hadir secara resmi di platform PlayStation, menandai berakhirnya eksklusivitas tidak tertulis yang melekat sejak era 16-bit.
Paket ini memuat dua game: Lufia & the Fortress of Doom (1993) dan Lufia II: Rise of the Sinistrals (1996). Keduanya dikembangkan Taito dan awalnya dirilis untuk SNES. Clear River Games bertindak sebagai penerbit untuk pasar Barat, sementara Taito tetap memegang kendali IP. Menurut keterangan penerbit, koleksi ini menyuguhkan "dua JRPG paling dikenang dari dekade 1990-an, dengan alur cerita menyentuh dan soundtrack legendaris yang berhasil mencuri hati pemain di seluruh dunia."
Dari sisi konten, Lufia & the Fortress of Doom mengisahkan keturunan Maxim sang pahlawan legendaris dan sahabat masa kecilnya, Lufia, dalam misi menghentikan kebangkitan Sinistrals. Plot berbelok ketika Lufia terungkap sebagai Erim, Sinistral of Death, namun ia menolak takdirnya dan memilih berpihak pada kemanusiaan. Sementara itu, Lufia II berperan sebagai prekuel: mengikuti perjalanan Maxim, istrinya Selan, dan sekutu mereka menuju Doom Island yang mengambang. Mereka menang, tetapi harus mengorbankan nyawa demi mencegah pulau itu menghancurkan dunia. Uniknya, game kedua justru berlatar waktu sebelum game pertama.
Yang menarik, meski store listing menyebut game-game ini "ditingkatkan untuk permainan modern", pihak penerbit belum merinci bentuk peningkatan tersebut. Apakah sekadar upscaling resolusi, penambahan fitur save state, atau perombakan mekanisme pertempuran, semuanya masih gelap. Harga dan tanggal pasti juga belum diumumkan. Ketidakjelasan ini bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi memicu spekulasi positif, di sisi lain berisiko mengecewakan jika ekspektasi tidak terpenuhi.
Bagi pasar Indonesia, langkah ini patut dicermati. Selama ini, penggemar JRPG tanah air kerap mengandalkan emulator atau versi bajakan untuk mengakses game klasik yang tidak pernah dirilis resmi di wilayah Asia Tenggara. Kehadiran Lufia I & II di Steam dan konsol modern membuka jalan bagi distribusi legal, meski tantangan harga regional dan lokalisasi bahasa masih menjadi pekerjaan rumah. Jika Clear River Games mampu menetapkan harga yang ramah kantong, bukan tidak mungkin fenomena ini mendorong penerbit lain untuk menggali kembali katalog lawas mereka.
Secara lebih luas, keputusan Taito melepas eksklusivitas Lufia dari Nintendo mencerminkan tren industri yang kian cair. Beberapa tahun terakhir, publisher Jepang seperti Square Enix dan Sega gencar memindahkan warisan JRPG mereka ke berbagai platform, dari PlayStation hingga Xbox dan PC. Strategi multiplatform menjadi kunci untuk menjangkau generasi baru pemain yang tidak terikat pada satu ekosistem konsol. Lufia, yang sempat vakum lebih dari dua dekade, kini mendapat kesempatan kedua di pasar yang jauh lebih besar.
"Koleksi ini menghadirkan dua JRPG paling dikenang dari era 1990-an, dengan cerita menyentuh dan soundtrack yang melegenda," ujar perwakilan penerbit.
Meski demikian, kesuksesan kompilasi ini tidak hanya ditentukan oleh nostalgia. Di tengah banjir remaster dan port yang kerap dikritik karena minim usaha, pemain modern menuntut kualitas. Jika Taito dan Clear River Games hanya menyajikan ROM mentah tanpa penyempurnaan berarti, sambutan pasar bisa dingin. Sebaliknya, bila mereka serius menggarap fitur quality-of-life dan antarmuka yang ramah, Lufia berpotensi menjadi contoh bagaimana warisan game lawas seharusnya dirawat.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Lufia menjadi pembuka jalan bagi kembalinya waralaba JRPG klasik lain yang lama terkurung di satu platform? Dan bagi gamer Indonesia, apakah harga yang ditawarkan nanti akan cukup bersaing dengan godaan emulator gratis? Kita tunggu pengumuman resmi berikutnya.



