Tragedi di Gerbang Bangkok: Penembakan Siswa di Nonthaburi Tewaskan Dua Orang, 20 Luka
Baca dalam 60 detik
- Insiden penembakan di Debsirin Nonthaburi School menewaskan dua orang dan melukai 20 lainnya, dengan pelaku yang juga tewas.
- Pelaku diduga siswa sekolah tersebut; polisi menemukan puluhan amunisi di tasnya, memicu penyelidikan atas motif dan keamanan sekolah.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan kawasan metropolitan Bangkok dan memicu pertanyaan tentang pengendalian senjata di Thailand, relevan bagi pengawasan keamanan regional.

Dua orang tewas dan 20 lainnya terluka dalam aksi penembakan di sebuah sekolah menengah di Provinsi Nonthaburi, Thailand, Jumat (8/8/2025). Insiden yang mengguncang kawasan penyangga ibu kota itu juga merenggut nyawa pelaku, yang diidentifikasi sebagai siswa di sekolah yang sama.
Peristiwa berdarah itu terjadi di Debsirin Nonthaburi School, Distrik Bang Kruai, yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat Bangkok. Menurut laporan media lokal Thai Enquirer, jumlah korban bertambah dari laporan awal, dan tim penyelamat dari Yayasan Poh Teck Tung langsung mengerahkan ambulans untuk mengevakuasi siswa yang cedera ke rumah sakit terdekat. Lembaga tersebut bahkan meminta pengendara di sekitar lokasi untuk memberi jalan bagi kendaraan darurat.
Otoritas setempat telah mengamankan area sekolah dan memulai penyelidikan. Polisi menemukan puluhan butir amunisi di dalam tas milik terduga pelaku, yang kemudian tewas di lokasi. Meski demikian, detail mengenai kronologi dan motif penembakan masih belum diungkap. Para guru disebut berhasil mengevakuasi siswa dan staf ke tempat yang lebih aman saat insiden berlangsung, sebuah langkah yang mungkin mencegah korban yang lebih banyak.
Nonthaburi sendiri merupakan bagian dari kawasan metropolitan Bangkok, dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan mobilitas yang intens. Kejadian ini menambah daftar panjang kekerasan bersenjata di Thailand, negara dengan tingkat kepemilikan senjata yang relatif tinggi di Asia Tenggara. Meski kasus penembakan massal jarang terjadi, insiden seperti ini mengguncang rasa aman publik dan memicu perdebatan tentang regulasi senjata.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan keamanan di lingkungan pendidikan. Meski tingkat kepemilikan senjata di Indonesia lebih rendah, insiden kekerasan di sekolah tetap menjadi perhatian, terutama dengan meningkatnya kasus perundungan dan radikalisme. Pemerintah dan institusi pendidikan di tanah air perlu mengevaluasi prosedur keselamatan, termasuk simulasi evakuasi dan kerja sama dengan aparat keamanan.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Thailand mengenai langkah-langkah pengendalian senjata. Namun, tekanan publik diperkirakan akan meningkat, mengingat kasus serupa pernah terjadi pada 2022 di provinsi Nong Bua Lamphu, yang menewaskan puluhan orang. Pertanyaannya, apakah tragedi ini akan mendorong revisi undang-undang kepemilikan senjata yang selama ini longgar, atau justru tenggelam dalam rutinitas politik?
Untuk warga Indonesia yang bepergian atau tinggal di Thailand, insiden ini menjadi catatan penting untuk selalu waspada dan memantau informasi keamanan dari otoritas setempat. Sementara itu, bagi para pengambil kebijakan di Jakarta, kejadian ini menegaskan bahwa keamanan sekolah bukan sekadar isu domestik, melainkan bagian dari tantangan keamanan regional yang semakin kompleks.



