Topan Dolphin Melunak tapi Lumpuhkan Penerbangan dan Transportasi di China Timur
Baca dalam 60 detik
- Topan Dolphin yang mendarat di Zhejiang memicu pembatalan hampir seribu penerbangan di Shanghai meski statusnya diturunkan.
- Peringatan banjir bandang ekstrem dikeluarkan untuk sebagian Zhejiang, sementara Beijing bersiap menghadapi hujan lebat dan risiko longsor.
- Rangkaian topan dahsyat di China memperkuat kekhawatiran tentang meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Topan Dolphin memang telah kehilangan kekuatannya setelah dua kali menghantam pesisir Provinsi Zhejiang pada Minggu (9/8), tetapi dampaknya masih terasa hingga Senin (10/8) dengan ratusan penerbangan dibatalkan dan sejumlah layanan transportasi umum di kawasan China timur lumpuh. Meski peringatan topan diturunkan ke level terendah, otoritas meteorologi China tetap mengingatkan bahwa hujan deras masih akan mengguyur sebagian wilayah timur dan tengah negeri itu dalam 24 jam ke depan.
Menurut Pusat Meteorologi Nasional China (NMC), peringatan level biruโyang merupakan tingkat terendah dalam sistem empat levelโdikeluarkan Senin pagi. Namun, di saat yang sama, otoritas setempat mengeluarkan peringatan tertinggi untuk banjir bandang di sebagian wilayah timur dan selatan Zhejiang, seperti dilaporkan stasiun televisi pemerintah CCTV. Ini menunjukkan bahwa meskipun topan melemah, risiko hidrometeorologi masih tinggi.
Dua bandara utama Shanghai, yakni Pudong dan Hongqiao, mencatat total 943 penerbangan dibatalkan pada Senin. Otoritas bandara mengumumkan hal tersebut melalui unggahan daring. Sementara itu, layanan kereta api lokal dan transportasi umum di pusat keuangan China itu juga sempat dihentikan. Di sisi lain, Bandara Internasional Ningbo di Zhejiang berencana memulihkan operasional penerbangan mulai tengah hari waktu setempat, tetapi memperingatkan bahwa sejumlah jadwal masih berpotensi tertunda atau dibatalkan karena efek topan "belum sepenuhnya hilang".
Di Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang, layanan kereta bawah tanah kembali beroperasi Senin pagi setelah sempat dihentikan sebagian pada hari sebelumnya. Namun, perhatian kini beralih ke utara China. Lima distrik di Beijing telah mengeluarkan peringatan merah untuk hujan lebat pada Senin, dengan sebagian wilayah berisiko mengalami tanah longsor dan banjir. Ini menandakan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya melanda kawasan pesisir, tetapi juga menjalar ke wilayah yang jarang terdampak topan secara langsung.
Topan Dolphin sendiri telah memicu peringatan level tertinggi selama akhir pekan, yang mengakibatkan lebih dari seribu penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu orang dievakuasi. Kejadian ini terjadi hanya dua pekan setelah Topan Noul menerjang Provinsi Guangdong di selatan China. Saat itu, otoritas setempat menyebut Noul sebagai topan terkuat yang melanda China tahun ini. Sementara itu, pada bulan lalu, Topan Maysak memicu banjir dahsyat di Guangxi yang menewaskan 39 orang, serta badai petir dan angin kencang di Hubei yang menyebabkan 11 kematian dan 331 luka-luka.
Bagi Indonesia, rangkaian cuaca ekstrem di China ini menjadi pengingat akan meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi di kawasan Asia. Meskipun Indonesia tidak berada di jalur topan, perubahan iklim global berdampak pada pola cuaca di seluruh wilayah, termasuk meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor di dalam negeri. Para ilmuwan memperingatkan bahwa intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem akan terus meningkat seiring pemanasan planet akibat emisi bahan bakar fosil. China, sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, berada di bawah tekanan untuk mempercepat transisi energinya, meskipun negara itu juga merupakan kekuatan terbarukan global yang menargetkan ekonomi netral karbon pada 2060.
Pemulihan bertahap di China timur menunjukkan bahwa infrastruktur dan sistem peringatan dini yang makin baik mampu meredam dampak topan. Namun, dengan prediksi cuaca ekstrem yang semakin sering, pertanyaan besarnya adalah: mampukah negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, beradaptasi dengan cepat terhadap ancaman iklim yang kian nyata? Jawabannya akan menentukan ketahanan masyarakat dan ekonomi di masa depan.



