39 Klub dalam 18 Tahun: Kisah Zeph Thomas, Pemain yang Tak Pernah Diam
Baca dalam 60 detik
- Zeph Thomas, pemain berusia 36 tahun, telah berpindah-pindah klub sebanyak 39 kali selama 18 tahun berkarier, mulai dari liga non-liga Inggris hingga klub di Amerika Utara dan Belgia.
- Kariernya yang penuh liku kini berlabuh sebagai pemain-manajer di Dearne & District, klub divisi sembilan yang akan menjalani laga perdana di Piala FA, sebuah pencapaian bersejarah bagi klub desa tersebut.
- Kisah Thomas menjadi cermin bagi pemain muda, terutama di Indonesia, bahwa karier sepak bola tidak selalu linier dan pengalaman di berbagai level bisa menjadi pelajaran berharga.

Setelah 18 tahun berkelana dan 39 kali pindah klub, Zeph Thomas akhirnya menemukan titik henti. Pemain sayap kelahiran Bradford, 36 tahun, yang pernah membela tim nasional St Kitts & Nevis, kini menjalani peran ganda sebagai pemain sekaligus manajer di Dearne & District, klub divisi sembilan Liga Inggris yang berbasis di Goldthorpe, dekat Barnsley. Sabtu ini, klub desa tersebut akan mencatatkan sejarah dengan menjalani laga perdana mereka di Piala FA, sebuah babak baru yang kontras dengan pengalaman Thomas yang nyaris tanpa jeda.
Perjalanan Thomas dimulai dari akademi Rotherham United, tempat ia dibina oleh Mark Robins, mantan penyerang Manchester United. Namun, pada 2008, ia dilepas tanpa pernah tampil di tim utama. Saat itu, Thomas mengaku masih muda dan kurang dewasa. "Saya agak keras kepala dan naif," kenangnya. Ia bahkan sempat menolak sesi pemulihan setelah mencetak gol di laga cadangan, sebuah sikap yang kemudian ia sesali. "Kalau sikap saya waktu itu lebih baik, mungkin saya akan bertahan," tambahnya.
Setelah mimpinya bermain di level tertinggi pupus, Thomas memulai pengembaraan yang luar biasa. Ia tercatat pernah membela klub-klub seperti Rossington Main (lima periode), Mickleover Sports (empat periode), Frickley Athletic (tiga periode), serta klub di Amerika Serikat, Kanada, Skotlandia, dan Belgia. Pada musim 2013-14 saja, ia berganti lima klub: Sheffield, Mickleover Sports, Scarborough Athletic, Matlock Town, dan Goole. Musim berikutnya, ia kembali berpindah-pindah, menunjukkan betapa dinamisnya kariernya di level non-liga.
Di tengah pelariannya, Thomas sempat nyaris berhenti bermain pada 2013 karena cedera pangkal paha. Ia bekerja di pusat panggilan di Rotherham dan sempat berpikir untuk mendaftar tentara sebelum akhirnya mendapat kesempatan di Thunder Bay Chill, Kanada. Pengalaman itu, menurutnya, sangat berharga. "Bermain di berbagai negara adalah pengalaman hebat. Saya bekerja dengan pelatih yang berbeda dengan filosofi yang berbeda," ujarnya. Ia juga pernah berhadapan dengan Jamie Vardy, yang kini menjadi bintang Premier League, saat Vardy masih membela Halifax Town.
- 39 kali pindah klub dalam 18 tahun, termasuk 29 klub berbeda sejak 2008.
- Dearne & District akan memainkan laga perdana di Piala FA setelah promosi dari Northern Counties East League Division One.
- Thomas juga menjabat sebagai pelatih utama tim U-12 Derby County yang menjuarai turnamen Orange Veins Madrid 2025.
Kini, kehidupan Thomas jauh lebih tenang. Ia tinggal hanya lima menit berjalan kaki dari stadion Dearne & District bersama istri dan dua anaknya. Selain tugasnya di klub, ia juga menjadi pelatih utama tim U-12 Derby County. Meski masih terdaftar sebagai pemain, ia lebih memilih fokus melatih dan berbagi pengalaman. "Kadang saya merasa munafik karena dulu saya sering pindah demi uang," akunya. "Sekarang saya bilang ke pemain saya, 'teruslah bekerja keras, uang akan datang'."
Kisah Thomas menyoroti realitas sepak bola di luar sorotan media, di mana banyak pemain harus berjuang keras tanpa jaminan finansial. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi di liga-liga amatir dan divisi bawah, di mana pemain sering berpindah klub demi mencari nafkah atau pengalaman. Perjalanan Thomas bisa menjadi inspirasi bahwa karier sepak bola tidak selalu tentang ketenaran, tetapi juga tentang ketekunan dan adaptasi.
Piala FA, dengan 219 pertandingan babak pendahuluan, memberikan panggung bagi klub-klub kecil seperti Dearne & District untuk bermimpi. Bagi Thomas, laga melawan Runcorn Town bukan sekadar pertandingan, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang penuh liku. Akankah ini menjadi babak akhir dari kisah sang pengelana? Atau justru awal dari babak baru yang lebih stabil? Yang jelas, Thomas telah membuktikan bahwa di sepak bola, tidak ada jalan yang sia-sia.



