Kunjungan Wisatawan Brunei Tembus 400 Ribu, Sektor Kapal Pesiar Melesat Hampir 70 Persen
Baca dalam 60 detik
- Brunei mencatat 400 ribu kunjungan wisatawan pada paruh pertama 2026, tumbuh 7,8 persen dibanding periode sama tahun lalu.
- Kedatangan via laut melonjak hampir 70 persen, menandakan potensi besar segmen cruise tourism bagi ekonomi nasional.
- Penerimaan sektor pariwisata diperkirakan mencapai BND158 juta, mendorong evaluasi efektivitas promosi berbasis data.

Bandar Seri Begawan โ Industri pariwisata Brunei menunjukkan denyut nadi yang semakin kuat. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, negara minyak tersebut mencatat hampir 400 ribu kedatangan wisatawan, atau naik 7,8 persen dibandingkan 370 ribu kunjungan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik; ia menjadi penanda bahwa upaya diversifikasi ekonomi di luar sektor hidrokarbon mulai menuai hasil nyata.
Yang menarik, pertumbuhan paling tajam justru datang dari jalur laut. Kedatangan wisatawan melalui pelabuhan melonjak hampir 70 persen, sebuah sinyal bahwa segmen kapal pesiar atau cruise tourism kini menjadi primadona baru. Fenomena ini tidak hanya menguntungkan operator pelayaran, tetapi juga membuka peluang bagi usaha lokal di kota-kota pesisir Brunei untuk menangkap belanja wisatawan asing.
Data tersebut diungkapkan Menteri Koordinator Kebijakan Ekonomi sekaligus Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Brunei, Datuk Dr Abdul Manaf Metussin, dalam Sidang Kedua Majelis Legislatif ke-22. Ia menjawab pertanyaan anggota legislatif Dr Mahali Momin mengenai indikator yang digunakan untuk mengukur dampak inisiatif promosi pariwisata yang telah dijalankan pemerintah.
Dalam pemaparannya, Abdul Manaf menegaskan bahwa tujuan utama kementeriannya bukanlah mengejar kuantitas kunjungan semata, melainkan meningkatkan nilai ekonomi yang dihasilkan setiap wisatawan. Pada enam bulan pertama 2026, total penerimaan pariwisata diperkirakan mencapai BND158 juta, melonjak dari BND140 juta pada periode yang sama di 2025. "Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi langsung terhadap perekonomian nasional," ujarnya.
Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat catatan menarik. Rata-rata lama menginap wisatawan di hotel justru turun dari sekitar tiga hari menjadi dua hari. Meski demikian, pendapatan hotel naik sekitar 17 persen, dari BND17 juta menjadi BND20 juta. Artinya, meski wisatawan lebih singkat tinggal, belanja mereka per kunjungan cenderung meningkat. Fenomena ini mengindikasikan pergeseran preferensi wisatawan yang lebih memilih pengalaman singkat namun bernilai tinggi, sekaligus menuntut industri perhotelan untuk beradaptasi.
Lebih jauh, Abdul Manaf menjelaskan bahwa kementeriannya terus memantau kinerja subsektor terkait seperti restoran, hotel, dan agen perjalanan sebagai indikator manfaat ekonomi yang mengalir ke usaha lokal. Ia juga menyoroti pentingnya efektivitas investasi promosi. Berkat kerja sama dengan platform digital seperti Agoda, Ctrip, Expedia, dan Tripadvisor, kampanye promosi bersama berhasil menghasilkan lebih dari 52 juta impresi, meningkatkan visibilitas Brunei di pasar internasional. Kampanye tersebut juga memicu lebih dari 1.800 malam kamar terjual dan hampir 600 pemesanan, dengan rincian 63 persen hotel, 31 persen penerbangan, dan 6 persen paket wisata.
Bagi Indonesia, capaian Brunei ini menjadi cermin yang menarik. Di tengah persaingan ketat pariwisata regional, negara tetangga dengan populasi kecil mampu menunjukkan pertumbuhan signifikan berkat strategi promosi yang terukur dan berbasis data. Pelajaran yang bisa dipetik adalah pentingnya kolaborasi dengan platform digital global serta fokus pada peningkatan nilai belanja wisatawan, bukan hanya jumlah kunjungan. Indonesia dengan potensi bahari yang jauh lebih besar seharusnya dapat mengoptimalkan segmen cruise tourism yang tengah naik daun ini.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah Brunei mampu mempertahankan momentum ini, terutama dengan tren lama menginap yang menurun. Akankah pemerintah Brunei berinvestasi lebih besar pada atraksi dan fasilitas untuk memperpanjang durasi tinggal wisatawan? Atau justru akan menggenjot segmen kapal pesiar yang terbukti paling cepat tumbuh? Jawabannya akan menentukan apakah pariwisata benar-benar menjadi pilar ekonomi baru yang berkelanjutan bagi Brunei, sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi negara-negara tetangga termasuk Indonesia.



