Meta Divonis Bayar Rp9 Triliun di New Mexico: Ganti Rugi dan Aturan Ketat untuk Lindungi Remaja
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan New Mexico menjatuhkan hukuman kepada Meta senilai US$567 juta atas tuduhan merancang platform yang adiktif bagi remaja.
- Vonis ini mewajibkan Meta memberlakukan pembatasan penggunaan Facebook dan Instagram bagi pengguna muda, termasuk batas waktu bulanan dan kontrol notifikasi.
- Keputusan ini menjadi preseden bagi negara bagian lain dan berpotensi memicu perubahan kebijakan global, termasuk di Indonesia.

Pengadilan negara bagian New Mexico, Amerika Serikat, menjatuhkan vonis bersejarah kepada Meta Platforms Inc. pada Kamis (6/8) dengan memerintahkan perusahaan teknologi raksasa itu membayar denda sebesar US$567 juta atau sekitar Rp9 triliun. Lebih dari sekadar sanksi finansial, putusan ini juga memaksa Meta untuk mengubah secara fundamental cara kerja platform Facebook dan Instagram bagi pengguna remaja di negara bagian tersebut, menyusul temuan bahwa perusahaan telah menciptakan gangguan publik dengan merancang produk yang adiktif dan gagal melindungi anak-anak dari eksploitasi seksual.
Hakim Bryan Biedscheid di Santa Fe memenangkan gugatan yang diajukan Jaksa Agung New Mexico, Raรบl Torrez, seorang Demokrat. Dalam putusannya, hakim menyatakan Meta telah melanggar hukum negara bagian dengan menciptakan lingkungan digital yang membahayakan kesehatan mental generasi muda. Torrez sebelumnya menuduh Meta secara sengaja mendesain algoritma untuk membuat pengguna muda kecanduan, serta mengabaikan laporan pelecehan seksual terhadap anak di platformnya.
Vonis ini merupakan fase kedua dari gugatan yang diajukan negara bagian. Sebelumnya, pada Maret lalu, juri telah memutuskan Meta melanggar undang-undang perlindungan konsumen karena salah mengomunikasikan tingkat keamanan platformnya bagi pengguna muda, dan memerintahkan pembayaran ganti rugi sebesar US$375 juta. Fase kedua yang diputuskan tanpa juri ini berfokus pada apakah platform Meta menciptakan 'public nuisance' atau gangguan publik, dan setelah tiga minggu mendengarkan kesaksian, hakim memutuskan demikian.
Sebagai bagian dari dekrit yang berlaku lima tahun ke depan, Meta diwajibkan memberlakukan sejumlah langkah perlindungan anak yang ketat. Di antaranya adalah pembatasan bulanan durasi penggunaan Facebook dan Instagram untuk remaja, pembatasan notifikasi, kontrol yang lebih ketat terhadap kontak orang dewasa dengan anak di bawah umur, perlindungan khusus untuk chatbot AI, serta peningkatan peninjauan laporan pelecehan seksual anak. Langkah-langkah ini dirancang untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman bagi kelompok usia rentan.
Menanggapi putusan tersebut, Meta menyatakan akan mengajukan banding. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menegaskan komitmennya dalam melindungi remaja secara daring dan akan terus membela diri terhadap tuduhan yang dianggapnya tidak sesuai fakta. "Kami tetap yakin dengan rekam jejak kami dalam melindungi remaja di dunia maya dan akan terus membela diri terhadap klaim yang salah menggambarkan fakta," demikian bunyi pernyataan Meta.
Keputusan ini menjadi sorotan di Amerika Serikat karena banyak negara bagian, kota, dan distrik sekolah yang tengah mengajukan tuntutan serupa terhadap Meta dan platform media sosial lainnya. Mereka berupaya memaksa perubahan di tingkat industri untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif media sosial. Para pengamat menilai putusan ini dapat menjadi katalis bagi gelombang regulasi baru yang lebih ketat terhadap perusahaan teknologi besar.
Bagi Indonesia, putusan ini memberikan sinyal penting. Dengan jumlah pengguna media sosial yang sangat besar, terutama di kalangan remaja, isu perlindungan anak di ruang digital menjadi semakin relevan. Pemerintah Indonesia sendiri telah berupaya mengatur konten digital melalui berbagai regulasi, namun kasus New Mexico menunjukkan bahwa tekanan hukum dapat menjadi instrumen efektif untuk memaksa perubahan perilaku korporasi. Apakah Indonesia akan mengambil langkah serupa? Atau justru menunggu kebijakan global yang lebih terkoordinasi? Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi para pemangku kebijakan di Tanah Air.
Ke depan, banding yang diajukan Meta akan menjadi ujian bagi kekuatan hukum negara bagian dalam mengatur platform digital. Jika putusan ini dikuatkan, bukan tidak mungkin negara bagian lain akan mengikuti jejak New Mexico dengan tuntutan yang lebih besar. Di sisi lain, Meta dan perusahaan teknologi lainnya mungkin akan semakin agresif dalam melobi pemerintah federal untuk menciptakan standar nasional yang lebih seragam. Skenario apa pun yang terjadi, satu hal yang pasti: era di mana platform media sosial beroperasi tanpa pengawasan ketat terhadap dampaknya pada anak-anak telah berakhir.



