Prabowo Canangkan Investasi Besar di Pendidikan: Renovasi Total Sekolah hingga Beasiswa ke Kampus Top Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah berkomitmen merehabilitasi seluruh gedung sekolah dan mendirikan Sekolah Garuda berstandar internasional di berbagai daerah.
- Kerja sama dengan 24 universitas elite Inggris (Russell Group) menjadi jalur baru untuk mempercepat transfer keilmuan dan membuka peluang studi ke luar negeri.
- Pengakuan atas rendahnya belanja riset nasional menjadi sinyal pergeseran prioritas anggaran negara ke arah inovasi jangka panjang.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menggelontorkan investasi besar-besaran di sektor pendidikan, sebuah langkah yang ia yakini menjadi fondasi utama bagi kemampuan bangsa berinovasi dan melahirkan terobosan di masa depan. Pernyataan ini disampaikan di hadapan 150 ilmuwan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (6/8/2026).
Di hadapan para peneliti, Prabowo memaparkan dua program prioritas: renovasi menyeluruh seluruh bangunan sekolah di Indonesia dan pembangunan sekolah-sekolah unggulan yang diberi nama Sekolah Garuda. Sekolah Garuda akan mengadopsi kurikulum International Baccalaureate (IB), standar yang digunakan sekolah-sekolah terbaik dunia, dengan target lulusannya mampu diterima di universitas-universitas ternama global.
โUntuk mencapai tingkat inovasi, untuk mencapai tingkat terobosan, untuk mencapai tingkat penemuan-penemuan, paten-paten dan sebagainya, itu dasarnya pendidikan. Dan inilah, saya ingin investasi cukup besar di bidang pendidikan untuk generasi penerus kita,โ ujar Prabowo dalam pertemuan yang juga dihadiri jajaran pimpinan BRIN.
Selain membenahi infrastruktur dan kurikulum, pemerintah juga membuka jalur kolaborasi dengan perguruan tinggi kelas dunia. Prabowo mengungkapkan telah merintis kerja sama dengan Russell Group, konsorsium yang menaungi 24 universitas riset terkemuka di Inggris. Melalui skema ini, universitas-universitas Indonesia diharapkan dapat bermitra langsung dengan institusi seperti Oxford dan Cambridge untuk riset bersama, pertukaran dosen, serta program gelar ganda.
Langkah ini dinilai sebagai jawaban atas kritik lama mengenai rendahnya kualitas riset dan daya saing akademik Indonesia di kancah global. Dengan membuka akses ke jaringan akademik internasional, pemerintah berharap terjadi percepatan transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas peneliti lokal.
Prabowo juga menyoroti rendahnya alokasi anggaran untuk riset dan pengembangan (litbang) di Indonesia. Ia mengakui bahwa investasi di bidang ini masih sangat minim dan perlu dikoreksi. โKita koreksi diri kita sebagai bangsa, investasi kita di bidang research and development sangat sedikit, jauh dari yang seharusnya. Ini koreksi kita ya, dan juga ke depan kita akan berusaha memperbaiki itu,โ katanya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan janji sebelumnya untuk menaikkan anggaran riset nasional, yang selama ini kerap menjadi keluhan para akademisi dan peneliti. Meski belum merinci angka pasti, sinyal ini diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas penelitian dan inovasi yang berdampak pada daya saing industri nasional.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki arti strategis. Pendidikan dan riset adalah kunci untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah dan mengejar ketertinggalan teknologi. Dengan adanya sekolah berstandar internasional dan kemitraan global, diharapkan lahir generasi yang mampu bersaing di tingkat dunia.
Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana pemerintah memastikan pemerataan akses dan kualitas, mengingat pembangunan sekolah unggulan yang selektif berpotensi menciptakan kesenjangan baru. Apakah investasi ini akan benar-benar menyentuh seluruh lapisan masyarakat, atau justru hanya menjadi proyek prestise yang menguntungkan segelintir orang? Waktu yang akan menjawab.



