London Resmi Ajukan Diri Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Atletik 2029, Target Raup Rp8,5 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Konsorsium Athletic Ventures menyerahkan dokumen final ke World Athletics untuk menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Atletik 2029 di London Stadium.
- Event ini diproyeksikan menyuntikkan lebih dari £400 juta ke ekonomi Inggris, termasuk dari sektor pariwisata dan partisipasi massal.
- Keputusan tuan rumah akan diumumkan September 2024, dengan London bersaing ketat melawan kota-kota lain yang juga mengincar ajang tersebut.

London resmi memasukkan namanya dalam perebutan tuan rumah Kejuaraan Dunia Atletik 2029. Konsorsium yang menaungi ajang tersebut menargetkan dampak ekonomi hingga lebih dari £400 juta atau setara Rp8,5 triliun, sebuah sinyal ambisi besar kota ini untuk kembali menjadi pusat perhatian olahraga global.
Dokumen penawaran final telah diserahkan ke World Athletics pada Kamis (6/8) waktu setempat oleh Athletic Ventures, sebuah perusahaan patungan yang menggabungkan UK Athletics, London Marathon Events, dan Great Run Company. Jika terpilih, London Stadium—yang pernah menjadi saksi Olimpiade 2012 dan Kejuaraan Dunia Atletik 2017—akan kembali menjadi panggung bagi para atlet dunia.
Kepala Eksekutif UK Athletics, Jack Buckner, menyebut penawaran ini sebagai bagian dari rencana jangka panjang warisan Olimpiade Inggris. "Kami senang telah mencapai kesepakatan dengan London Stadium dan West Ham United untuk penggunaan stadion tersebut," ujarnya. Kerja sama dengan klub sepak bola West Ham United menjadi kunci, mengingat stadion tersebut adalah markas mereka sejak 2016.
Paul Foster, CEO Great Run Company, menambahkan bahwa London memiliki rekam jejak yang solid dalam menyelenggarakan event atletik besar, mulai dari Olimpiade, Kejuaraan Dunia, London Marathon, hingga meeting Diamond League. "Ini adalah penawaran yang luar biasa," tegasnya. Sementara itu, Hugh Brasher dari London Marathon Events menggarisbawahi bahwa kejuaraan ini tidak hanya akan mendatangkan keuntungan finansial, tetapi juga akan diiringi dengan event partisipasi massal di seluruh Inggris, yang diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam olahraga lari.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi di sektor olahraga. Meski Indonesia belum berada di level yang sama dalam hal infrastruktur atletik, tren global menunjukkan bahwa event olahraga besar mampu menjadi katalis pertumbuhan ekonomi. Pelajaran yang bisa diambil adalah bagaimana kolaborasi antara federasi, sektor swasta, dan pemerintah dapat menciptakan ekosistem olahraga yang berkelanjutan, seperti yang dilakukan London melalui Athletic Ventures.
Persaingan untuk menjadi tuan rumah 2029 dipastikan ketat. Beberapa kota lain, seperti Nairobi dan Tokyo, juga dikabarkan tertarik. Namun, London memiliki keunggulan historis dan infrastruktur yang sudah teruji. Jika berhasil, ini akan menjadi kali ketiga Inggris menjadi tuan rumah kejuaraan dunia atletik, setelah 2005 dan 2017.
World Athletics dijadwalkan mengumumkan kota pemenang pada September mendatang. Pertanyaannya, apakah London mampu mengulang sukses 2017 yang saat itu berhasil menarik ratusan ribu penonton dan atlet dari seluruh dunia? Atau justru ada kejutan dari kota lain yang lebih agresif dalam penawaran? Kita tunggu saja.



