Prabowo Tegaskan Kepemimpinan Berbasis Fakta: BRIN Jadi Garda Depan Inovasi Nasional
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan 150 peneliti BRIN di Istana, menekankan pentingnya kebijakan yang didasarkan pada data dan realitas, bukan asumsi.
- Prabowo mengkritik budaya mencari kambing hitam dan mengajak introspeksi, dengan contoh kegagalan Indonesia lolos Piala Dunia sebagai bahan evaluasi.
- Pernyataan ini menegaskan arah pemerintahan yang pro-riset, dengan BRIN sebagai motor utama untuk mendorong kemajuan sains dan teknologi nasional.

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka menyatakan komitmennya untuk memimpin pemerintahan yang berlandaskan fakta dan realitas, bukan sekadar asumsi atau optimisme semu. Pernyataan itu disampaikan di hadapan sekitar 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pertemuan di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis. Arahan ini bukan sekadar retorika; ia menegaskan bahwa keberanian menghadapi kondisi riil adalah prasyarat untuk menyelesaikan persoalan bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo secara eksplisit mengajak jajarannya untuk tidak lari dari kenyataan yang tidak menyenangkan. "Kalau saya memimpin, saya sukanya itu memimpin dengan fakta, facts, realita, dengan keadaan yang sebenarnya," ujarnya. Ia menilai bahwa fakta yang pahit sekalipun harus dijadikan dasar evaluasi dan perbaikan, bukan dihindari. Sikap ini menjadi penanda penting bagi arah kebijakan pemerintah ke depan, terutama dalam hal pengambilan keputusan yang berbasis data.
Sebagai ilustrasi konkret, Prabowo menyoroti kegagalan Indonesia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia sepak bola, meskipun memiliki populasi terbesar keempat di dunia. Baginya, kondisi ini adalah cermin yang harus diterima dengan lapang dada. "Ini yang harus kita introspeksi, harus kita lihat. Tidak ada gunanya kita mengeluh menurut saya," tegasnya. Ia juga mengingatkan agar setiap persoalan tidak disikapi dengan mencari kambing hitam, melainkan dengan mempelajari akar masalah dan mengadopsi praktik terbaik dari negara lain.
Lebih jauh, Prabowo menggarisbawahi bahwa penguasaan sains dan teknologi adalah fondasi utama kemajuan sebuah bangsa. "Jadi bangsa yang mampu menguasai sains dan teknologi, bangsa itu akan maju dengan pesat. Kuncinya adalah sains dan teknologi. Ini adalah fakta dan kenyataan," katanya. Pernyataan ini menegaskan peran strategis BRIN sebagai lembaga riset yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi-inovasi yang tidak hanya memperkuat basis kebijakan, tetapi juga menjawab persoalan nasional yang mendesak.
Bagi Indonesia, arahan ini memiliki implikasi luas. Di tengah tekanan global untuk berinovasi, pemerintah yang berbasis fakta dapat mempercepat transformasi di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan. Namun, tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa data yang digunakan benar-benar akurat dan tidak dimanipulasi untuk kepentingan politik sesaat. Para pengamat menilai bahwa komitmen ini harus diikuti dengan penguatan kapasitas institusi riset dan anggaran yang memadai.
"Jangan mengeluh, jangan mencari kambing hitam, karena itu tidak akan membantu. Sekarang belajar bagaimana kenapa kok bisa negara itu masuk. Apa yang dilakukan? Pelatihnya dari mana? Guru-gurunya dari mana? Jadi kita cari penyebabnya apa. Baru kita harus berani berbuat." โ Presiden Prabowo Subianto di hadapan periset BRIN.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana arahan ini akan diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret. Apakah BRIN akan diberi ruang lebih luas untuk memengaruhi perencanaan pembangunan? Atau apakah ini hanya menjadi seremonial belaka? Publik tentu berharap bahwa semangat berbasis fakta ini tidak berhenti pada pidato, tetapi menjadi budaya birokrasi yang melekat. Jika konsisten, Indonesia bisa berharap pada lompatan kemajuan yang selama ini terhambat oleh kebiasaan mengambil keputusan berdasarkan intuisi atau kepentingan jangka pendek.



