Mohamed Salah Pilih Trabzonspor: Eropa Tetap Prioritas di Tengah Godaan Arab Saudi
Baca dalam 60 detik
- Salah menandatangani kontrak dua tahun dengan Trabzonspor, menolak tawaran finansial lebih besar dari klub Saudi dan MLS demi bertahan di kompetisi Eropa.
- Kepindahan ini menegaskan daya tarik Super Lig yang kian kompetitif, dengan belanja transfer bersih tertinggi ketiga dunia musim lalu.
- Bagi Trabzonspor, kehadiran Salah menjadi magnet komersial dan sepak bola, sekaligus ujian ambisi mereka di pentas Eropa.

Mohamed Salah akhirnya menentukan pelabuhan baru setelah kontraknya di Liverpool berakhir: Trabzonspor. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat selama berbulan-bulan nama pemain asal Mesir itu lebih santer dikaitkan dengan tawaran menggiurkan dari klub-klub Arab Saudi dan Amerika Serikat. Namun, dengan meneken kontrak hingga Juni 2028, Salah memilih tetap berlaga di Eropa, sebuah sinyal bahwa ambisi kompetitifnya belum padam meski usianya telah menginjak 34 tahun.
Pilihan ini tidak semata-mata soal uang. Klub-klub Saudi seperti Al-Ittihad telah lama memburu Salah, sementara Sporting Kansas City dari MLS juga dikabarkan serius ingin membawanya ke Amerika. Kedua destinasi itu bisa memberinya pendapatan jauh lebih besar. Namun, laporan dari Turki menyebut gaji yang diterima Salah di Trabzonspor sekitar £7,3 juta per musim—angka yang berada di bawah potensi pendapatannya di Saudi. Faktor penentu tampaknya adalah keinginan untuk terus tampil di kompetisi antarklub Eropa, sesuatu yang tidak bisa ditawarkan liga-liga di luar benua biru.
Trabzonspor sendiri bukanlah nama asing di kancah sepak bola Turki. Klub yang bermarkas di wilayah Laut Hitam ini adalah juara liga tujuh kali, dengan gelar terakhir diraih pada musim 2021-22. Musim lalu mereka finis ketiga di Super Lig dan akan berlaga di play-off Liga Europa bulan ini. Bagi Salah, yang membawa Mesir ke fase gugur Piala Dunia 2026 dengan torehan satu gol dan dua assist dalam lima penampilan, kesempatan untuk terus bersaing di level Eropa menjadi nilai jual utama.
Keputusan ini juga menjadi bukti lain dari kebangkitan sepak bola Turki. Super Lig kini dihuni sejumlah nama besar seperti Victor Osimhen, Leroy Sane, Ilkay Gundogan, hingga Leandro Trossard. Bahkan, pada bursa transfer musim panas lalu, liga ini mencatat belanja transfer bersih tertinggi ketiga di dunia, hanya kalah dari Premier League dan Saudi Pro League. Fenomena ini didukung oleh struktur ekonomi yang unik: klub-klub Turki memperoleh pendapatan dalam euro dari kompetisi UEFA, sementara biaya operasional domestik masih dalam lira, yang nilainya tergerus inflasi tinggi—memberi ruang fiskal yang lebih longgar.
Bagi Trabzonspor, kedatangan Salah bukan hanya soal kualitas di lapangan. Ia langsung menjadi pemain termahal dan paling terkenal dalam sejarah klub. Ratusan suporter menyambutnya dengan antusias saat ia tiba, dan ia sempat mengenakan nomor 61 sebagai penghormatan pada kode registrasi kendaraan kota Trabzon—angka yang sakral bagi pendukung setia. Untuk musim 2026-27, ia akan memakai nomor 10, setelah rekan setimnya Ernest Muci rela melepas nomor tersebut sebagai bentuk penghormatan.
Ekspektasi terhadap Salah di Trabzonspor sangat tinggi. Pelatih Fatih Tekke diperkirakan akan membangun serangan di sekelilingnya, dengan formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3 yang memungkinkan Salah menempati posisi sayap kanan favoritnya—memotong ke dalam dengan kaki kiri yang mematikan. Debut kompetitifnya bisa terjadi pada 15 Agustus saat Trabzonspor bertandang ke markas Kasimpasa. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah Salah mampu mengangkat level permainan Trabzonspor di Eropa, mengingat klub-klub Turki jarang melaju jauh di kompetisi antarklub UEFA sejak Galatasaray menjuarai Piala UEFA 2000?
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kepindahan ini menarik untuk dicermati. Super Lig semakin menjadi tujuan favorit pemain bintang yang ingin memperpanjang karier di Eropa, sekaligus menawarkan atmosfer suporter yang fanatik. Kehadiran Salah akan meningkatkan daya tarik liga ini secara global, termasuk di Asia Tenggara. Bisa jadi, laga-laga Trabzonspor akan semakin banyak disiarkan di Indonesia, mengingat basis penggemar Liverpool yang besar di tanah air. Ini juga menjadi sinyal bahwa kompetisi di luar lima liga top Eropa mulai mampu bersaing dalam perebutan talenta kelas dunia.
Ryan Jack, mantan gelandang Rangers yang kini bermain di Turki, menilai langkah Salah akan membuka mata banyak pemain lain. "Liga ini semakin kuat setiap tahunnya, dan semakin banyak nama besar yang bergabung. Salah mungkin nama terbesar yang pindah ke Turki dalam beberapa tahun terakhir. Ini menunjukkan liga sedang tumbuh dan bisa meyakinkan pemain top lain untuk mempertimbangkan bermain di sini," ujarnya kepada BBC Sport. Jack juga menekankan keramahan klub-klub Turki dalam membantu pemain asing beradaptasi, sebuah faktor yang kerap diabaikan.
Namun, di balik euforia, ada catatan realistis. Opta menempatkan Super Lig di peringkat ke-14 liga domestik terkuat di dunia, di bawah liga Denmark, Polandia, bahkan Championship Inggris. Sejak 2000, hanya satu klub Turki yang berhasil menembus semifinal kompetisi utama UEFA. Artinya, meski bergelimang bintang, kesenjangan dengan liga top Eropa masih lebar. Bagi Salah, ini adalah kompromi: ia tetap bermain di Eropa, tetapi dengan tantangan yang berbeda. Akankah ia mampu membawa Trabzonspor menembus batas sejarah itu? Atau justru ini menjadi babak pamungkas yang manis bagi karier gemilangnya?



