Rekayasa Lalin Stasiun Kota: Uji Kesabaran Warga Jakarta demi MRT Fase 2
Baca dalam 60 detik
- Dishub DKI mulai menerapkan pengalihan arus di kawasan Stasiun Kota dan Glodok untuk mendukung konstruksi MRT Fase 2 yang digarap PT Hutama Karya.
- Tahapan rekayasa berlangsung hingga pertengahan 2027 dengan sejumlah penutupan akses, termasuk Jalan Kemurnian VI dan area Hotel Novotel.
- Pengguna jalan diminta mematuhi rambu baru dan memanfaatkan rute alternatif; proyek ini menjadi ujian manajemen mobilitas perkotaan di tengah pembangunan infrastruktur besar.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta mulai memberlakukan pengalihan arus lalu lintas di sekitar Stasiun Kota dan Glodok seiring dimulainya konstruksi MRT Fase 2 paket CP203. Langkah ini diambil untuk menjaga kelancaran mobilitas di salah satu kawasan tersibuk ibu kota, sekaligus mengakomodasi pekerjaan pembangunan terowongan yang digarap PT Hutama Karya.
Kepala Dishub DKI Jakarta, Budi Awaluddin, menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas akan berlangsung bertahap dan disesuaikan dengan progres proyek. Periode terpanjang terjadi di area Stasiun Kota dan Simpang Asemka, yakni mulai 10 Agustus 2026 hingga 15 Januari 2027. Sementara itu, di Jalan Pintu Besar Selatan, arus kendaraan dari utara ke selatan akan dialihkan ke sisi barat hingga Simpang Asemka, dengan akses khusus bagi bus Transjakarta dan kendaraan menuju bangunan di sisi timur.
Rekayasa ini bukan sekadar pengalihan biasa. Di Simpang Asemka, pengendara dari barat ke timur maupun sebaliknya akan melewati lajur sisi utara area proyek dengan penyesuaian geometrik jalan. Sementara di Stasiun Glodok, sistem contra flow dari Jalan Gajah Mada dialihkan ke sebagian Jalan Hayam Wuruk karena pergeseran area kerja ke sisi barat. Akses ke gedung-gedung di sisi barat tetap disediakan satu lajur, namun dengan pengaturan buka-tutup yang dinamis.
Budi merinci tahapan rekayasa dalam beberapa stage. Stage 4.1 (10 Agustus โ 9 September 2026) menerapkan contra flow di Jalan Hayam Wuruk. Stage 4.2 (10 September โ 9 Oktober 2026) menutup akses Jalan Kemurnian VI untuk pembangunan pintu masuk stasiun, dengan pengalihan melalui kawasan Hotel Novotel. Stage 4.3 (10 Oktober 2026 โ 17 Mei 2027) membuka kembali Jalan Kemurnian VI, namun menutup akses Hotel Novotel; akses menuju Maxim, Jhony Steak, dan Klinik JMB dialihkan melalui Jalan Kemurnian VI dengan sistem buka-tutup.
Bagi warga Jakarta, terutama yang beraktivitas di kawasan Kota Tua dan Glodok, rekayasa ini menuntut adaptasi cepat. Para pengendara disarankan mencari rute alternatif, mematuhi rambu sementara, dan mengutamakan keselamatan. Dishub DKI juga menegaskan bahwa pelaksana proyek bertanggung jawab penuh atas keamanan pengguna jalan selama pekerjaan berlangsung.
โDishub DKI mengimbau pengguna jalan untuk mengandalkan rute alternatif, mematuhi rambu dan petunjuk petugas di lapangan, serta mengutamakan keselamatan,โ ujar Budi Awaluddin.
Proyek MRT Fase 2 ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas jaringan transportasi massal di Jakarta. Namun, di balik manfaat jangka panjangnya, warga harus rela menghadapi kemacetan dan gangguan akses selama lebih dari satu tahun. Pertanyaannya, apakah manajemen lalu lintas yang diterapkan mampu meminimalkan dampak negatif dan menjaga ritme ekonomi kawasan yang terdampak? Hanya evaluasi berkala dan koordinasi ketat antara Dishub, kontraktor, dan masyarakat yang akan menjawabnya.



