Panglima Udara Indonesia dan Australia Terbang Bersama di Langit Darwin: Sinyal Penguatan Poros Indo-Pasifik
Baca dalam 60 detik
- KSAU Marsekal Tonny Harjono dan CAF RAAF Air Marshal Stephen Chappell melakukan formation flight di Darwin, Australia, sebagai bagian dari Exercise Pitch Black 2026.
- Manuver bersama ini menegaskan komitmen interoperabilitas TNI AU dan RAAF dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik di tengah rivalitas kekuatan besar.
- Latihan multinasional yang berlangsung hingga 7 Agustus 2026 ini menjadi ajang uji kemampuan tempur dan diplomasi pertahanan Indonesia di panggung global.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono dan Kepala Staf Angkatan Udara Australia (CAF RAAF) Air Marshal Stephen Chappell bersama-sama menerbangkan pesawat tempur dalam formasi di langit Darwin, Australia, Selasa (4/8). Momen langka ini terjadi di sela-sela latihan gabungan multinasional Exercise Pitch Black 2026, yang berlangsung sejak 20 Juli hingga 7 Agustus 2026.
Dalam formasi tersebut, Tonny mengendalikan pesawat latih tempur T-50i Golden Eagle yang diawaki Komandan Skadron Udara 15, Letkol Pnb Kurniadi Sukmo Djatmiko, sementara Chappell mengoperasikan jet tempur F/A-18 Hornet. Aksi ini bukan sekadar seremonial; ia menjadi simbol nyata dari kedekatan operasional kedua angkatan udara yang telah dibangun melalui berbagai latihan bersama selama bertahun-tahun.
Tonny menegaskan bahwa penerbangan formasi ini merupakan bentuk komitmen untuk memperkuat interoperabilitas dan kemitraan strategis, sekaligus kontribusi konkret dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan Indo-Pasifik. "Formation flight adalah simbol sederhana yang memiliki makna kuat bagi hubungan kedua angkatan udara," ujarnya dalam siaran pers TNI AU, Rabu (5/8).
Latihan Pitch Black 2026 sendiri merupakan salah satu agenda pertahanan terbesar di kawasan, diikuti oleh puluhan negara. Indonesia mengirimkan empat unit T-50i dan satu pesawat angkut C-130 Hercules, yang diberangkatkan dari Lanud El Tari Kupang pada 16 Juli lalu. Komandan Lanud El Tari, Marsma TNI Somad, menyebut keikutsertaan ini sebagai bagian dari penguatan kerja sama dan peningkatan kapabilitas bersama antarangkatan udara peserta.
Bagi Indonesia, latihan ini memiliki nilai strategis ganda. Di satu sisi, ini adalah ajang untuk menguji kesiapan tempur dan prosedur operasi standar penerbang TNI AU di lingkungan multinasional. Di sisi lain, kehadiran KSAU secara langsung di kokpit mengirim pesan politik-pertahanan yang jelas: Indonesia serius memainkan peran aktif dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan China.
Interoperabilitas yang ditunjukkan melalui manuver bersama ini juga menjadi modal penting bagi operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana di kawasan, di mana koordinasi antarnegara sering kali menjadi penentu efektivitas. Semakin sering TNI AU berlatih dengan mitra seperti Australia, semakin cepat pula respons bersama dalam situasi darurat.
Ke depan, publik akan mencermati apakah momentum ini akan diikuti dengan penguatan kerja sama teknis, seperti transfer teknologi atau latihan bersama yang lebih kompleks. Dengan dinamika geopolitik yang terus berubah, satu pertanyaan layak diajukan: sejauh mana Indonesia akan memperdalam aliansi operasionalnya dengan Australia tanpa mengorbankan kebijakan luar negeri bebas-aktif yang selama ini dijunjung?



