Rp300 Miliar untuk Pedestrian Deck Dukuh Atas: Integrasi Transportasi Jakarta Mengarah ke Satu Titik
Baca dalam 60 detik
- PT MRT mengalokasikan dana lebih dari Rp300 miliar untuk membangun jembatan pejalan kaki melingkar di Dukuh Atas, yang akan menjadi pusat transit terpadu bagi lima moda transportasi.
- Proyek ini dibiayai dari investasi internal dan pinjaman, bukan dari APBD DKI, sehingga tidak membebani anggaran daerah dan menunjukkan komitmen swasta dalam infrastruktur publik.
- Dengan target rampung 2028, fasilitas ini diharapkan mempercepat perpindahan penumpang antar moda dan mendorong pertumbuhan kawasan berorientasi transit (TOD) di jantung Jakarta.

Jakarta โ PT MRT Jakarta menegaskan komitmennya memperkuat simpul transportasi publik ibu kota dengan mengucurkan investasi lebih dari Rp300 miliar untuk membangun pedestrian deck di kawasan Dukuh Atas. Infrastruktur berbentuk lingkaran ini dirancang sebagai jembatan penghubung antar moda yang akan menjadi ikon baru di koridor Sudirman, sekaligus menjawab kebutuhan integrasi yang selama ini menjadi keluhan utama pengguna transportasi harian.
Kepala Divisi Program Management Office PT MRT, Agus Trihan, mengungkapkan bahwa proyek ini masih dalam tahap tender. Namun, ia memastikan pendanaan tidak akan menyentuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Sebagian dana berasal dari suntikan investasi yang diterima perseroan, sebagian lagi dari pinjaman. Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga kesehatan fiskal daerah sambil tetap mengakselerasi pembangunan infrastruktur strategis.
Pedestrian deck ini bukan sekadar jembatan penyeberangan biasa. Dengan diameter sekitar 118 meter dan lebar 12 meter, struktur tersebut akan menjadi titik transit yang menghubungkan MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodetabek, KRL Commuter Line, Transjakarta, hingga kereta bandara. Desainnya yang melingkar memungkinkan pergerakan pejalan kaki yang lebih efisien, sekaligus menyediakan ruang komersial yang diharapkan dapat menghidupkan kawasan sekitar.
Menariknya, proyek ini tidak memerlukan pembebasan lahan. Agus menjelaskan bahwa pembangunan akan dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak-pihak yang terhubung langsung dengan area tersebut. Nilai investasi yang disebutkan murni untuk konstruksi, tanpa biaya pengadaan tanah. Hal ini tentu mempercepat proses dan mengurangi potensi konflik lahan yang kerap menjadi momok proyek infrastruktur di perkotaan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah meresmikan dimulainya proyek ini melalui peletakan batu pertama pada awal Agustus lalu. Ia menargetkan infrastruktur tersebut selesai pada 2028. Pramono optimistis keberadaan pedestrian deck akan menghidupkan kembali kereta bandara yang selama ini kurang diminati, karena integrasi yang lebih mulus akan memudahkan calon penumpang. โSaya yakin pasti nanti kereta bandara akan hidup, terintegrasi secara keseluruhan, dan city check-in,โ ujarnya.
Dari sisi teknis, pedestrian deck ini dirancang mampu menahan beban hingga 500 kilogram per meter persegi, memastikan keamanan bagi ribuan pejalan kaki yang diperkirakan melintas setiap harinya. Di sisi utara dan selatan, akan ada pelebaran hingga tujuh meter yang difungsikan sebagai area berhenti dan menikmati panorama kota. Selain itu, direncanakan pula galeri sejarah yang akan menambah nilai edukatif bagi pengunjung.
Bagi warga Jakarta, proyek ini membawa angin segar. Selama ini, perpindahan antar moda di Dukuh Atas seringkali memakan waktu dan tenaga karena jarak yang cukup jauh dan kurangnya fasilitas pejalan kaki yang nyaman. Dengan adanya jembatan melingkar ini, waktu tempuh perpindahan diharapkan berkurang signifikan, sehingga mendorong lebih banyak orang beralih ke transportasi publik. Hal ini sejalan dengan target pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara di ibu kota.
Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apakah proyek sebesar ini akan selesai tepat waktu dan sesuai anggaran? Pengalaman proyek infrastruktur lain di Indonesia seringkali dihantui pembengkakan biaya dan keterlambatan. PT MRT sendiri memiliki rekam jejak yang relatif baik dalam pengelolaan proyek, tetapi tantangan di lapangan selalu ada. Selain itu, integrasi dengan kereta bandara yang diharapkan hidup kembali juga membutuhkan dukungan kebijakan lain, seperti penyesuaian tarif dan jadwal yang terkoordinasi.
Ke depan, keberhasilan pedestrian deck Dukuh Atas akan menjadi uji nyata bagi konsep transit-oriented development (TOD) di Indonesia. Jika berhasil, bukan tidak mungkin model serupa akan direplikasi di kawasan-kawasan padat lainnya, seperti Blok M atau Kota Tua. Namun, jika gagal, hal ini akan menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya perencanaan yang matang dan eksekusi yang disiplin. Publik tentu berharap agar proyek ini tidak hanya menjadi ikon fisik, tetapi juga benar-benar berfungsi optimal dalam melayani kebutuhan mobilitas warga.



