Pramono Putuskan Stasiun LRT Pegangsaan 2 Kembali Bernama Kelapa Gading, Ini Alasannya
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta membatalkan penggantian nama Stasiun LRT Pegangsaan 2 menjadi Kelapa Gading, seiring rencana penamaan stasiun baru dengan 'Proklamasi'.
- Keputusan ini diambil untuk menghindari kebingungan publik, sekaligus mengakomodasi identitas kewilayahan Kelapa Gading yang selama ini melekat.
- Rute LRT Kelapa Gading–Manggarai yang ditargetkan beroperasi Agustus mendatang diproyeksikan mengangkut 80 ribu penumpang per hari.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memutuskan untuk mengembalikan nama Stasiun LRT Pegangsaan 2 menjadi Kelapa Gading, membatalkan rencana penggantian yang sempat memicu polemik di kalangan warga. Keputusan ini diumumkan di Balai Kota Jakarta, Rabu, seiring dengan rencana pemberian nama 'Proklamasi' pada salah satu stasiun lain di jalur yang sama.
Menurut Pramono, langkah ini diambil untuk menghindari kebingungan di kalangan calon penumpang. "Akan ada stasiun yang namanya Proklamasi supaya tidak membingungkan, sehingga namanya tetap menjadi Kelapa Gading karena memang tempatnya ada di Kelapa Gading," ujarnya. Dengan demikian, identitas kewilayahan yang sudah mengakar di masyarakat tetap dipertahankan, sementara penghormatan terhadap nilai sejarah tetap diwadahi melalui penamaan stasiun lain.
Keputusan ini menarik karena sebelumnya sempat beredar wacana penggantian nama Stasiun Pegangsaan 2 menjadi Kelapa Gading, yang kemudian memicu reaksi beragam. Sebagian warga menilai perubahan itu menghilangkan identitas historis Pegangsaan, sementara yang lain justru mendukung karena lebih mencerminkan lokasi geografis. Dengan adanya stasiun baru yang akan dinamai Proklamasi, pemerintah daerah memilih solusi yang dianggap lebih akomodatif.
Stasiun LRT Kelapa Gading sendiri merupakan bagian dari koridor LRT Jakarta yang membentang dari Kelapa Gading hingga Manggarai. Rute sepanjang 12,2 kilometer ini akan dilayani oleh 11 stasiun dan ditargetkan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 28 menit. Pramono menambahkan, perjalanan dari Manggarai ke Dukuh Atas hanya memakan waktu dua menit, sehingga total waktu tempuh dari Kelapa Gading ke Dukuh Atas diperkirakan kurang dari 30 menit.
Pramono meyakini koridor ini akan menjadi tulang punggung baru transportasi publik Jakarta. "Karena diperkirakan hariannya akan mampu menampung atau mengangkut kurang lebih 80 ribu penumpang," katanya. Angka ini menunjukkan optimisme pemerintah daerah terhadap perpindahan moda dari kendaraan pribadi ke transportasi massal, sejalan dengan upaya mengurangi kemacetan dan polusi udara di ibu kota.
Rute LRT Kelapa Gading–Manggarai ditargetkan rampung pada Agustus mendatang dan rencananya akan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto. "Mengenai tanggalnya, mudah-mudahan pada bulan Agustus, dan memang betul saya sudah meminta untuk diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto," ungkap Pramono. Peresmian oleh kepala negara menandakan pentingnya proyek ini dalam skala nasional, sekaligus menjadi tolok ukur komitmen pemerintah dalam membangun infrastruktur perkotaan.
Bagi warga Jakarta, kehadiran LRT ini bukan sekadar moda transportasi baru, tetapi juga harapan akan mobilitas yang lebih efisien dan terjangkau. Dengan tarif yang kompetitif dan integrasi antarmoda, LRT diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor. Namun, tantangan tetap ada, seperti memastikan konektivitas dengan moda lain dan menjaga frekuensi layanan agar sesuai dengan kebutuhan penumpang.
Ke depan, publik akan menantikan apakah target operasi Agustus dapat terpenuhi dan bagaimana integrasi dengan jaringan transportasi lain, seperti MRT dan TransJakarta, akan diwujudkan. Akankah LRT Kelapa Gading–Manggarai menjadi solusi kemacetan yang selama ini dinantikan, atau justru menambah daftar proyek yang molor? Hanya waktu yang akan menjawab, namun keputusan penamaan stasiun ini setidaknya telah meredakan salah satu sumber kebingungan di tengah euforia pembangunan infrastruktur.



