Pramono Anung Restui Hujan Buatan Dua Kali Sepekan: Antisipasi El Nino Terpanjang
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta menyetujui operasi modifikasi cuaca rutin setiap minggu sebagai respons atas prediksi El Nino yang lebih parah dari 2023.
- Langkah ini menyasar tiga risiko utama: kebakaran permukiman, lonjakan ISPA, dan krisis air bersih di tengah kemarau berkepanjangan.
- BMKG memperingatkan El Nino bisa menguat hingga kategori sangat kuat, memperpanjang musim kering di sebagian besar wilayah Indonesia.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberi lampu hijau bagi pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) hingga dua kali dalam sepekan, sebagai benteng pertahanan menghadapi El Nino yang diprediksi menjadi salah satu yang terpanjang dalam sejarah. Keputusan ini diumumkan di Balai Kota Jakarta, Rabu (26/8), menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa fenomena iklim global itu telah mencapai kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.
Pramono mengungkapkan bahwa puncak El Nino tahun ini diperkirakan lebih panjang dibandingkan periode 2023. "Saya sudah memberikan persetujuan kalau bisa setiap minggu satu dua kali, kalau memang awannya ada, dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca," ujarnya. Namun, ia juga mengakui tantangan utama: ketersediaan awan yang menjadi bahan baku hujan buatan sangat terbatas di musim kemarau. Meski demikian, perintah telah dikeluarkan dan persiapan teknis tengah berjalan.
Langkah ini bukan sekadar formalitas. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memetakan tiga ancaman utama yang harus dimitigasi: kebakaran permukiman, melonjaknya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan kelangkaan air bersih. Untuk kebakaran, Pramono meminta setiap rukun warga (RW) menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) sejak sekarang, mengingat kondisi udara yang kering membuat titik api mudah menyebar. Sementara untuk ISPA dan air bersih, dinas terkait diminta menyiapkan langkah antisipasi jangka pendek maupun panjang.
BMKG dalam rilis terpisah menegaskan bahwa wilayah di selatan garis khatulistiwa, termasuk Pulau Jawa dan Sumatera bagian selatan, akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis. Hal ini berimplikasi langsung pada sektor pertanian, ketahanan pangan, dan pasokan air baku untuk industri di kawasan tersebut. Bagi Jakarta, ancaman terbesar justru datang dari kebakaran lahan dan kualitas udara yang memburuk, yang kerap memicu gangguan pernapasan di tengah kepadatan penduduk.
Keputusan Pramono sejalan dengan arahan BMKG yang sejak beberapa pekan terakhir gencar melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga ketersediaan air di sejumlah waduk strategis. Namun, efektivitas OMC sangat bergantung pada kondisi meteorologis. Jika awan tidak terbentuk, operasi tidak bisa dilakukan, sehingga pemerintah daerah harus memiliki rencana cadangan yang matang. Para pengamat menilai langkah ini tetap positif, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya andalan dalam menghadapi krisis iklim yang semakin tidak menentu.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah seberapa siap infrastruktur dan masyarakat Jakarta menghadapi kemarau yang lebih ekstrem dari tahun-tahun sebelumnya. Apakah modifikasi cuaca dua kali sepekan cukup untuk menekan risiko kebakaran dan menjaga pasokan air? Atau apakah diperlukan investasi lebih besar pada sistem penyimpanan air dan edukasi publik? Jawabannya akan menentukan seberapa tangguh ibu kota dalam melewati musim kering yang diprediksi menjadi ujian terbesar dalam satu dekade terakhir.



