Persaingan Masuk SD Negeri di Singapura Makin Ketat: 79 Sekolah Kelebihan Pendaftar
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 79 dari 179 sekolah dasar di Singapura kelebihan pendaftar pada fase 2C, dengan 73 di antaranya harus melakukan undian.
- Princess Elizabeth Primary School menjadi sekolah paling diminati dengan 159 pelamar untuk 40 kursi, diikuti Northland Primary School.
- Kementerian Pendidikan Singapura telah memangkas 1.460 kursi untuk 2026 sebagai antisipasi penurunan jumlah siswa, yang berpotensi memicu persaingan lebih ketat.

Sebanyak 79 dari 179 sekolah dasar di Singapura mencatat kelebihan pendaftar pada fase 2C dalam pelaksanaan pendaftaran murid baru (Primary 1) tahun ini. Data yang dirilis Kementerian Pendidikan (MOE) pada Rabu (5/8) menunjukkan bahwa 73 sekolah di antaranya harus melakukan undian karena jumlah pelamar melebihi kursi yang tersedia.
Fase 2C memang dikenal sebagai tahap paling kompetitif karena terbuka untuk semua anak, tanpa memandang jarak tempat tinggal atau status kewarganegaraan. Setiap sekolah menyediakan 40 kursi khusus untuk fase ini, sehingga persaingan kerap kali berlangsung sengit. Kondisi ini tidak hanya menjadi perhatian orang tua di Singapura, tetapi juga relevan bagi keluarga Indonesia yang berencana menyekolahkan anak di negara tersebut.
Princess Elizabeth Primary School di Bukit Batok menjadi sekolah dengan peminat terbanyak, dengan 159 anak memperebutkan 40 kursi. Disusul Northland Primary School di Yishun yang menerima 141 pendaftar untuk 42 tempat. Nan Hua Primary School, Chongfu School, dan Rosyth School melengkapi jajaran lima besar. Menariknya, empat dari lima sekolah tersebut juga masuk daftar teratas pada tahun lalu, menunjukkan tren preferensi yang stabil di kalangan orang tua.
Proses pendaftaran fase ini berlangsung dari 28 Juli pukul 09.00 hingga 30 Juli pukul 16.30. Ketika jumlah pemohon melebihi kapasitas, undian dilakukan dengan prioritas utama diberikan kepada warga negara Singapura yang tinggal dalam radius 1 kilometer dari sekolah, kemudian diikuti jarak yang lebih jauh, dan seterusnya hingga warga negara asing dengan status penduduk tetap (PR).
Fase berikutnya, 2C supplementary, akan menjadi kesempatan terakhir bagi anak yang belum mendapatkan kursi. Informasi ketersediaan kursi akan diperbarui pada 11 Agustus pukul 13.00. Namun, ketatnya persaingan kali ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan MOE yang memangkas jumlah penerimaan di sebagian besar sekolah. Kementerian telah mengurangi total 1.460 kursi untuk tahun ajaran 2026, sebagai respons terhadap penurunan signifikan jumlah anak usia sekolah yang diperkirakan terjadi pada 2027 dan tahun-tahun berikutnya.
Menurut analis pendidikan, langkah ini merupakan upaya preventif untuk menghindari merger atau relokasi sekolah di masa depan, sekaligus menjaga distribusi geografis sekolah dasar yang merata. Namun, dampak langsungnya terasa pada persaingan yang semakin ketat di fase-fase awal pendaftaran. Bagi orang tua, terutama mereka yang tinggal di kawasan padat seperti Bukit Batok dan Yishun, pilihan sekolah semakin terbatas.
Fenomena ini juga menjadi cermin bagi Indonesia, di mana sekolah negeri favorit kerap menghadapi lonjakan pendaftar setiap tahun. Kebijakan zonasi yang diterapkan di Jakarta dan kota-kota besar lain bertujuan mengurangi kesenjangan akses, namun sering kali memicu perdebatan tentang kualitas dan pemerataan. Pengalaman Singapura menunjukkan bahwa meskipun sistemnya terstruktur, persaingan tetap tak terhindarkan ketika jumlah kursi terbatas.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah MOE akan mempertahankan kebijakan pemangkasan ini dalam jangka panjang, atau justru membuka lebih banyak sekolah baru untuk mengakomodasi lonjakan permintaan di wilayah tertentu. Sementara itu, para orang tua di Singapura, termasuk ekspatriat Indonesia, harus semakin cermat dalam menyusun strategi pendaftaran, mengingat peluang undian yang semakin besar.



