Beijing Balas Dendam Dagang: Ekspor Drone ke AS Dibatasi, Enam Perusahaan Amerika Dikenai Sanksi
Baca dalam 60 detik
- China memberlakukan pembatasan ekspor drone dan komponennya ke AS sebagai respons atas tarif baru Washington.
- Enam perusahaan AS, termasuk Applied DNA Sciences dan Stratum Reservoir, masuk daftar hitam karena dianggap mendukung sanksi ilegal terkait Xinjiang.
- Langkah ini mempertegang hubungan dagang kedua negara dan berpotensi memicu eskalasi perang dagang yang berdampak global.

China resmi membatasi pengiriman drone serta komponen dan teknologinya ke Amerika Serikat, sekaligus memasukkan enam perusahaan AS ke dalam daftar hitam. Langkah ini merupakan buntut dari sanksi dagang yang dijatuhkan Washington beberapa hari sebelumnya, dan menandai babak baru dalam ketegangan ekonomi antara dua negara adidaya itu.
Kementerian Perdagangan China, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa tindakan AS telah "secara serius merugikan hak dan kepentingan sah China". Sebagai konsekuensinya, Beijing merasa perlu mengambil langkah balasan yang mencakup penguatan kontrol ekspor untuk drone dan komponen terkait. Selain itu, China juga menghentikan inspeksi lanjutan pabrik oleh lembaga sertifikasi Tiongkok, memasukkan perusahaan pengujian kepatuhan AS ke dalam daftar hitam, serta meluncurkan penyelidikan keamanan nasional atas impor printer dan mesin fotokopi kantor.
Sanksi terhadap enam perusahaan AS, termasuk perusahaan bioteknologi Applied DNA Sciences dan firma riset geosains Stratum Reservoir, melarang organisasi dan individu di China untuk melakukan transaksi atau kerja sama dengan mereka. Kementerian menilai bahwa entitas-entitas ini "telah membantu dan mendukung sanksi ilegal AS terkait Xinjiang; sifat tindakan mereka sangat tercela". Tuduhan ini merujuk pada isu pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Xinjiang yang dituduhkan PBB, namun dibantah keras oleh Beijing.
Langkah balasan ini muncul hanya beberapa hari setelah AS memberlakukan tarif baru terhadap China dan 59 negara lainnya, yang merupakan bagian dari serangkaian kebijakan perdagangan proteksionis. Sebelumnya, Washington juga melarang impor robot humanoid dan quadruped yang diproduksi di luar negeri, yang oleh China dianggap sebagai upaya untuk "menekan" perusahaan-perusahaan Tiongkok. Ketegangan ini mengancam gencatan senjata dagang yang disepakati saat pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Oktober lalu.
Dalam perkembangan terpisah, pejabat perdagangan tertinggi China, He Lifeng, menyampaikan "keprihatinan serius" kepada Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, melalui sambungan telepon. Hal ini dilaporkan oleh kantor berita Xinhua. Sementara itu, Beijing telah memperingatkan Washington agar tidak melancarkan perang dagang yang dapat berdampak luas pada ekonomi global.
Bagi Indonesia, eskalasi perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini membawa implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang bergantung pada perdagangan internasional, Indonesia berpotensi terkena dampak dari gejolak rantai pasok global dan fluktuasi nilai tukar. Di sisi lain, ketegangan ini bisa membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi asing yang mencari alternatif basis produksi, terutama di sektor manufaktur dan teknologi. Namun, ketidakpastian kebijakan perdagangan global juga dapat menghambat ekspor komoditas Indonesia ke pasar AS dan China.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah langkah China ini akan memicu respons lebih lanjut dari AS, atau justru membuka ruang negosiasi. Dengan tarif baru yang sudah dijatuhkan dan ancaman balasan yang mengemuka, stabilitas perdagangan global berada di ujung tanduk. Indonesia, sebagai anggota G20 dan mitra dagang kedua negara, perlu mencermati dinamika ini dan menyiapkan langkah antisipatif untuk melindungi kepentingan ekonominya.



