Malaysia Siap Tempatkan Polisi di Bandara Usai Kopilot MAS Tertangkap Bawa 70 Ribu Ekstasi
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia berencana mengganti polisi bantuan dengan anggota Polis Diraja Malaysia di area bandara untuk memperketat pengawasan keamanan penerbangan.
- Langkah ini dipicu oleh penangkapan kopilot Malaysia Airlines di Indonesia dengan 70.144 butir ekstasi, yang juga menyeret dugaan keterlibatan staf KLIA.
- Kebijakan baru ini berpotensi mengubah prosedur pemeriksaan kru penerbangan dan memperketat kerja sama keamanan udara antarnegara ASEAN.

Pemerintah Malaysia tengah mengkaji langkah strategis menempatkan personel Polis Diraja Malaysia (PDRM) di dalam area bandara, sebuah respons langsung atas tertangkapnya kopilot Malaysia Airlines yang membawa puluhan ribu butir ekstasi di Indonesia. Menteri Komunikasi sekaligus Jubir Pemerintah Malaysia, Fahmi Fadzil, mengungkapkan bahwa pengamanan bandara selama ini hanya mengandalkan polisi bantuan, yang berstatus sipil, sehingga dinilai kurang memadai untuk menangkal penyelundupan narkoba berskala besar.
Wacana ini muncul setelah aparat Bea Cukai Indonesia meringkus oknum kopilot berinisial MSO di Bandara Soekarno-Hatta dengan barang bukti 70.144 butir ekstasi seberat 26 kilogram. Peristiwa itu tidak hanya mengguncang industri penerbangan Malaysia, tetapi juga membuka celah keamanan yang selama ini luput dari pengawasan. Fahmi menegaskan, keputusan final akan diambil setelah pemerintah menerima laporan investigasi menyeluruh dari kepolisian, termasuk kajian atas kemungkinan adanya keterlibatan petugas bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA).
Selama ini, pemeriksaan barang di bandara Malaysia dilakukan oleh petugas imigrasi dengan bantuan polis bantuanโrelawan sipil yang mengenakan seragam mirip polisi namun tanpa kewenangan penuh. Kondisi ini menjadi sorotan tajam karena celah pengawasan yang longgar dapat dimanfaatkan oleh jaringan narkoba internasional. Fahmi menekankan bahwa keamanan penerbangan adalah prioritas, dan penempatan PDRM di area bandara diharapkan dapat menutup celah tersebut secara lebih efektif.
Di sisi lain, otoritas Malaysia juga tengah menyelidiki dugaan keterlibatan staf KLIA yang diduga membantu MSO membawa ekstasi keluar dari Malaysia. Fahmi menegaskan bahwa semua pihak yang terlibat harus diproses hukum, dan langkah perbaikan menyeluruh akan segera diambil. "Kita juga perlu tahu siapa saja yang kemungkinan terlibat. Yang terlibat perlu dihadapkan ke pengadilan dan beberapa tindakan menyeluruh perlu diambil untuk memastikan celah dapat ditutup segera," ujarnya dalam konferensi pers virtual usai rapat kabinet, Rabu.
Selain memperketat keamanan bandara, pemerintah Malaysia mendorong Malaysia Airlines untuk meninjau ulang latar belakang seluruh kru penerbangan, termasuk memperbaiki protokol pemeriksaan kesehatan pilot dan kopilot. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah penyalahgunaan wewenang oleh oknum kru yang bisa membahayakan keselamatan penerbangan dan citra maskapai nasional.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya penguatan koordinasi keamanan lintas negara, terutama di bandara-bandara internasional yang menjadi pintu masuk utama narkoba. Keberhasilan Bea Cukai Indonesia menggagalkan penyelundupan ini menunjukkan efektivitas pengawasan, namun juga menyoroti perlunya peningkatan kerja sama intelijen dengan negara tetangga. Dengan adanya rencana penempatan polisi di bandara Malaysia, diharapkan rantai pasok narkoba dari Malaysia ke Indonesia dapat diputus lebih dini.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Malaysia merealisasikan kebijakan ini dan apakah langkah serupa akan diadopsi oleh negara-negara ASEAN lainnya. Keamanan penerbangan regional menjadi taruhan, dan kasus MSO bisa menjadi momentum untuk reformasi menyeluruh di sektor aviasi dan pengawasan perbatasan.



