Peringatan Korban Korea di Hiroshima: 2.826 Nama Diabadikan, Bayang-Bayang Sejarah Kolonial
Baca dalam 60 detik
- Registri baru memuat 2.826 nama korban Korea, dua di antaranya adalah penyintas yang meninggal setahun terakhir.
- Peristiwa ini menegaskan kembali penderitaan sekitar 70.000 warga Korea yang menjadi korban bom atom, sebagian besar akibat mobilisasi masa perang.
- Peringatan tahunan ini menjadi pengingat akan kompleksitas sejarah Asia Timur dan pentingnya rekonsiliasi, relevan bagi Indonesia dalam konteks kemanusiaan.

Hiroshima, Jepang โ Sebuah upacara berkabung untuk mengenang warga Korea yang menjadi korban bom atom 1945 digelar di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima, sehari menjelang peringatan 79 tahun tragedi kemanusiaan tersebut. Dalam seremoni itu, panitia meresmikan buku registri baru yang memuat 2.826 nama, termasuk dua penyintas yang meninggal dunia dalam setahun terakhir.
Peristiwa ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia membuka kembali luka sejarah panjang penjajahan Jepang atas Semenanjung Korea (1910โ1945) yang memaksa ribuan warga Korea datang ke Jepang sebagai pekerja paksa atau mencari peruntungan ekonomi di tengah kekurangan tenaga kerja masa perang. Saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945, banyak dari mereka berada di kota-kota tersebut.
Data yang dihimpun organisasi penyintas memperkirakan sekitar 70.000 warga Korea terpapar radiasi bom. Dari jumlah itu, sekitar 40.000 orang diyakini tewas seketika atau dalam waktu singkat, meski angka pastinya tak pernah bisa dipastikan. Ketidakjelasan data ini menjadi kritik tersendiri bagi pemerintah Jepang yang dinilai lamban mengakui penderitaan korban non-Jepang.
Bagi Indonesia, peristiwa ini memiliki resonansi tersendiri. Meski tidak terlibat langsung dalam Perang Dunia II, semangat anti-kekerasan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia yang diusung peringatan Hiroshima sejalan dengan komitmen konstitusi Indonesia. Lebih dari itu, kisah para korban Korea mengingatkan bahwa tragedi kemanusiaan sering kali menimpa kelompok rentan yang tak punya daya, sebuah pelajaran yang relevan bagi upaya perdamaian di kawasan Asia Tenggara yang masih diwarnai konflik.
Para pengamat menilai, peringatan tahun ini menjadi momentum bagi Jepang untuk merefleksikan masa lalunya yang kelam. Meski pemerintah Jepang telah menyatakan penyesalan atas penderitaan perang, pengakuan khusus terhadap korban Korea masih dianggap setengah hati oleh banyak kalangan. Organisasi korban Korea di Jepang terus mendesak agar nama-nama korban yang belum teridentifikasi dapat dilacak dan diakui secara resmi.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah Jepang berani membuka arsip lengkap dan memberikan kompensasi yang adil bagi seluruh korban, tanpa memandang kebangsaan? Atau sejarah akan terus meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh? Jawabannya menentukan apakah peringatan ini benar-benar menjadi langkah rekonsiliasi, atau sekadar seremoni tahunan yang kehilangan makna.



